
Begitu Queen menghampiri beberapa teman kuliahnya, kini Queen dan yang lainnya segera memasuki ruangan acara.
Hanya Queen saja yang menambahkan amplop di dalam kotak tanpa sepengetahuan teman-temannya. Karena mereka memang sudah iuran membelikan beberapa perlengkapan rumah tangga. Kado tersebut akan mereka berikan nanti saat teman mereka sudah menempati rumah baru.
Queen dan yang lainnya sangat kagum dengan keindahan ruangan ballroom hotel ini. Begitu sangat elegan dilihat dari sudut manapun. Sebelum mereka menikmati menu yang disajikan, Queen dan yang lainnya sepakat untuk naik keatas pelaminan dan memberikan doa baik untuk rumah tangga teman mereka.
Selain itu, Queen dan yang lainnya juga mengabadikan momen kedatangan mereka. Salah satu teman Queen juga meminta fotografer untuk mengabadikan momen mereka di ponselnya. Setelah itu mereka juga melakukan foto selfi bersama.
Setelah mendapatkan beberapa potret yang bagus, mereka segera turun dari atas pelaminan karena masih ada banyak tamu undangan yang ingin memberikan ucapan selamat. Tamu yang datang ini sangat banyak. Wajar saja, karena orang tua teman Queen itu adalah owner bakso pak kumis yang cukup terkenal di Ibu Kota.
"Eh, kirim semua fotonya di group chat ya?" pinta Queen.
"Iya, aku belum puas lihat hasil foto selfi kita tadi," ucap yang lain.
"Iya-iya, sabar!" ucap yang memiliki ponsel yang mereka gunakan untuk berselfi tadi.
Seperti perkumpulan pertemanan pada umumnya. Karena masih ingin melihat hasil foto, Queen dan yang lainnya justru berkumpul tapi mereka sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
"Eh, foto yang ini jangan diposting ya. Aku belum siap, sudah di jepret saja."
"Aku juga ya. Yang benar saja, masih melongo seperti ini sudah difoto," gerutu yang lainnya.
"Iya ih. Aku yang ini juga masih merem."
Queen sejak tadi hanya menjadi penyimak diantara teman-teman yang sedang melakukan banyak permintaan karena pose mereka yang memang belum pas. Sedangkan Queen tidak perduli dengan posenya bagaimana. Karena yang penting hasil fotonya jelas.
"Tapi semua fotonya sudah aku post di instagram aku," ucap seorang lelaki yang ada diantara mereka.
__ADS_1
"Dasar Aguuusss ..." Pekik semua orang tertahan, kecuali Queen. Mereka semakin kesal karena wajah lelaki yang biasa mereka panggil Agus itu hanya berwajah memelas.
"Hapus Gus," ucap Queen. "Kalau mau posting foto itu harus dilihat dulu mana yang bagus mana yang enggak, Agus. Kamu ini kebiasaan."
"Iya-iya. Aku hapus deh ini."
Sejak tadi, Safir yang masih tetap bersembunyi terus memperhatian keseruan Queen dan yang lainnya. Gadis yang semakin cantik dengan baju pesta yang dia gunakan.
Melihat Queen malam ini, membuat perasaan Safir menjadi campur aduk. bingung mengungkapkan rasanya bagaimana. Ada rasa rindu yang sedikit terobati. Tapi yang menyadarkan hati adalah kenyataan yang terasa menampar Safir.
Tidak lama kemudian, teman-teman Queen yang lainnya beranjak untuk menikmati menu yang ada. Sedangkan tinggalah Queen dan seorang lelaki yang duduk berdampingan sambil mengobrol. Bahkan sesekali Queen terlihat tertawa bersama lelaki tersebut.
Melihat semua itu, membuat tangan Safir mencengkram kuat gelas yang ia pegang sejak tadi. Tidak bisa pungkir kalau sekarang Safir jadi cemburu sendiri. Namun, rasa itu Safir tutupi dengan senyuman samarnya.
"Sadar diri dan sadar dengan keadaan, Fir. Jangan melukai dirimu seperti ini," gumam Safir. Karena tidak ingin merasa cemburu tanpa alasan terus terjadi, Safir memilih meninggalkan ruangan acara dan akan menunggu Yusman di dalam mobil.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Sekalipun acara pesta belum selesai, tapi Queen segera berpamitan dengan teman-temannya yang lain untuk pulang lebih dulu. Queen harus sampai rumah tepat waktu. Karena dirinya tidak ingin membuat Nissa dan Yusuf terjaga karena menunggu dirinya.
"Ayo, Pak. Pulang," ajak Queen setelah memasuki mobil.
"Sudah selesai, Mbak acaranya?"
"Belum. Tapi tadikan Oma sudah bilang kalau pulangnya jangan lebih dari jam 10. Bisa-bisa Oma dan Opa melekan karena nungguin saya lagi," ucap Queen kembali mengingatkan sopir.
"Oh iya," ucapnya sambil menghidupkan mesin mobil. Dan segera meninggalkan area hotel. "Oh iya, Mbak tadi ketemu dengan Mas Safir enggak?"
"Apa Pak?" tanya Queen karena takut salah mendengar.
__ADS_1
"Mbak tadi ketemu sama Mas Safir atau enggak? Soalnya tadi saya melihat Mas Safir. Penampilannya rapih dan ganteng. Saya pikir kalau Mas Safir juga datang ke acara yang Mbak Queen datangi. Tadinya saya mau samperin, Mbak. Tapi saat saya mau ketuk kaca mobilnya, Mas Safir nyandarin keningnya di kemudi. Jadi saya mundur karena sepertinya Mas Safir sedang tidak ingin di ganggu."
Queen jelas terkejut. Tidak percaya kalau Safir ada di Jakarta bahkan berada di hotel yang sama. Kemungkinan besar juga kalau Safir datang diacara pernikahan temannya. Karena mungkin saja Safir kerja sama dengan Rusli.
'Pantas saja tadi di rumah ada makanan dari Bunda. Tapi kenapa Maira tadi bilangnya kalau itu kiriman yang dititipkan tetangga yang datang ke Jakarta?' gumam hati Queen. Ia hanya bingung kenapa Ruby bohong pada dirinya.
Sampai pada akhirnya, mobil sudah memasuki halaman rumah. Sesuai dengan dugaan Queen, kalau Nissa dan Yusuf masih berada di ruangan keluarga karena menunggu dirinya.
"Queen pulang," ucapnya sambil duduk didekat Nissa. "Oma sama Opa pasti tungguin Queen kan?"
"Lah, siapa juga yang mau tungguin Queen yang sudah dewasa ini. Kami hanya ingin menonton televisi saja," elak Nissa yang memang sejak tadi bingung sendiri.
"Sudah malam, cepat ke kamar dan istirahat," ucap Yusuf."
"Baik, Opa."
Begitu memasuki kamar, Queen segera membersihkan wajahnya dulu, barulah membersihkan diri. Setelah ganti baju dengan pakain yang jauh lebih nyaman, Queen duduk di kursi rias. Bukannya menggunakan perawatan wajah seperti biasanya, tapi yang di lakukan Queen adalah melamun, karena memikirkan Safir.
"Kalau dia datang ke Jakarta, kenapa dia tidak singgah di rumah ini? Apa karena sudah pisah dengan Kak Di jadi dia sungkan sendiri. Atau ..."
Ucapan Queen menggantung karena pikirannya jadi memperkirakan kalau Safir sedang berusaha untuk menghindari dirinya. Tapi tidak lama kemudian, Queen menggelengkan kepalanya. Mengusir seluruh dugaan hatinya sendiri.
"Kamu ini siapa sih, Queen? Sejak dulu yang Safir pikir kamu itu sahabatnya. Jangan terlalu berpikir yang tidak mungkin," ucap Queen mengingatkan diri sendiri sambil memukul kepalanya. "Apalagi dia mantan suami Kakak kamu sendiri, apa jadinya kalau kamu nekat karena diri kamu sendiri."
Membayangkan semuanya saja sudah membuat Queen bergidik ngeri. Tidak masalah jika Queen kehilangan seseorang yang sejak dulu Queen sukai. Yang terpenting Queen tidak kehilangan Kakak perempuannya. Queen tidak ingin jika Divya membencinya.
"Kak Di bagaimana keadaannya ya?"
__ADS_1