
"Mau tidur sebelah mana? Sini atau sana?" tanya Safir sambil melihat wajah Queen.
Queen semakin mengeratkan pegangan tangannya pada leher Safir. Rasanya Queen tidak ingin turun dari gendongan Safir. Tapi mana mungkin. Safir pasti akan keberatan juga jika terlalu lama menggendong dirinya.
"Terserah kamu saja," ucap Queen pelan dan terdengar pasrah.
Safir segera merebahkan tubuh Queen diatas ranjang. Safir masih membungkuk dan mereka saling berpandangan. Sedangkan tangan Safir yang masih ada dibawah tubuh Queen, ingin sekali menggenggam tubuh Queen lebih erat lagi. Berharap Queen tahu, kalau Safir juga tidak ingin jauh dari Queen.
"Apa kita mau seperti ini terus?"
Nafas Safir yang masih beraroma mint, dan menerpa wajah Queen, membuat Queen seolah lupakan semuanya karena dirinya sangat ingin memeluk Safir. Tapi Queen tahan karena dirinya tidak ingin mencolok, bahwa Queen sebenarnya ingin merebut hati Safir untuk dirinya sendiri.
"Entahlah."
Safir tersenyum kecil, dan semakin membuat degup jantung Queen semakin tidak beraturan lagi.
"Tanganmu."
"Owh, ya. Sorry-sorry," ucap Queen sampai tergagap karena baru sadar kalau tangannya masih mengekang leher Safir.
Dengan berat hati Safir menyingkir. Ia juga menggelangkan kepalanya pelan untuk menghilangkan pikiran Safir yang tidak-tidak.
Safir mengambil selimut yang masih tertinggal disofa. Dengan perasaan yakin, Safir juga ikut mendaratkan tubuhnya diatas ranjang.
"Terima kasih," ucap Queen sambil memberikan senyuman saat Safir usai menyelimuti dirinya.
"Sama-sama," ucap Safir dengan air muka yang dibuat dingin. Rasanya Safir sudah mati gaya perkara air mukanya sendiri. Setelah itu, Safir memunggungi Queen dan memejamkan kedua matanya agar cepat lelap.
__ADS_1
Queen tidur miring dan menatap punggung Safir. "Jangan lupa baca doa," ucap Queen mengingatkan.
Safir tersenyum kecil sambil membuka kedua matanya lagi. "Hampir saja aku lupa," ucap Safir berbohong, karena Safir sudah baca doa dalam hati. "Selamat malam."
"Malam."
Queen tersenyum. Tangannya terulur seolah ingin meraih punggug Safir. 'Tidak apa-apa kalau sekarang yang aku lihat adalah punggung kamu. Aku yakin, suatu saat nanti kamu tidak akan pernah lagi memunggungi aku saat kita tidur. Kamu akan peluk aku seolah kamu tidak ingin jauh dari aku. Tapiii ... Kapan ya?' gumam hati Queen yang terlalu banyak berkhayal.
*
Esok paginya, setelah solat subuh Queen turun karena Safir, Arjuno, dan Arfan belum pulang ke rumah. Setiap waktu telah tiba, Arjuno memang mengajak semua para pegawai lelaki yang ikut bermalam di rumahnya untuk ibadah ke masjid terdekat.
Tidak ada yang bisa Queen lakukan. Padahal niatnya ingin ikut menyibukkan diri didapur. Queen ingin membuatkan masakan yang enak untuk suaminya. Hitung-hitung cari perhatian Safir. Tapi niatnya gagal karena Zantisya justru mengajaknya jalan-jalan pagi. Meski hanya disekitar halaman rumah, tapi lumayan juga kalau keliling hingga beberapa kali.
"Capek?" tanya Safir yang baru saja datang. Lelaki yang kini sudah menggunakan baju olahraga.
Safir hanya mengangguk saja, sambil menggerakkan tubuhnya. Sedangkan Queen hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Melihat lengan tangan Safir yang nampak kekar berotot. Selama ini, dirinya sering melihat otot Vian saat olahraga. Begitu juga Zen kalau sedang berkumpul. Dan juga Hendri, papanya sendiri. Tapi kenapa melihat Safir rasanya sampai membuat otak Queen menjadi kotor.
'Mikir apa kamu Queen?' gumam hatinya sambil memukul kepalanya sendiri.
"Mau ikut kerja lagi?" tawar Safir iseng.
"Boleh, dari pada aku nganggur di rumah ini," ucap Queen semangat.
"Bercandaaa ..." ucap Safir seolah tanpa beban. Ia lari begitu saja dan meninggalkan Queen yang memasang wajah kesal.
"Oh iya, hari ini aku mau pergi sama Pak Yusman. Aku tinggal dulu enggak apa-apakan?" ucap Safir kembali mendekati Queen.
__ADS_1
"Enggak masalah. Tapi kalau boleh ikut, aku sih mau," ucapnya menawarkan diri.
"Mau apa ikut?"
Rasanya Queen kesal sendiri karena Safir seolah menyepelekan dirinya. "Jangan remehin aku ya, Fir. Gini-gini, meskipun aku sudah fakum kerja beberapa bulan. Tapi jiwa marketingku masih pekat. Kamu kasih pekerjaan apa pun aku pasti sanggup menyelesaikan semuanya," ucap Queen membanggakan diri. Seolah mengingatkan Safir bahwa beberapa custemer bekerja sama juga karena dirinya.
"Silahkan bermimpi Nona," ucap Safir yang tidak mau jika Queen jadi ikut bekerja bersamanya.
Setelah Queen tidak bekerja, Safir jadi paham kalau beberapa customer bekerja sama bukan hanya pela**yanan mereka yang baik. Tapi juga tertarik karena kecantikan Queen.
"Aku letakkan uang dan kartu diatas meja. Gunakan itu untuk kebutuhan kamu. Aku mandi dulu. Mau bersiaaapp ..."
Setelah Safir berlalu, Zantisya kembali mendekati menantunya itu. Sejak tadi ia hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Seolah Zantisya mulai melihat perubahan Safir yang berusaha untuk bersikap biasa saja dengan Queen.
"Queen."
"Iya, Bun."
"Sekarang kan kalian sudah menikah. Meskipun usia Queen lebih tua, tapi kan hanya beberapa bulan. Dan Safir suami Queen kan?"
"Iya Bun."
"Bunda hanya mau kasih saran. Maaf jika Bunda jadi ikut campur. Coba panggil Safir jangan gunakan namanya langsung ya," ucap Zantisya hati-hati. Mengingat dulu ucapannya tidak diindahkan oleh Divya dan juga Safir. Berharap kali ini usulan Zantisya tidak gagal.
"Lalu Queen harus panggil apa Bun?" tanyanya jadi canggung.
"Panggil yang umum saja digunakan orang jawa. Atau mau menggunakan panggilan lain juga terserah. Biar hubungannya bisa semakin harmonis."
__ADS_1