Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 122 Musibah


__ADS_3

"Eh, sudah datang sejak tadi ya makanannya?" tanya Queen yang baru saja datang. Queen yang memang sudah sangat lapar, memilih segera duduk untuk segera makan.


"Belum ada 10 menitan. Maaf ya, karena aku sudah sangat lapar jadi aku makan duluan."


"Tidak masalah," ucap Queen santai.


Queen membaca doa. Kemudian ia meneguh minuman air mineral terlebih dahulu sebelum menikmati makananya. Tidak ingin pikir-pikir lagi, Queen mulai menikmati makanannya. Karena tidak ingin terlalu lama dengan Aris, maka Queen sesegera mungkin menghabiskan makanan di depannya.


Sebenarnya Queen merasa tidak nyaman. Apalagi sesekali Aris sesekali mengajaknya mengobrol. Membuat Queen menanggapi sekedarnya saja.


Sedangkan Aris sejak tadi memperhatikan Queen. Hatinya mulai resah karena Queen belum juga menyesap minuman segar. Aris jadi berpikir takut kalau mungkin saja rencananya akan gagal. Tapi, Aris langsung tersenyum samar saat Queen mulai meneguk minuman yang sangat menyegarkan tersebut.


'Akhirnya,' gumam hati Aris bangga. 'Ayo habiskan Queen. Biar obatnya bekerja dengan maksimal,' harapan hati Aris yang terus memperhatikan Queen.


Queen sadar, kalau sejak tadi Aris terus mencuri pandang ke arahnya. Entah kenapa suasana diri Queen menjadi tidak enak sendiri. Dirinya dengan cepat menghabiskan makannya agar Queen bisa segera kembali ke kamar.


Belum sampai makanan di piring Queen habis, Queen sudah mulai merasakan pusing. Queen kembali meneguk minuman segarnya. Berharap rasa yang tiba-tba mendera Queen segera menghilang. Setidaknya biarkan Queen sampai selesai makan dulu.


Menyadari kalau obatnya sudah bereaksi, Aris segera menghabiskan makannya. Seolah itu semua akan menjadi sumber energi Aris nantinya. "Queen, maaf ya. Aku bayar makanku dulu," ucapnya berpamitan.


"Iya silahkan."


Karena Aris sudah beranjak, Queen juga memilih beranjak. Apalagi kepalaanya semakin lama semakin pusing.

__ADS_1


'Aku kenapa sih?' gumam hati Queen sambil jalan sempoyongan.


"Mbak kenapa? Perlu bantuan?" tanya salah satu petugas restoran.


"Tidak apa-apa, Mbak. Hanya pusing sedikit. Terima kasih ya."


Rasa pusing terasa semakin menyiksa kepala Queen. Sekalipun ia jalan sudah terlihat jelas sempoyongan, tapi sebisa mungkin Queen berdiri tetap tegak agar tidak ada orang yang menduga kalau sekarang dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Sedangkan Aris yang masih menyelesaikan tagihannya, Aris terus memperhatikan Queen yang masih menuju lift. Setelah selesai, Aris segera lari agar dirinya bisa satu lift bersama dengan Queen.


"Kamu kenapa?" tanya Aris setelah mereka memasuki lift.


Queen sendiri terkejt karena kini Aris sudah memasuki lift bersama dengan dirinya. "Tidak apa-apa. Kamu ada di lantai berapa?"


"Aku di lantai 4."


Satu persatu penumpang lift yang menuju naik, sudah mulai keluar dari lift. Sampai pada akhirnya pintu lift terbuka, tanda sampai di lantai 4. Begitu Queen keluar, Aris juga ikut keluar. Sengaja Aris membaut jarak tapi tetap mengkuti Queen. Perasaan Aris masih tidak enak karena masih ada petugas kebersihan. Tapi belum sampai Queen memasuki kamar, petugas tersebut menuju lorong kamar lainnya. Aris segera lari saat Queen membuka pintu kamar.


"Agh," teriak Queen yang terkejut karena tubuhnya terdorong tiba-tiba. "A-aris," ucap Queen gugup. Tapi sekarang penglihatan Queen sudah mulai tidak jelas. Tapi Queen yakin kalai itu adalah Aris. "Mau ngapain kamu kesini?"


Sebisa mungkin Queen mengumpulkan kesadarannya. Padahal sejak tadi Queen berharap akan langsung tidur begitu masuk kamar. Queen pikir, dirinya pusing karena saat pulang kuliah Queen masih kurang istirahat. Tapi kini Queen jadi mencurigai sesuatu.


"Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu tidak mau memberiku kesempatan satu kali saja. Aku cinta sama kamu, Queen," ungkap Aris yang ingin sekali memiliki Queen sejak dulu hingga sekarang. Perasaan menggebu Aris seolah menyiksa diri.

__ADS_1


Queen meremas kepalanya. Rasa pusing sudah semakin mendera dirinya. Tapi Queen harus bisa bertahan karena posisinya sedang tidak aman.


"Sudah aku katakan berulang kali sama kamu, Aris. Aku tidak bisa membalas kamu ataupun menerima perasaan kamu walau hanya sesaat. Hati tidak bisa di paksakan. Dan kamu juga tahu, sejak dulu siapa yang aku cintai. Tolong keluar dari sini sekarang juga, atau aku akan berteriak sekencang-kencangnya," ancam Queen sambil menahan rasa takutnya sendiri.


"Safir sudah menikah, Queen. Lupakan dia dan coba cintai aku. Aku pasti akan setia dan akan peka dengan perasaan kamu. Aku janji. Tolong jangan buat aku nekat untuk melakukan hal yang sudah tdak bisa aku tahan lagi."


"Owh, jadi dugaanku benar. Pasti kamu sudah kasih sesuatu kemakanan aku kan?"


"Tidak ada pilihan lain, Queen. Aku siap untuk bertanggung jawab."


"Aaa ..." Teriak Queen saat Aris mendorong dirinya ke atas ranjang. "Tolooonggg ..." Sekuat tenaga Queen menahan Aris agar tidak menyentuh tubuhnya. Membuat buliran bening keluar dari sudut mata Queen. Entah mimpi buruk apa yang akan terjadi. Entah kesalahan yang mana yang membuat Queen harus berhadapan dengan musibah yang seperti ini. Queen tidak ingin ternodai. Ia pasti akan sangat hancur kalau harga dirinya dan mahkota raga yang Queen jaga selama ini harus di renggut seseorang yang tidak berhak atas dirinya.


"Percuma kamu berteriak, karena tidak akan ada yang akan menolong kamu, Queen."


"Aris tolong jangan Ariiisss ..." teriak Queen memohon sambil menggelengkan kepalanya kesana kemari karena tidak ingin kalau Ars sampai mencium dirinya. "Heeemmmppp ..."


"Selama ini aku sudah cukup bersabar dan terus kejar kamu. Aku akan ambil cara ini agar keinginanku cepat tercapai," ucap Aris kemudian dengan cepat Aris menarik jilbab yang menutupi kepala Queen. Lalu Aris membuka bajunya secara kasar karena sudah tidak sabaran lagi.


Karena mendapatkan celah, Queen langsung menendang Aris sekuat-kuatnya.


"Aaaggghhh," ringsi Aris kencan karena yang Queen tendang adalah senjata yang akan Aris gunakan untuk menodai Queen. Aris membungkuk karena menahan rasa sakit pada organ vitalnya.


Sedangkan Queen yang memang sudah terpengaruh obat, kini tubuh Queen sudah sangat lemas. Dan mungkin Queen akan kehilangan kesadaran.

__ADS_1


"Apa tidak ada yang akan menolongku? Aku lemas sekali," gumam Queen yang sudah kesulitan menahan diri.


__ADS_2