Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 85 Pinjam HP


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu. Sudah sejak kemarin Safir sudah di perbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Karena keadaan Safir yang memang sudah stabil. Namun tetap saja, Safir masih harus menghabiskan beberapa jenis obat yang ia butuhkan.


Hari itu, Safir memaafkan Divya. Biar bagaimanapun, Safir sadar kalau apa yang Divya lakukan karena kekurangannya. Namun, hal itu tidak membuat hubungan Safir dan Divya seperti biasanya. Safir tidak mau memulai mencium Divya lebih dulu seperti sebelum-sebelumnya. Bukannya apa-apa, Safir masih merasa kecewa karena Divya membicarakan urusan pribadi mereka pada orang di luar sana. Belum lagi rasa percaya diri Safir untuk membuktikan kalau dirinya itu normal juga hilang begitu saja. Maka dari itu, jika sedang berduaan di sebuah ruangan, Safir dan Divya terlihat begitu canggung.


Karena sudah terlanjur di Paris, para orang tua juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi wisata di sana. Hanya satu tempat saja. Karena untuk memanfaatkan waktu mereka saja. Sekalipun sudah usia, menikmati masa bersama pasangan hidup mereka juga sangat di perlukan.


"Kami mau pesan tiket hari ini untuk penerbangan ke Indonesia besok. Kalian sudah tidak apa-apakan kalau kami tinggal?" tanya Reina. Saat ini mereka sedang menikmati makan bersama. Mengisi perut mereka, karena jam 10 pagi waktu setempat mereka baru berniat untuk sarapan.


"Mumpung masih di sini, apa kita tidak ke Australia dulu, Ma?" usil Divya


"Mau apa kita ke sana?" tanya Reina dengan air muka yang nampak tidak bersahabat. Entah apa yang ada di pikiran anak sulungnya tersebut.


"Melihat Queen, Ma. Kita pergi kesana rombongan seperti ini pasti Queen akan senang," terang Divya setelah menelan makanannya.


"Bunda rasa tidak perlu. Bunda dan Ayah sudah harus pulang ke Indonesia. Kasian Arfan sudah kami tinggal pergi dadakan, belum lagi pekerjaan Ayah yang sudah pasti terbengkalai," tolak Zantisya yang sudah jelas tidak setuju. Meski sebenarnya Arjuno masih bisa berlama-lama sesukanya, tapi Zantisa tidak ingin jika Queen bertemu dengan Safir apalagi sampai melihat hubungan Safir dan Divya. Sungguh, Zantisya tidak tega jika itu harus terjadi.


"Mama setuju dengan Bunda. Mama dan Papa juga masih banyak kerjaan yanh sudah menanti. Kalian lanjutkan saja acara bulan madu kalian kalau memang Safir sudah benar-benar merasa lebih baik. Jangan melibatkan Queen dalam urusan pribadi kalian. Karena Queen juga datang ke Australia untuk berlibur sendirian," tutur Reina tegas dan menantap anaknya menuntut. Reina dan Hendri sepakat kalau mereka tidak akan memberitahu siapapun kalau Queen saat ini masih ada di Indonesia dan tepatnya ada di Jakarta.


Antara Jakarta dan Malang memang cukup dekat. Tapi jarak tersebut masih meminimalisir untuk Queen tidak bertemu dengan Safir dan juga Divya.


"Kami ikut pulang ke Indonesia saja, Ma. Maaf, tapi Safir ingin istirahat di rumah saja."

__ADS_1


"Divya?"


"Di ikut saja Ma. Lagi pula kalau di Malang Safir pasti akan lebih cepat sehatnya," ucapnya pasrah, walau sebenarnya Divya tidak setuju karena masih ingin melanjutkan acara bulan madu mereka.


"Baiklah. Kalau begitu Mama akan pesankan tiket untuk kita semua."


*


Di Jakarta.


Sejak tadi Queen hanya memilih duduk di kursi yang ada di teras samping rumah. Sore ini, ia hanya menjadi penonton Zen dan trio S yang sejak tadi asik berenang. Sedangkan Ruby hanya duduk jongkok di tepian kolam renang karena mengganggu terio S.


"Dor."


"Egh," Queen sampai terkejut dan lamunannya sampai lebur karena di kejutkan oleh Vian. "Kakak iseng banget sumpah."


"Sore-sore ngelamun. Kenapa enggak ikut renang?"


"Maunya juga dari tadi Queen ikut renang. Tapi Queen lagi PMS."


"Ups, sorryyyy ... Renang ah dari pada di amuk massa," ucap Vian sambil melarikan diri. "Om dataaaanggg ..." teriak Vian kemudian menjatuhkan tubuhnya ke dalama kolam renang. Bukannya pada takut, trio S justru tertawa-tawa kegirangan.

__ADS_1


"Mas, jaga anak-anak sama Kak Vian ya? Aku duduk di sana sama Queen."


"Siap Bu Booosss ..."


Ruby segera beranjak, untuk duduk bersama dengan Queen. "Kamu rencananya mau S2 di kampusku atau di kampus lain?" tanya Ruby sambil mendaratkan tubuhnya di dekat Queen.


"Di kampus kamu sajalah. Kata Om gratis kan? Tanpa perlu melakukan apapun langsung berangkat kuliah saja," ucap Queen yang mulai memanfaatkan Zen. Kali ini Queen ingin sedikit curang karena memang malas mengurus pendaftaran. Kalau ada yang mudah kenapa harus mengambil yang ribet. Toh di kampus tersebut ada saham yang sebagian besar sudah di ambil alih oleh Zen.


"Betul. Gratisan itu memang sangat penting. Aku boleh pinjam hp kamu?"


"Untuk apa?"


"Videoin anak-anak. Mumpung lagi sama Papa dan juga Omnya. Nanti jangan lupa kirim ke Kak Re ya?"


"Boleh," ucap Queen sambil meraih ponselnya dan mengaktifkan layarnya yang sudah di setting ke video. "Nih."


"Terima kasih," ucap Ruby sambil beranjak. Dengan sengaja, Ruby mematikan layar ponsel Queen. Setelah itu, Ruby memasukkan 6 angka sandi tanggal kelahiran Queen. Tapi sayangnya salah. "Tidak mungkinkan kalau ..." ucapan Ruby mengambang karena kini ia berhasil membuka sandi ponsel Queen. "Kamu hanya akan menyakiti hati kamu sendiri, Queen," gumam Ruby sambil balik badan menatap Queen. Mengarahkan kamera ke arah Queen.


"Kenapa?" tanya Queen sambil berteriak.


"Senyum," perintah Ruby dan Queen pun menurut sambil melambaikan tangannya. 'Sejak dulu aku memang sangat ingin kalau kamu sama Safir. Tapi sekarang sudah berbeda. Jadi aku juga harus bertindak karena aku tidak mau kalau kamu hanya akan menyakiti hati kamu sendiri secara diam-diam.'

__ADS_1


__ADS_2