
Awal pembahasan yang sedang ingin Safir selesaikan adalah kedekatan antara Divya dengan Dafa. Tapi kini Safir merasa kalau Divya justru menyerang dirinya dengan Queen. Hal yang tidak bisa Safir abaikan.
Safir jelas terkejut, bahkan degup jantungnya sudah sulit untuk dikendalikan karena terlalu tidak memahami Divya saat ini. Karena kini Divya jelas sedang mengungkap diri kalau selama ini Divya tahu bahwa Queen mencintai dirinya, begitu juga sebaliknya.
"Ok! Mari kita saling jujur saja. Daripada kita akhirnya hanya akan saling menyakiiti karena memiliki tuduhan kita masing-masing," sebisa mungkin Safir tetap tenang meskipun sekarang Safir ingin sekali marah.
Divya terkekeh dan menatap Safir dengan begitu sinis. "Besok paginya, bahkan aku juga tahu kalau Ruby pergi ke ruagan CCTV untuk menghapus jejak rekaman kamu dan Queen. Sungguh saudara kembar yang sangat kompak. Apakah karena kamu adiknya dan Queen adalah sahabatnya? Bahkan aku juga curiga kalau semua orang disana terlibat antara hubungan Queen dengan kamu."
"Ok! Aku mengaku salah soal malam itu. Tapi perlu aku perjelas, Di. Aku dan Queen tidak memiliki hubungan tertentu kecuali persahabatan kami. Aku sadar diri dan sadar posisi kalau aku tidak patut mengungkapkan isi hatiku."
"Dasar naif. Padahal kalau memang diantar kalian tidak ada hubungan apa-apa, untuk apa kalian justru bersembunyi. Bahkan Queen juga sudah berani bertingkah diluar batasannya."
"Tunggu dulu, Di. Kamu Kakaknya Queen. Kenapa bisa kamu memperlakukan adik kamu sendiri seperti ini? Kamu juga mempermainkan hubungan pernikahan kita?"
"Bukankah yang mempermainkan hubungan ini adalah kamu juga? Jangan salahkan aku sendiri. Salah kamu juga kenapa tetap melanjutkan pernikahan kita setelah kamu sadar dengan perasaanmu. Aku melakukan semuanya karena kamu yang memberikan jalan padaku, Fir."
"Hah!" Safir syok karena dirinya jadi di manfaatkan sejak lama. Entah apa yang merasuki jiwa Divya sebenarnya.
"Masih ingat saat kamu melamarku di Jakarta dulu? Bukankah aku sudah mengatakan kalau perkiraanku, kamu itu memiliki hubungan khusud dengan Queen. Tapi kamu sendiri yang berkata tidak dan menganggap Queen sebagai sahabat. Tentu aku bisa dengan mudah melanjutkan tujuanku. Sekarang aku ingin tahu, sejak kapan kamu sadar dengan perasaanmu sendiri?" tuntut Divya ingin tahu.
"Itu tidak penting."
__ADS_1
"Jawab!" sentak Divya yang ingin tahu. "Sudah aku katakan kalau malam ini kita buka-bukaan saja."
"Saat akan ijab Qabul."
"Lalu kenapa kamu tidak membatalkan semuanya? Bukanah itu artinya kamu sudah memiliki jalan untuk menyelamatkan diri? Tapi kamu justru mempermudah tujuanku lagi."
"Aku melakukan itu karena aku sudah membuat janji dengan Mama kalau aku akan tanggung jawab atas hidup kamu, Di. Lagi pula mana mungkin aku menggagalkan acara yang sudah di depan mata. Itu hanya akan membuat malu kedua kelauraga kita. Situasinya juga sangat rumit, jadi aku memilih jalan ini," ungkap Safir pelan. "Selain itu aku berpikir kalau aku sudah menyakiti Queen. Mana mungkin aku juga mau menyakiti kamu yang aku kira kamu mencintai aku."
Divya menunduk dan terkekeh lagi. "Kamu menikahiku karena tidak ingin malu. anggap saja kita sudah impas, Fir."
"Aku tidak masalah jika kamu memanfaatkan aku karena aku memang tidak bisa membedakan rasa cinta dan juga persahabatan. Aku tidak masalah karena kamu adalah pilihanku sejak awal. Hanya saja, kenapa kamu mengorbankan diri kamu sejauh ini, Di? Kamu memang berhasil memanfaatkan aku, tapi kamu sudah melukai diri kamu sendiri. Apa yang kamu dapatkan dari ini semua. Bagaimana mungkin kamu membiarkan tubuh kamu di sentuh lelaki yang kamu ketahui tidak sepenuh hati sama kamu. Kenapa kamu justru melukai diri kamu sejauh itu?"
"Kenapa kamu justru bertanya tenta persaanku, dari pada orang yang sebenarnya kamu cintai?"
"Aku memang ingin tahu, tapi masalahnya Queen tidak tahu kalau Kakak yang sangat dia sayangi sebenarnya tahu tentang perasaannya. Itu hanya akan membuatnya terluka juga. Tapi sekarang yang ada di depanku itu kamu. Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaanmu setelah menggadaikan perasaanmu sendiri. Apa kamu bahagia dengan cara seperti ini?"
Divya hanya bisa mengepalkan tangannya erat. Baru saja dirinya akan terhanyut dengan perhatian Safir, tapi nyatanya tidak semudah itu.
"Aku akan melakukan apapun agar Queen tahu bagaimana rasanya sakit hati saat melihat lelaki yang dia cinta menyukai perempuan lain."
Ungkapan yang kini menguak fakta sebenarnya. Safir jalas terkejut kalau Divya memiliki dendam tersendiri pada Queen. Bisa-bisanya hubungan yang selama ini terlihat penuh kasih dan cinta tapi justru Divya memendam rasa dendam tersendiri.
__ADS_1
"Memangnya Queen sudah merebut siapa dari kamu, Di?"
"Dia sudah rebut Fahmi dari aku," ungkap Divya. Untuk pertama kalinya Divya mengungkap hal yang selama ini Divya simpan seorang diri. Bahkan Lusi maupun Santi tidak mengetahui akan hal ini. Mereka berdua hanya tahunya kalau Divya pernah memiliki rasa pada Fahmi.
Safir kembali berpikir. Mengingat kembali reaksi wajah Queen saat mereka bertemu hari itu. Queen nampak biasa saja. Artinya kemungkinan besar Queen tidak mengetahui tentang hal ini.
"Apa Queen pernah menerima Fahmi?"
"Tidak. Karena aku melarangnya untuk mendekati Queen."
Safir jadi memperkirakan, entah perkataan apa yang sudah Divya ucapkan pada Fahmi, sampai Fahmi menurut dengan ucapan Divya.
"Kalau seperti itu, bukan salah Queen kalau Fahmi tidak menyukai kamu, Di. Astaghfirullah, sadar Di, sadar," sentak Safir karena tidak habis pikir dengan pola pikir Divya. "Kamu sudah membalas dendam dengan adik kandung kamu sendiri yang sebenarnya tidak tahu apapun. Dan kamu sudah menamanfaatkan aku padahal aku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kamu."
"Sudah jelas kamu ada sangkut pautnya dalam hal ini karena kamu yang di sukai Queen sejak dulu hingga sekarang ini. Bagaimana rasanya Fir? Sakitkan tidak bisa bersama dengan orang yang kamu sukai. Itulah yang aku rasakan selama ini."
"Kenapa kamu begitu mengerikan seperti ini, Di?" tanya Safir yang masih belum percaya dengan sosok Divya yang ada di depannya ini. "Kenapa bisa kamu jadi setega itu, padahal kami semua tahunya kamu sangat menyayangi adik kamu sendiri."
Rasanya Safir belum percaya dengan sosok Divya yang sebenarnya. Bukankah aneh jika hanya karena lelaki Divya sampai memiliki dendam pribadi dengan adiknya sendiri.
"Aku tidak suka dengan Queen. Kenapa semuanya selalu berkaitan dengan Queen. Mama, Papa, Oma, Opa, dan Om serta semua keluarga selalu membanggakan Queen. Padahal ada aku yang di sekeliling mereka, bukan hanya Queen saja. Tapi kenapa selalu Queen yang mendapatkan perhatian dari semua orang?"
__ADS_1