
Rencana awal, Safir akan mengajak Queen untuk tinggal dikediaman Arjuno sampai 7 harian. Tapi hari ini sudah hari ke 3 mereka berdua di sana. Dan hari ini, Safir mengajak Queen untuk pindah ke apartemen yang memang sudah ia dapatkan.
Setiap malam bersama dengan Queen didalam kamar, sungguh menyiksa perasaan Safir. Memangnya lelaki mana yang tidak tertarik dengan perempuan yang disukai. Apalagi saat berduaan didalam kamar. Belum lagi mereka tidur diranjang yang sama.
Semua rasa yang Safir inginkan, terkalahkan dengan rasa takut akan sesuatu hal yang menurut Safir akan kembali terjadi. Padahal tubuh Safir selalu bereaksi. Apalagi, Queen terkadang tidak sengaja menyentuh dirinya. Kalau saja Safir tidak takut akan rasanya gagal terkait hubungan ranjang, mungkin sudah setiap berduaan, waktu Queen akan Safir sita.
"Kenapa cepat sekali sih Fir pindah ke apartemennya?" prote Zantisya.
Meskipun Zantisya tahu kalau layaknya pengantin baru atau semua pasangan yang sudah berumah tangga, pasti inginkan berumah sendiri dan terus berduaan. Tapi tetap saja, rasanya Zantisya belum cukup puas bersama dengan Queen di rumah ini.
"Dek," ucap Arjuno pelan, sambil menyenggol tangan Zantisya. Berharap sang istri memahami dan mendukung apapun keputusan anak mereka.
"Kami juga hanya tinggal diapartemen, Bun. Nanti satu minggu sekali pasti kami usahakan untuk datang ke sini," ucap Safir.
Queen hanya pasrah saja saat kemarin Safir sudah mengatakan padanya kalau hari ini mereka akan pindah. Merasa senang karena kalau berduaan di apartemen, perkiraan Queen dirinya akan lebih bebas mengekspresikan diri dimana pun dan kapan pun. Tapi ada sedihnya juga karena Queen tidak bisa menjahili Arfan setiap saat lagi.
Semua barang pribadi Safir dan Queen sudah masuk kedalam bagasi mobil. Setelah berpamitan, keduanya segera meninggalkan kediaman orang tua Safir tersebut.
Baru saja mobil keluar dari gerbang utama, Queen terus memperhatikan mobil yang dikemudikan Safir ini. Queen tahu dari Zantisya, kalau mobil ini Safir beli setelah menikah dengan Divya.
'Cinta banget kamu sama Kak Di ya? Kok sekarang aku jadi merasa bersalah dan seperti orang ketiga kalau seperti ini,' gumam hati Queen.
Tapi Queen berusaha menghilangkan semua pikirannya saat ini. Yang dulu ya sudah biarkan semuanya berlalu dan menjadi kenangan. Lagi pula, baru saja Divya meninggal. Queen jelas tidak bisa menuntut Safir untuk langsung menatap ke arahnya saja.
__ADS_1
"Kamu kapan beli mobil ini?" tanya Queen hanya berbasa-basi.
"Setelah aku dan Di menikah," jawab Safir hanya sekenannya saja.
"Aku lihat, mobil yang dulu kamu beli masih ada digarasi rumah Ayah. Kenapa enggak kamu gunakan lagi? Sepertinya mobil itu enggak rusak juga," tanya Queen penasaran. Karena setahunya, mobil itu yang mengurus adalah sopir. Itu juga hanya dipanaskan saja dan hanya sekali Queen melihat sopir menggunakan mobil Safir untuk keliling perumahan.
"Tidak apa-apa."
Saat mobil berhenti karena rambu lalu lintas, Queen menurunkan kaca mobil dan membeli jambu air bungkusan kala melihat pedagang keliling. Hal seperti ini memang sering Queen lakukan. Iya akan membeli dagangan yang sekiranya bisa Queen manfaatkan atau Queen nikmati.
"Mau Mas?" tawar Queen setelah membersihkan bagian dalam jambu air. Bahkan kini tangan Queen sudah mendekati bibir Safir. Seolah Queen memaksa Safir agar melahap suapan jambu air.
"Kita tidak sedang ada di rumah. Jadi panggil aku seperti biasanya saja," ucap Safir setelah itu ia mengambil jambu dan melahap jambu air tersebut.
"Maaf, kalau panggilan aku udah buat kamu enggak nyaman."
"Saran Bunda ada baiknya kok. Jadi aku enggak masalah. Lagian, aku juga harus hargai kamu kan?"
Obrolan Safir dan Queen hanya cukup sampai di sini. Karena setelah ini, Safir memilih fokus mengemudikan mobil. Hingga keduanya sudah sampai di apartemen tujuan.
"Apa apartemen ini dekat dengan kantor kamu, Mas?"
Tangan Safir yang sedang menyeret dua koper semakin erat mencengkram. "Dekat."
__ADS_1
Setelah memasuki apartemen yang sudah Safir sewa, Safir menyingkirkan koper bawaannya.
"Di sini ada dua kamar tidur. Kamu silahkan pilih kamar yang mana."
"Hah!" Queen yang masih melihat kesetiap sudut ruangan apartemen, langsung menatap Safir lagi. "Kita pisah kamar ya?"
"Iya. Maaf, bukan aku bermaksud apa-apa. Aku hanya ..."
"Ide bagus," ucap Queen cepat dan ia juga memberikan senyuman manisnya. Meski Queen sedikit kecewa, tapi Queen paham kalau Safir butuh waktu untuk menerima dirinya. "Aku juga awalnya inginkan kamar terpisah, kok. Agar kita lebih nyaman dulu dengan hubungan ysng baru ini. "Kamarnya ada disebelah mana saja?"
Sungguh, Safir merasa bersalah. Karena sekali lagi, dirinya merasa telah menyakiti Queen. Tapi mau dipaksakan juga, Safir memang belum percaya diri untuk mengakui semuanya dan mengungkap apa yang terjadi pada dirinya.
"Diatas, ada satu kamar. Dan dibawah ..."
"Aku mau yang diatas bolehkan?" potong Queen yang langsung memilih.
"Tentu saja boleh."
Queen tersenyum senang. Kalau Safir yang menggunakan kamar diatas, itu akan membuat Queen terbatas bertemu dengan Safir. Dan dirinya kesulitan mencari alasan jika harus keatas.
'Sabar Queen. Semuanya butuh proses.'
"Oh ya, Mas. Apa peralatan dapurnya sudah lengkap?"
__ADS_1
"Aku rasa sudah."
"Setelah ini kita pergi ke swalayan ya. Kita beli sayuran."