
Sejak tadi Queen di sibukkan dengan pekerjaan dapur. Meskipun tubuhnya masih terasa sakit, tapi Queen ingin menyiapkan makanan. Baik dirinya maupun Safir sudah pasti kelaparan karena perbuatan mereka tadi.
Tidak ada yang sulit yang Queen masak pagi ini, karena memang hanya mengolah bahan seadanya saja. Hanya cukup sayur beningan, menggoreng ikan dan membuat sambal.
Sedangkan Safir sejak tadi masih terlelap. Hingga tidak lama kemudian, kedua matanya mulai terbuka bersamaan tangan yang sedang meraba. Safir langsung menoleh karena tidak merasakan keberadaan Queen.
"Apa dia sudah bangun sejak tadi?" gumam Safir sambil bangun.
Sebelum mencari keberadaan Queen, Safir memilih menuju kamar mandi. Sambil menggosok gigi, Safir tersenyum samar saat melihat buthup lalu ke ruangan shower. Mengingat betapa indahnya saat mendengar suara Queen menggema di dalam ruangan ini. Membuat peraasaan Safir memuncak.
"Tidak ada yang salah denganku. Bahkan aku merasa senang sampai rasanya tidak tahu lagi cara menjabarkan semua rasanya."
Setelah mengeringkan wajahnya, Safir segera mendekati ranjang untuk membereskan semuanya yang nampak berantakan. Tapi kini Safir di buat tertegun saat melihat bercak yang tertinggal di sana. Lagi dan lagi, pagi ini Safir sudah banyak tersenyum karena hal-hal yang sudah ia lakukan bersama Queen semalam. Safir merasa bangga karena kini dirinya bisa menjadi suami sepenuhnya untuk Queen. Tanpa beban dan perasaan mengganjal.
Setelah selesai mengganti seprai, Safir segera keluar dari kamar. Langkah kakinya langsung tertuju pada dapur, karena kini Safir mencium aroma makanan yang begitu menggugah selera. Membuat perutnya meronta karena meminta haknya.
__ADS_1
Grep!
"Eh, Mas."
Queen yang sedang mencuci bekas alat masak jelas terkejut karena mendapatkan pelukan tiba-tba dari Safir. Kehadiran lelaki yang jalan mengendap-endap. Membuat Queen tidak bisa merasakan kedatangan Safir.
"Udah bangun?"
"Heem. Kenapa kamu enggak bangunin aku, Yang?"
"Kalau kamu banginin aku, kita bisa masak bersama tadi."
"Mas terlihat lelah dan pasti mengantuk sekali. Lagi pula aku hanya masak seperti itu. Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu. Mas duduk saja di sana," pinta Queen yang sedang menahan diri. Bulu kuduknya terasa meremang karena hembusan nafas Safir yang menerpa kulitnya.
"Selesaikan saja, aku tidak akan mengganggu," ucap Safir karena Queen hanya tinggal membilas satu alat masak. Kalau saja masih banyak pekerjaan Queen, sudah pasti Safir akan mengambi alih.
__ADS_1
Queen hanya bisa melanjutkan pekerjaannya dan menggigit bibir bawahnya. Siapa yang bisa mengira jika kini tangan Safir seolah sedang menyentuh kesetiap inci tubuh Queen.
"Ayo kita makan dulu Mas," ajak Queen karena pekerjaannya telah selesai.
"Mau jadi pacarku?" tawar Safir berbisik.
Queen jelas terkekeh sambil menoleh, menatap Safir. "Maaf, aku sudah menjadi istri orang. Jadi aku tidak bisa menjadi pacar seseorang lagi."
"Pacar halal maksudnya. Mau enggak?"
Queen mengangguk sambil tersenyum manis. "Mau."
Safir segera merenggangkan dekapannya dan membalik tubuh Queen. "Kalau begitu, kamu harus menjadi kekasihku sampai kita tua nanti," ucap Safir sambil menarik tangan Queen. Saat itu juga Safir langsung menyematkan sebuah cincin di jari manis Queen. "Kamu harus janji dulu padaku."
"Cincin ini?"
__ADS_1