Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 65 Peresmian Kantor


__ADS_3

"Fiiirrr ..."


Betapa senangnya Divya saat ini ketika Safir sudah lebih jauh mencu*mbu raganya. Ia terus merintih menyebut nama Safir saat menikmati semuanya. Sedangkan tangan Divya kini terus menekan kepala Safir agar apa yang di lakukan Safir lebih lama lagi. Divya seolah tidak ingin jika semua ini berakhir begitu saja.


Sedangkan sejak tadi Safir memejamkan kedua matanya. Bayangan pikirannya sudah semakin kusut saat mulutnya terus menyenangakan Divya. Ia ingin beranjak sekarang juga, tapi Safir berusaha meyakinkan diri kalau apa yang ia lakukan adalah hal yang seharusnya. Pasangan suami istri harus mengerti apa yang pasangan mereka butuhkan.


"Cukup, Di," ucap Safir tidak begitu jelas karena kepalanya masih di tekan oleh Divya.


Seketika itu berakhir sudah suara desah nafas Divya yang sejak tadi terus menikmati semuanya. Divya melepaskan kepala Safir. Walau sebenarnya belum rela tapi ini adalah kemajuan yang sangat pesat.


Safir menatap ke arah jam dinding. "Aku mandi dulu. Kita harus cepat bersiap untuk peresmian hari ini kan?"


Jika Divya sadar, bahkan suara Safir sampai bergetar mengatakan semuanya. Jika Divya paham, mungkin ia akan tahu kalau wajah Safir terlihat tertekan. Mungkin Safir adalah lelaki aneh. Bukankah tanpa perasaan menggebu seorang lelaki bisa bercinta demi kebutuhan raga yang tersalurkan.


Dengan cepat Safir beranjak dari samping Divya. Begitu masuk ke dalam kamar mandi, tanpa perlu melepas seluruh baju yang masih menempel. Safir langsung membasahi tubuhnya di derasnya air dingin yang jatuh dari shower.


Padahal jika masih pagi seperti ini, semua orang akan mandi dengan menggunakan air hangat. Tapi sepertinya air dingin adalah pilihan Safir yang terus saja di landa kegundahan. Ia hanya bisa mengusap wajahnya secara kasar. Berharap apa yang runyam dalam isi kepalanya segera berlalu.


"Ayo lakukan yang terbaik. Jangan biarkan siapapun tahu dengan apa yang sedang terjadi pada jiwamu, Safir."

__ADS_1


Sedangkan Divya, begitu Safir sudah memasuki kamar mandi, perempuan tersebut juga ikut beranjak. Tapi tujuan Divya adalah kaca. Ia tersenyum manis saat menatap pantulan tubuhnya. Melihat setiap sisi leher yang tadi telah di cumbu oleh Safir. Sekalipun tidak ada jejak di sana, tapi bayangan perbuatan Safir masih terasa jelas. Bahkan raga Divya masih terasa bergetar saat mengingat itu semua.


"Nanti malam kamu harus memulai lebih dulu. Tidak apa-apa. Dia akan peralih padamu sepenuhnya, Di. Yakinlah," ucapnya tersenyum penuh kemenangan.


Klek!


Divya langsung menoleh saat pintu kamar mandi terbuka. Membuat ia dan Safir kembali saling menatap. "Lama juga kamu di kamar mandi."


Safir hanya tersenyum samar. Rasanya masih aneh gara-gara apa yang terjadi tadi. "Kelamaan ya? Maaf, karena perut aku terasa mules tiba-tiba."


Divya hanya mengangguk pelan. "Sekarang, giliran aku yang mandi."


*


Arjuno dan Zantisya sangat bangga dengan anak mereka itu. Hanya saja di dalam hati mereka jelas merasa janggal karena tidak ada kehadiran satu orang yang jelas sangat berpengaruh bagi Safir.


Hendri dan Reina juga kagum dengan kegigihan Safir selama ini. Siapa yang menduga jika Safir sudah bisa sukses di usia 22 tahun. Sekalipun chanel utama Safir adalah Arjuno selaku pemilik Arko Restoran.


Siapapun yang memiliki usaha, tentunya mengharapkan keberkahan dan kelancaran usaha. Safir jelas berharap doa-doa itu di berikan oleh orang-orang yang terhubung langsung dengan usahanya ini. Demi keberkahan acara, bahkan kini Safir mengundang pemuka agama untuk memimpin acara syukuran hari ini.

__ADS_1


Semua orang yang sudah bekerja dengan Safir sejak awal jelas ikut senang dan juga bangga karena kini mereka sudah memiliki gudang dan kantor sekaligus.


Safir sejak tadi menunduk. Ia senang karena semua ini sudah selesai. Tapi jujur, ada rasa hati yang tidak merasa bangga karena orang yang telah mengelola keuangan dengan baik sehingga semua ini bisa tercapai tidak ada di sekitar dirinya.


'Aku ingin sekali memberitahu kamu. Tapi ...' Safir hanya bisa menghela nafasnya yang kembali terasa sesak. 'Apapun yang kini sedang kamu lakukan di sana, semoga kamu selalu aman dan selalu baik-baik saja. Aku harap kamu jauh lebih bahagia dan menemukan semua kebahagiaan yang pantas untuk kamu dapatkan.'


Banyak doa yang di urakanan. Berharap kebaikan akan selalu menghampiri setiap usaha Safir. Hingga sampai acar doa selesai, kini semua orang sudah di persilahkan untuk menikmati semua makanan yang sudah di sediakan.


Sebelum ikut menikmati makanan yang ada bersama yang lainnya, Safir mengajak Divya, kedua orang tuanya dan juga mertuanya untuk melihat setiiap ruangan kantor.


Semua orang jelas sudah tahu kalau di lantai bawah hingga ke belakang itu di gunakan sebagai gudang telur bebek yang belum di suplai ke para pelanggan. Sedangkan bagian depan untuk tempat freezer.


"Di sini nanti tepat penyimpanan jeroan, tulang yang belum terjual," ucap Safir sebelum mereka manaiki anak tangga untuk menuju lantai dua. Jelas saja karena di sana sudah terdapat beberapa freezer. "Maaf karena di sini tidak menggunakan lift," ucap Safir yang tidak enak hati karena telah membuat orang tua dan mertuanya olahraga.


"Tidak apa-apa. Sekalian olahraga, Fir." ucap Hendri.


"Nah di sini untuk ruang kerja para marketing yang akan berhuubungan langsung dengan para customer yang sudah bekerja sama dengan kami."


Hanya sebentar para orang tua melihat ruangan di lantai dua tersebut. Safir benar-benar membuat ruangan kerja berukuran pas. Hingga kini mereka sudah menuju lantai 3.

__ADS_1


"Di lantai 3 ini ada 4 ruangan kerja. Yang ini ruang kerja Pak Yusma. Yang ini ruangan kosong dan nanti mungkin akan ada bagiannya sendiri. Dan yang itu ruang kerja Safir," tunjuknya satu persatu.


"Yang itu?" tunjuk Zantisya pada satu ruangan yang belum di sebutkan oleh Safir.


__ADS_2