Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 171 Jangan Pergi


__ADS_3

Setelah selesai saling bicara dengan Vian, Queen segera melanjutkan pekerjaannya. Membereskan semua pakaiannya karena Queen sudah siap untuk meninggalkan apartemen ini.


Begitu sudah selesai, Queen segera membawa kopernya untuk turun. Baru saja dirinya sampai lantai bawah, langkah kaki Queen terhenti karena rasanya begitu berat. Walau masih baru ia tinggal di sini dengan Safir, tapi waktu dua hari juga sudah membekas kenangan akan tingkahnya yang selalu menjahili Safir.


Queen hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sudah yakin untuk memutuskan pergi. Ini adalah harapan terakhir Queen. Mungkin saja dengan Queen pergi, maka Safir akan merasa kehilangan dirinya. Atau minimal merasa bersalah karena pernikahan mereka adalah amanah dari Divya. Semoga saja.


Baru saja Queen ingin menarik kopernya, tapi kini dirinya harus merogoh ponselnya yang bergetar. Mengetahui kalau itu adalah Ruby, maka Queen berusaha mengabaikan panggilan suara dari sahabatnya tersebut. Begitu Queen akan membuka pintu apartemen, Queen kembali melihat ponselnya yang bergetar lagi.


"Apa ada yang penting?" gumam Queen. Tanpa pikir panjang lagi, Queen segera menerima panggilan suara dari Ruby. "Halo, Mai."


Setelah saling bicara dengan Safir, yang Ruby lakukan justru hanya berdiam diri. Otaknya terus dipenuhi oleh nama Queen dan Safir. Awalnya Ruby berniat abai dan membiarkan adiknya itu menyelesaikan sendiri urusan rumah tangganya. Tapi kenapa sekarang, hal itu seperti beban untuk Ruby sendiri. Hingga kini, Ruby memilih menghubungi sahabatnya.


"Halo, Queen. Kenapa suara kamu serak seperti ini?" tanya Ruby sambil mengganti panggilan suara mereka menjadi panggilan video.


Queen jelas ragu untuk menerima perubahan hubungan panggilan mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Akan sangat mengundang banyak pertanyaan jika Queen tidak segera menerima.

__ADS_1


"Kenapa Mai?" tanya Queen kemudian tersenyum. Ia sangat berharap matanya tidak terlihat seperti usai menangis. Karena saat ini Queen tidak menggunakan riasan wajah sama sekali.


"Kamu habis nangis? Ada apa?" tanya Ruby yang menjadi khawatir.


"Enggak ada apa-apa kok. Ada apa kamu telpon aku?" tanya Queen yang ingin mengalihkan perhatian Ruby.


"Kamu bertengkar sama Safir? Bilang sama aku, Queen."


Dipaksa seperti ini, bagaimana mungkin Queen tidak kembali menangis. "Aku takut kalau Safir ceraikan aku, Mai. Aku harus apa sebenarnya, agar dia melihat aku. Aku mau jadi sahabatnya, selamanya dan seumur hidup kami. Tapi aku juga ingin menjadi istrinya. Sekarang ..."


"Saat kalian saling bicara tadi, aku mendengar semuanya."


"Dan kamu tidak mendengarkan semua pembicaraan kami sampai selesai?"


"Untuk apa? Safir saja tidak langsung menjawab saat mendapatkan pertanyaan kamu. Aku enggak bisa mendengar semua itu dari Safir. Sudah ya, Mai. Aku mau pergi. Tolong jangan bilang Safir kalau aku memutusakna seperti ini. Karena ..."

__ADS_1


"Safir cinta sama kamu, Queen," ucap Ruby cepat agar Queen tidak melanjutkan keputusannya. Ruby tahu, ia tidak berhak mendahului Safir. Tapi Ruby sendiri juga ragu kalau Safir tidak akan mengutarakan perasaannya secepat ini.


"Apa?"


"Safir cinta sama kamu Queen. Kamu adalah seseorang yang menjadi jawabannya setelah mencari petunjuk. Tolong jangan pergi."


*


"Queen ..."


Begitu sampai apartemen, Safir langsung berteriak memanggil nama istrinya. Biasanya saat sore seperti ini, Queen berada didalam kamar.


"Queen ..." panggilnya lagi setelah membuka kamar sang istri.


Maaf ya kalau aku irit update. soalnya aku fokus disebelah 😊 note : aku penulis matre🤭

__ADS_1


__ADS_2