
Satu jam sebelum waktu istirahatnya semua orang, Zen dan Ruby sudah lebih dulu meninggalkan ruang keluarga. Karena memang si kembar sudah waktunya istirahat.
Dan kini, semua orang juga sudah mulai meninggalkan ruang keluarga. Saat menuju lift, Vian dengan sengaja merangkul adiknya tersebut. Diikuti dengan Divya yang menggandeng lengan tanan Safir. Sungguh ini adalah diluar kebiasaan mereka. Empat orang tersebut segera menuju lantai tiga, dimana semua kamar mereka berada.
"Vian, jika kami pulang ke Malang, kamu mau pulang bersama dengan kita? Atau mungkin, kamu mau pulang lebih dulu, karena Mama dan Papa juga beberapa hari lagi sudah pulang ke rumah."
"Sepertinya Vian barengan dengan Kakak dan Safir saja."
Awalnya, Vian sudah berencana untuk pulang beberapa hari lagi. Bertepatan dengan Reina dan Hendri yang sudah pulang dari luar kota. Vian merasa kalau dua bulan di Jakarta, kurang lebih dirinya sudah cukup ilmu untuk membantu pekerjaan di Malang. Vian hanya perlu mengembangkan kemampuannya saja. Tapi sekarang Vian memilih menunda. Mana mungkin Vian meninggalkan Queen di Jakarta sedangkan sekarang ada Divya dan Safir. Vian harus bisa mendampingi adiknya tersebut, apalagi dalam keadaan seperti ini. Berada di dalam ruangan yang sama dan juga sempit, untuk menuju lantai 3.
"Ok. Pulang ramean sepertinya seru juga."
Begitu pintu lift terbuka, Vian langsung membawa Queen keluar lebih dulu.
"Kakak, pelan-pelan dong," protes Queen yang jadi ribet sendiri karena harus menyeimbangi langkah lebar Vian.
"Makanya kalau jalan jangan seperti siput."
"Kakak saja jalan sudah seperti di kejar kereta api."
"Cerewet," ucap Vian sambil mengacak-acak puncak kepala Queen. Lalu Vian melepaskan Queen dan melangkah lebih dulu.
"Dasar, usil banget," ucap Queen mulai kesal. Ia lari mengejar Vian dan langsung menghambur kepunggung Vian.
"Uhuk ... Uhuk ..." Vian sampai terbatuk-batuk karena lehernya terasa di cekik oleh Queen. "Lepas Queen," ucapnya sambil memukul tangan Quaan.
"Makannya jangan usil. Dasar," ucap Queen sambil melepaskan cengkramannya.
"Gunanya adik kan memang untuk di usilin."
Sambil melangkah beriringan dengan Divya, kedua mata Safir sepertinya tidak bisa terputus walau untuk berkedip sekalipun, saat melihat interaksi Vian dan Queen. Terutama tingkah Queen yang memang pecicilan. Sampai tanpa sadar, membuat Safir tersenyum.
Safir sadar, hal yang dulu sering ia lihat, kini baru bisa Safir lihat kembali setelah beberapa bulan ini. Tingkah Queen yang dulu dia anggap kekanak-kanakan, ternyata memang itulah yang Safir suka. Mungkin karena dulu sudah terbiasa Safir lihat, maka Safir tidak mengira kalau hal-hal seperti itulah yang membuat dirinya senang dan tenang. Karena jika Queen banyak tingkah, itu artinya suasana hati Queen dalam keadaan baik-baik saja.
Jika harus kilas balik ke masa lalu, tentunya dapat di hitung jari kapan Queen terlihat kesal dan sedang marah karena ada masalah. Mencolok sekali perbedaannya.
'Aku sudah kehilangan semua hal tentang kamu karena diriku sendiri,' gumam hati Safir.
__ADS_1
"Fiiirrr ..."
"Ya."
Lamunan Safir tiba-tiba lebur saat mendengar suara Divya. Safir menoleh tapi Divya tidak ada di sampingnya. Siapa yang menduga, jika Divya berada di belakangnya.
"Kamu mau kemana? Kamar kita disini," ucap Divya dengan air muka yang tidak terbaca.
Safir sampai memperhatikan posisinya lagi. Benar saja, karena dirinya justru melewati kamar yang ia tempati dengan Divya. Safir berusaha fokus. Karena melamun dan terhipnois dengan keadaan, kakinya sampai tidak bisa di kendalikan.
"Oh, iya. Maaf," ucap Safir sambil kembali menghampiri Divya dan segera masuk kedalam kamar lebih dulu.
Divya hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia menentramkan gemuruh jantungnya yang tiba-tiba bekerja cepat. Ini bukan soal cinta. Melainkan ini berkaian dengan kekesalan yang kini mendekap hati Divya. Setelah merasa tenang dan sudah merasa lebih baik, Divya segera memasuki kamar.
Begitu masuk ke dalam kamar, Queen segera ganti baju tidur lengan panjang. Setelah membersihkan diri, Queen memilih membaca buku sebentar. Tidak sampai 1 jam lamanya, Queen menutup bukunya dan segera minum terlebih dulu sebelum dirinya tidur.
"Loh, apa aku tadi lupa meminta Bapak untuk menggantikan air galon di kamar?" gumamnya yang baru sadar kalau air minum di kamarnya sudah habis sejak Queen pulang kuliah.
Karena beberapa hai ini Queen sudah terbiasa bangun tengah malam dan itu artinya Queen juga membutuhkan air minum, maka sekarang Queen memilih keluar dari dalam kamar untuk kembali turun.
Karena waktu memang sudah malam dan sudah saatnya istiahat, Queen memilih mengambil air minum menggunakan teko saja. Besok saja Queen meminta salah satu pekerja untuk menggantikan galon dikamarnya.
Deg!
Spontan saja langkah kaki Queen terhenti. Ia jadi menoleh karena mendengar suara Divya dan Safir. Bagaimana mungkin suara mereka berdua tidak terdengar jelas di telinga Queen kalau ternyata pintu kamar mereka tidak tertutup rapat. Entah sejak kapan pintu tersebut seperti itu, karena saat Queen akan turun tadi, Queen tidak mendengar suara keduanya sampai sejelas ini.
'Kenapa kamu diam disini? Ayo menuju kamar,' gumam hati Queen yang segera berlalu saat mendengar suara Safir yang akan menutup pintu.
Tangan Queen bahkan sampai terasa bergetar saat membawa teko. Sampai sebagian air juga tumpah-tumpah karena Queen melangkah terburu-buru.
*
"Loh Queen, mau berangkat sekarang?" teriak Ruby yang sedang menemani si kembar bermain di halaman rumah. Ruby mengajak anak-anak berjalan pelan di atas bebatuan kecil.
"Iya. Aku ada janji dengan teman aku. Para keponakan, Tante kuliah duluan ya," pamitnya sambil melambaikan tangan. "Paaakkk ... Ayo antar saya ke kampus."
"Baik non," ucap Sopi sambil lari menghampiri mobil yang biasa ia gunakan.
__ADS_1
"Aneh banget. Apa dia sedang sakit mata?" gumam Ruby karena tadi Queen terlihat menggunakan kaca mata.
"Omaaaa ... Oomaaa ..." panggil anak-anak dengan sangat semangat karena melihat Nissa yang jalan ke arah mereka.
"Iya sayang."
Melihat betapa riangnya ketiga cucunya itu, membuat Nissa semakin mempercepat langkah kakinya.
"Senangnya kalau diajak jalan di batu-batuan begini," puji Nissa sambil melepas sendalnya. Kemudian Nissa juga ikut jalan pelan bersama dengan si kembar.
"Nda, apa Queen sedang sakit mata?" tanya Ruby karena perkiraannya, Queen pasti berpamitan dengan Nissa.
"Memangnya Queen sakit mata?" tanya balik Nissa.
Melihat reaksi Nissa yang jadi penuh tanya, membuat Ruby jadi memperkirakan kalau Queen tidak berpamitan saat meninggalkan rumah. Dan kini, Ruby juga jadi mengira-ngira keadaan.
"Owh, By jadi ingat kalau Kemari By suruh Queen nonton film korea yang sedih. Pasti semalam Queen baru nonton dan sampai larut malam. Dia sudah pergi kuliah, Nda," terang Ruby yang jadi mengelabuhi Nissa.
"Loh kok enggak pamitan? Mana belum sarapan lagi," ucap Nissa yang mulai khawatir. Rasanya Nissa tidak pernah membiarkan anak dan para cucunya meninggalkan rumah dalam keadaan perut yang belum di isi apapun.
"Sudah buru-buru mungkin, Nda."
"Lagian kuliah apa Queen sekarang? Perasaan baru hari ini dia berangkat kuliah sepagi ini," ucap Nissa karena merasa janggal.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di halaman samping rumah, Yusuf yang sedang menikmati minuman hangat hanya memilih melihat anak dan kedua cucunya yang sedang olahraga bersama. Senam hanya untuk menggerakkan seluruh tubuh agar terasa lebih renggang.
"Kenapa enggak kabarin aku kalau kurang dana untuk membeli tanah?" tanya Zen sambil menggerakkan tubuhnya. Karena semalam waktunya Zen untuk anak-anak, maka Zen tidak mau membahas hal pekerjaan saat itu juga.
"Enggak apa-apa Mas. Lagian juga aku belum begitu berniat menambah usaha tersebut," jawab Safir yang sengaja berbohong.
"Sekalipun belum niat, kalau memang lapaknya sudah ada. Seharusnya di beli dulu. Masalah menambah usahanya kapan, itu di pikir nanti, Fir."
"Iya Mas. Kemarin juga sebenarnya Kak By ya mau bantu. Ayah juga, tapi karena perhitungan dananya juga cukup besar dan hati aku belum yakin. Jadi aku tahan dulu."
"Iya aku paham. Bukan maksud aku ikut campur bisnis kamu, Fir. Hanya saja, tanahnya itu loh yang sayang. Kan kalau kamu beli tanahnya dulu, bisa di tumbuhi rumput dulu kalau memang belum berminat nambah usaha. Lokasinya samping-sampingan begitu jadi kan sayang. Coba besok kalau kamu sudah pulang ke Malang, temui saja pemilik tanahnya. Aku dulu yang bayarin kalau memang dananya kurang."
"Baik, Mas. Terima kasih sebelumnya."
__ADS_1
Sungguh, Safir bingung mau menjelaskan bagaimana perihal tanah tersebut. Karena semuanya ada sangkut pautnya dengan Queen.
Entah ada perjanjian apa diantara Samsul dan juga Queen. Sehingga membuat Samsul hanya berkenan jika yang membeli tanah tersebut adalah Queen.