Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 62 Pengalaman Hari Pertama


__ADS_3

Queen hanya bisa termenung melihat pekerjaan yang kini sedang di jalani oleh Vian. Padahal selama ini Vian selalu memberikan kabar padanya kalau dia hidup dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang baik juga. Mungkin ini baik versi Vian. Tapi kenapa Queen jadi menitikkan air matanya. Tidak tega rasanya melihat Vian seperti ini.


Queen memang bisa di katakan pekerja lapangan saat dengan Safir. Mengurus cukup banyak pekerjaan dan cukup merepotkan karena Safir belum memiliki kantor sendiri. Tapi selama itu, Queen melakukan pekerjan dengan mudah menurut Queen. Tidak sampai membuat orang terkesan kasihan melihat dirinya. Hidupnya juga selama ini sangat mewah. Hidup tenang dan damai bersama keluarga.


"Kak, ada pelindung diri yang tidak terpakai tidak? Aku mau ikut bantu Kakak aku," ucap Queen saat salah satu pekerja di sana melintasi dirinya.


"Serius Queen?"


"Serius. Sekalian cari pengalaman baru, gimana jadi tukang Mbak cuci mobil."


Sepertinya jalan apapun yang Queen inginkan selalu berjalan dengan baik. Entah itu sesuatu yang sebenarnya mudah ataupun hal yang sulit. Queen seolah mampu menempatkan diri. Mampu mencapai semua dengan baik sampai hal apapun terwujud. Walau dengan usaha yang begitu melelahkan. Hanya satu hal yang ternyata tidak bisa Queen dapatkan sesuai dengan keinginannya ...


"Queen harus melakukan apa dulu ini Kak?"

__ADS_1


Vian yang sejak tadi sedang membersihkan mobil, ia langsung menoleh saat mendengar suara Queen. Siapa yang menduga, jika adiknya itu sudah bersiap diri karena ingin mencuci kendaraan.


"Kamu ngapain. Tunggu Kakak di sana dan jangan melakukan hal apapun. Kamu enggak bisa melakukan pekerjaan ini."


Sebagai seorang Kakak. Yang sudah tahu Queen bagaimana sejak kecil, mana mungkin Vian bisa melihat adiknya ikut sibuk melakukan pekerjaan seperti yang sejak tadi Vian lakukan.


"Apa yang enggak bisa Queen lakukan? Queen yang vakum bagian dalam mobil ya Kak."


Hari pertama tinggal di Kota Semarang. Rasanya Queen sudah mendapatkan banyak sekali pelajaran yang sangat penting dari Vian. Sudah terbiasa hidup bergelimang harta, memang tidak semua orang bisa melewati itu semua jika harus di timpa kenyataan dengan kepahitan hidup. Tapi Vian sudah membuktikan, selama mau berusaha, maka semuanya akan berjalan dengan baik.


Vian hanya membiarkan saja jika Queen igin terus membantu dirinya. Karena mau Vian paksa untuk istirahat juga tidak akan mempan untuk Queen.


"Lucu sekali, anak siapa itu?" tanya Vian saat meliah Queen yang sedang melihat video beberapa balita yang nampak menggemaskan.

__ADS_1


"Ini Shaka, Shaki, dan Shanum, Kak."


Baru saja Vian akan menekan tombol blander karena mau menghaluskan bumbu, kini pergerakan tangannya terhenti, Ia memang tidak pernah menerima video menggemaskan tiga balita tersebut. Tapi mendengar namanya saja sudah membuat Vian tahu kalau tiga balita itu adalah anak Ruby dan Zen.


Vian menggelengkan kepalanya pelan. Mengelak perasaan yang harus ia abaikan. Meski perasaan itu sudah tidak menggebu karena ingin memiliki, tapi hati Vian langsung berdebar rasanya saat mengingat Ruby lagi.


"Lucu-lucu sekali mereka."


"Kakak mau lihat?" tawar Queen.


"Memangnya tidak apa-apa?"


"Tentu saja tidak apa-apa," ucap Queen sambil memberikan ponsenya pada Vian. "Kak, Maira dan Om itu sudah tidak marah lagi sama Kakak. Oma dan Opa, Mama dan Papa juga sudah tidak marah lagi dengan Kakak. Kalau Kakak sudah merasa baik-baik saja, Kakak pulang dan temui mereka ya? Orang tua kita, Oma dan Opa itu sudah semakin tua. Ya walaupun mereka terlihat masih sama saja. Tapi usia mereka semakin berkurang. Queen enggak mau jika sesuatu hal terjadi, lalu Kakak merasa menyesal karena kurang meluangkan waktu untuk menemui mereka. Terutama orang tua kita, Kak."

__ADS_1


Vian tersenyum melihat tingkah lucu balita di sana. Ia langsung memberikan ponsel tersebut pada Queen saat yang tersorot video adalah Ruby.


"Kakak pasti pulang. Hanya saja waktunya belum tepat. Ayo kita cepat selesaikan semuanya. Setelah ini kita pergi ke lokasi jualan."


__ADS_2