Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 69 Vitamin C


__ADS_3

Perkara perdebatan singkat karena telah membawa nama Queen, membuat keduanya saling diam. Safir yang memilih berlama-lama di balkon untuk menghilangkan rasa khawatirnya pada Queen. Sedangkan Divya juga tidak meminta maaf karena ide yang semaunya sendiri.


Karena masih malas bertegur sapa, Divya memilih bersiap diri untuk pergi ke suatu tempat terdekat yang terjangkau dari lokasi hotel. Tujuan Divya adalah membeli sesuatu untuk melakukan saran yang telah di berikan Santi.


"Dari mana?" tanya Safir saat Divya sudah kembali memasuki kamar. Setelah puas berdiam diri di balkon, siapa yang menduga jika Safir tidak mendapati Divya di dalam kamar.


"Beli makanan," ucapnya sambil memberitahukan kantong plastik yang Divya jinjing. "Ayo kita makan dulu," ajaknya.


Safir hanya bisa menghela nafasnya pelan. Padahal ia baru saja ingin marah karena Divya pergi tanpa berpamitan dulu. Sekalipun hatinya tidak begitu merasa khawatir karena Divya sudah terbiasa pergi kemanapun sendiri, tapi Divya adalah tanggung jawabnya. Dan kini Safir sedikit tersentuh oleh perhatian yang Divya berikan.


"Lain kali, kalau mau kemanapun, kamu bilang dulu sama aku, Di. Jangan asal pergi seperti ini. Ini bukan negara kelahiran kita. Kalau terjadi sesuatu hal sama kamu bagaimana? Kita kan bisa beli makan bersama."

__ADS_1


Merasa kalau Safir mengkhawatirkan dirinya, kini membuat Divya tersenyum hangat. "Maaf karena aku pergi enggak bilang kamu dulu Fir. Ayo kita makan sekarang."


Karena memang sudah sama-sama kelaparan, kini keduanya nampak fokus pada menu yang di beli Divya. Perempuan yang sejak tadi mencuri pandang dan hanyut dengan pikirannya sendiri itu memang sengaja membeli makanan di luar hotel. Merasa bosan dengan daftar menu yang tersedia di hotel tersebut.


"Kamu sakit Di?" tanya Safir saat melihat Divya yang baru saja meminum obat.


"Enggak. Ini hanya Vitamin kekebalan tubuh. Cuaca di sini tidak sama dengan di Indonesia. Jadi kita harus jaga kesehatan. Kamu minum juga ya?" tawar Divya.


Awalnya Safir nampak ragu dengan tawaran Divya. Tapi pada akhirnya Safir menganggukkan kepalanya. "Boleh."


Sudah 30 menit berlalu. Sejak tadi Divya melihat Safir yang masih saja duduk di Sofa sambil memainkan ponselnya. Padahal Divya sudah menunggu reaksi obat kuat sambil merebahkan diri di ranjang. Seolah ia sudah siap untuk di eksekusi oleh Safir. Hingga satu jam telah berlalu. Tapi Safir masih nampak biasa saja.

__ADS_1


'Kenapa belum bereaksi juga?' gumam hati Divya yang mulai kesal menunggu.


Dari informasi yang Divya baca, jika obat kuat sudah mulai bekerja, maka hasrat lelaki akan meningkat. Suhu tubuh yang terasa panas dan akhirnya semua harus tertuntaskan dengan pergulanan  panas yang menghasilkan peluh.


"Kamu tidak merasakan apa-apa Fir?" tanya Divya saat melihat Safir yang kini sedang menyentuh dadanya sendiri.


"Jantung aku kok rasanya seperti ini ya Di? Obat tadi benar-benar vitamin kan?" tanya Safir saat merasakan efek samping dari obat kuat. Dada Safir terasa berdebar, Ia juga mulai merasa sakit kepala.


"Ya iyalah, Fir. Kamu enggak percaya sama aku?" tanya Divya menuntut. Padahal saat ini Divya sendiri juga merasa takut karena tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada Safir.


"Sepertinya aku butuh istirahat sekarang."

__ADS_1


Merasakan degup jantung yang tidak terasa nyaman dan rasa sakit kepala yang begitu menyiksa, membuat Safir memilih mendaratkan tubuhnya di atas ranjang. Ia sangat berharap, saat bangun nanti apa yang menjadi keluhannya saat ini sudah tidak ia rasakan lagi.


"Kenapa jadi seperti ini sih?" gerutu Divya karena semua rencananya gagal total. Tapi tidak bisa di pungkiri kalau sekarang Divya jadi sangat khawatir. Sejak tadi ia tidur di dekat Safir. Entah sudah berapa kali Divya menyentuh kening Safir karena rasa khawatirnya. "Kalau sudah seperti ini, apa aku harus mencobanya lagi?" gumamnya yang kini mulai mempertimbangkan semuanya.


__ADS_2