Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 84 Negosiasi Gaji


__ADS_3

"Tunggu apa lagi? Ayo," ajak Nissa. Ia tersenyum manis, seolah meyakinkan Vian kalau semuanya akan baik-baik saja. Agar kekhawatiran dan ketakutan Vian hilang.


"Sebentar Oma," ucapnya yang masih ingin menenangkan hatinya. Entah berapa kali Vian menarik nafasnya dalam-dalam, Ia seolah sedang mengumpulkan keberaniannya untuk kembali bertemu dengan Zen dan Ruby. "Ayo Oma," ucapnya setelah merasa yakin. Hal itu membuat Nissa tersenyum senang. Ia sangat bersyukur karena sebentar lagi keluarganya akan kembali harmonis seperti dulu lagi.


"Assalamualaikum Shakaaa ... Shakiii ... Shanuuummm ..." Teriak Queen yang sudah semangat dan tidak sabaran lagi bertemu trio S.


"Ampuuunnn ..." Teriak Zen saat ketiga anaknya menyerang dirinya. Zen pura-pura terkapar saat trio S memedang tubuhnya.


"Papa kalah."


"Itu siapa yang datang?" tunjuk Zen yang masih kesulitan menoleh akibat perbuatan anak-anaknya. Tapi dengan jelas kalau tadi Zen mendengarkan suara yang tidak asing.


"Queen," panggil Ruby sambil membawakan 4 gelas minuman. Spontan saja Ruby meletakkan nampan di atas meja yang ada di sana.


"Maira."


"Aaaa ..." Keduanya berteriak bersamaan sampai suara keduanya memenuhi ruangan rumah megah tersebut. Mereka berdua berlonjak-lonjak sambil berputar-putar karena terlalu senangnya. Sungguh kehebohan yang mereka buat sendiri.


"Kamu serius mau kuliah di sini?" tanya Ruby memastikan.


"Iya. Malas sekali aku kuliah jauh-jauh. Sesuai dengan janji kamu, kalau aku di bolehin kerja di toko kue kamu."


"Hisss, kerja apaan? Itu hanya pekerjaan iseng. Yang pasti aku enggak bisa gaji kamu terlalu besar," belum-belum Ruby dan Queen sudah membicarakan perihal gaji.

__ADS_1


"Gaji saja aku semampumu, sisanya aku minta Om."


"Lah kok aku jadi korban juga," ucap Zen sambil mendekati Queen dan sang istri, setelah Trio S justru melarikan diri ke ruangan mainan mereka.


Queen segera bersalaman dengan Zen. "Ya iyalah, Minta sama Om. Mau sama siapa lagi coba?"


"Assalamualaikum," salam Yusuf yang baru saja masuk.


Mendengar suara Opanya, membuat Shaki lari kembali untuk mendekati Yusuf. "Opaaa ..."


Rasa lelah yang mendera Yusuf, seketika terasa menghilang saat melihat cucu-cucunya yang menggemaskan tersebut.


"Loh, ini kok bisa datang bersamaan seperti ini?" tanya Zen bingung.


"Kami menemukannya di Semarang bersama seseorang," ucap Yusuf.


"Seseorang? Siapa?" baru saja Zen mengajukan pertanyaan, kini dirinya dengan jelas melihat keponakan lelaki satu-satunya. "Vian," pekik Zen dan langsung melangkah lebar mendekati keponakan yang sudah lama tidak saling bertemu.


"Om."


Padahal Vian masih ragu. Masih bingung mau mengatakan apa saat berhadapan dengan Zen nantinya. Tapi kini, Omnya tersebut sudah memeluk dirinya.


"Bagaimana kabar kamu? Kenapa sampai 3 tahun kamu tidak pulang hah!" ucap Zen sambil memukul punggung Vian.

__ADS_1


"Agh," pekiknya yang sedikit kesakitan. "Baru juga pulang sudah di siksa," bukannya mau mengucapkan permintaan maaf, seperti rencana Vian di awal, tapi kini Vian terbawa arus pembicaaran Zen yang berlaku biasa saja. Seolah di masa lalu, tidak pernah terjadi sesuatu hal.


"Itu akibatnya kalau sudah lama tidak datang ke sini. Tega menyiksa orang tuaku."


"Orang tua Om itu Oma dan Opaku, Om."


"Nah itu tahu, kenapa tidak pulang?" tuntut Zen sambil menepuk lagi punggung Vian.


Vian segera membalas pelukan Zen. Kedua matanya sudah nampak berkaca-kaca. "Om, Vian minta maaf."


"Sudah. Yang lalu sudah biarkan berlalu. Kita saling memaafkan saja. Aku juga minta maaf karena pasti ada sikap atau ucapan aku yang sudah sakitin kamu, Vian."


"Enggak ada. Om sama sekali ..."


Ucapan Vian terhenti saat Zen menepuk punggungnya lagi. "Aku senang kamu mau datang ke sini lagi."


Semua orang yang melihat kejadian hari ini, mereka hanya bisa menitikan air mata. Terharu karena perselisihan yang pernah terjadi. Kini keduanya seolah sudah berdamai dengan itu semua.


Dan kini, Vian berhadapan dengan Ruby. Perasaan itu masih ada. Tapi bukan lagi perasaan yang ingin sekali memiliki. Karena rasa yang Vian punya sekarang adalah rasa ikhlas kalau perempuan yang singgah di hatinya itu adalah jodoh Omnya sendiri.


"Untuk dulu yang pernah terjadi, aku sungguh minta maaf, By."


"By juga minta maaf sama Kakak. Dan terima kasih karena sudah mau lembali ke rumah kita ini. Mas Zen, Nda, dan Ayah selalu kepikiran Kakak. Oh ya, Shaka, Shaki, Shanum. Ayo kenalan sama Om kalian."

__ADS_1


__ADS_2