Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 125 Karangan Cerita Indah


__ADS_3

"Tolong Kakak saja yang menunggu hasil rontgennya ya. Aku harus pulang sekarang," ucap Safir. Ia tidak ingin pulang sampai terlalu malam dan nantinya akan membuat dirinya bermasalah dengan Divya.


"Kamu naik taksi saja, Fir. Nyetir sampai ke rumah itu sampai satu jam-an. Belum lagi kalau terjebak macet. Punggung kamu juga pasti sakit sekali," Ruby jelas tidak tega. Dirinya sejak tadi ingin menangis tapi Ruby tahan sebisanya. Sungguh, Ruby seolah ikut merasakan rasa sakit di punggung Safir sekarang ini.


"Aku kuat kok, Kak. Jangan khawatir."


"Ya sudah. Hati-hati ya, Jangan lupa kamu minum obatnya dan juga di kompres."


"Iya, Kak. Oh iya, Tolong jangan beritahu Queen ya Kak, kalau aku yang membawanya ke rumah sakit. Katakan saja kalau petugas hotel yang sudah menolongnya."


"Aku tahu," ucap Ruby singkat dan memahami maksud adiknya tersebut. "Oh iya Fir."


"Iya. Kenapa Kak?"


Disituasi seperti ini, bisa-bisanya Ruby mengingat penilaiannya sendiri. Sekilas pikiran Ruby ingin mengatakan pada Safir, karena Ruby merasa kalau Divya memiliki niat tertentu. Tapi pikiran Ruby mulai ragu. Dirinya tidak boleh mengatakan hal-hal yang hanya menurut pikirannya sendiri, tanpa bukti apapun.


"Kenapa Kak?" Safir jadi bingung karena Ruby jadi terlihat banyak memikirkan sesuatu dan begitu ragu saat ingin mengutarakan isi pikirannya.


"Ehm. Kamu dan Kak Di mau pulang besokkan? Bagaimana kalau di tunda dulu? Setidaknya sampai punggung kamu terasa lebih baik," saran Ruby untuk mengalihkan niat pembicaraannya. Selain itu karena Ruby juga takut adiknya menahan rasa sakit selama penerbangan.


Safir menggelengkan kepalanya pelan. "Kami pulang besok saja Kak. Kalau aku masih mengulur waktu, itu akan buat Queen semakin lama pulang ke rumah. Aku tidak mau hal buruk seperti ini kembali Queen alami. Dan itu gara-gara keberadaanku. Aku pulang sekarang ya Kak."


"Hati-hati."


Ruby hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Rumit sekali keadaannya. Tapi kembali lagi pada takdir. Ini sudah menjadi pilihan Safir. Jadi sekarang yang bisa Ruby lakukan adalah membantu membuat jarak antara Safir dan Queen.


*


Cukup lama Divya bertemu dengan klien sore ini. Karena tidak cukup untuk mengukur saja, karena setiap keluarga yang datang juga jadi ikut memilih secara langsung model bajunya. Tidak cukup di situ, transaksi pembayaran sebagian uang juga di lakukan sebagai tanda jadi kerja sama.


Setelah semuanya selesai, semua pesanan makanan dari pihak klien diantarkan keruangan tersebut. Karena sejak tadi yang Divya urus adalah pekerjaan, sekarang Divya celingukan karena tidak mendapati keberadaan Safir.


Informasi yang didapat dari salah satu klien disana mengatakan kalau sudah sejak tadi Safir meninggalkan ruangan ini. Merasa kalau sejak tadi Divya hanya fokus dengan pekerjaan dan jadi mengabaikan Safir, membuat Divya jadi merasa bersalah. Perempuan tersebut segera meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Baru saja Divya hendak menghubungi Safir, tapi pesan singkat Safir lebih dulu Divya terima.


{Di, apa pekerjaan kamu sudah selesai? Maaf, aku tadi meninggalkan kamu tanpa berpamitan. Aku hanya berniat mencari udara segar di taman depan hotel. Tapi karena aku ada kepentingan dengan Mas Zen jadi aku pergi.} pesan Safir.


{Baru juga aku mau telpon kamu. Ya sudah kalau kamu ada urusan dengan Om Zen. Ini aku diajak makan dulu dengan klien. Kamu jangan lupa makan ya?} pesan singkat Divya.


{Jadi pekerjaan kamu sudah selesai? Aku enggak bisa jemput kamu sekarang. Aku hubungi sopir dirumah buat jemput kamu ya? Maaf} Pesan singkat Safir.

__ADS_1


{Ok!}


Divya hanya tersenyum samar saat membaca pesan singkatnya bersama dengan Safir. Setelah itu, Divya kembali fokus dengan kliennya lagi. Dalam keadaan apapun dan bagaimanapun, jika masih berhadapan dengan klien yang sudah pasti menguntungkan untuk pekerjaannya, maka Divya harus memberikan kesan yang baik. Karena dengan begitu, klien akan kembali suatu saat nanti. Atau bahkan akan menjadi langganan pembelian fasion lainnya yang memang di butuhkan.


Satu jam kemudian, acara makan bersama selesai. Divya segera menuju lantai bawah. Perempuan yang rambutnya hingga dibawah bahu tersebut segera merogoh ponselnya. Melihat apakah sopirnya sudah mengirim pesan kalau sudah sampai atau belum. Karena belum ada kabar apapaun, Divya memilih untuk duduk di kursi yang ada disana, sambil memainkan ponselnya.


"Divya."


Mendengar kalau namanya di panggil, membuat Divya langsung menoleh. "Eh, Dafa. Kamu di Jakarta juga?" Divya tersenyum senang melihat teman kuliahnya itu. Siapa yang menduga kalau kini mereka bertemu.


"Begitulah. Baru saja aku check in. Kamu ngapain disini? Check in dengan Safir ya?"


"Eh, bukan. Aku baru saja bertemu dengan klien. Kamu ngapain di sini?" Divya bersyukur bertemu dengan Dafa. Setidaknya lelaki tersebut bisa menjadi teman mengobrolnya.


"Ada janjian dengan seseorang di sini, kamu sampai kapan berada di Jakarta?" tanyanya yang semakin ingin tahu.


"Besok aku sudah pulang kok ke Malang. Kamu?"


"Wah, sayang sekali ya kita tidak bisa pulang ke Malang bersama. Aku tiga harian rencananya ada disini."


Divya hanya mengangguk saja. Merasakan ponselnya bergetar, Divya segera menerima panggilan dari sopirnya tersebut.


Dafa terus memperhatikan punggung Divya, Ia tersenyum samar dan hatinya merasa lega karena setelah beberapa hari tidak bertemu, kini dirinya bisa bertemu lagi dengan Divya.


"Apa besok aku pulang ke Malang juga ya?" gumam Dafa sambil menimba-nimba keadaan.


Setelah melalui jalanan yang cukup jauh, Mobil yang sejak tadi di tumpangi Safir sudah memasuki halaman rumah. Secara bersamaan, mobil yang sejak tadi di kemudikan oleh Safir juga baru memasuki halaman rumah.


"Kamu baru pulang?" tanya Safir setelah keluar dari dalam mobil.


"Heem. Cukup lama juga aku nungguin sopir. Untung ada ..." ucapan Divya seketika terhenti. Untung saja dirinya bisa mengerem ucapannya sendiri. Kalau sampai Safir tahu diriya tidak sengaja bertemu dengan Dafa, bisa-bisa Safir marah seperti waktu itu.


"Kenapa?" Safir jadi penasan karena Divya tidak menyelesaikan ucapannya.


"Ada klien aku yang lain. Klien lama dan sudah sering kerja sama. Tadi tidak sengaja bertemu di hotel. Jadi dia menemani aku mengobrol sambil menunggu sopir."


Untuk sesaat, Safir memperhatikan wajah Divya. Tatapannya tidak terbaca dan tersenyum samar. "Aku minta maaf ya. Kalau tadi aku enggak pergi, pasti kamu enggak akan menunggu seperti tadi."


"Enggak apa-apa. Kamukan ada keperluan sama Om. Oh iya, kamu pulang sendiri? Om mana?"

__ADS_1


"Mas Zen pergi dengan Kak By."


"Owh," Divya mengangguk pelan sambil memperhatikan wajah Safir lebih lama. "Loh, wajah kamu kenapa Fir? Kenapa memar seperti ini?"


"Agh," ringis Safir saat Divya menyentuh wajahnya dan sedikit memberikan tekanan.


"Sorry, sorry," wajah Divya seketika terlihat khawatir. "Kamu baru kelahi?"


Jujur, Safir bingung mau menjawab bagaimana. Tapi berbohong adalah pilihannya sekarang. "Ada sedikit masalah tadi saat di jalan. Aku terlibat adu omongan dan berakhir sepetti ini."


Untuk sesaat Divya terdiam. Sungguh aneh rasanya. Karena Safir yang pendiam, kenapa bisa terlibat adu omongan.


"Kamu ini kenapa bisa adu omogan sampai kelahi seperti ini?" ucap Divya kesal. Spontan saja Divya menepuk punggung Safir.


Bug!


"Agwh," Safir kembali meringis merasakan punggungnya yang di pukul Divya. Sebenarnya pukulan Divya pelan. Tapi karena punggungnya yang memang sedang sakit membuat Safir kesakitan.


"Loh kenapa lagi?" Divya semakin bingung dan juga bertambah khawatir.


Kini keduanya sudah memasuki kamar. Tentunya setelah Safir membuat karangan cerita kalau tadi Safir telah bertengkar dengan orang yang tidak di kenal. Entah Divya benar percaya atau tidak. Karena baru kali ini Safir membuat karangan cerita indah panjang kali lebar.


"Awh," ringis safir saat Divya membantunya mengompres punggungnya.


"Sakit banget ya?"


"Lumayan."


"Kamu sudah minum obat anti nyeri belum? Besok aku antar ke rumah sakit ya? Kita tunda dulu saja pulang ke Malangnya."


"Tiket juga sudah kita beli, Di. Kita tetap pulang besok saja."


"Tapi ini bukan soal tiket, Fir. Ini ..."


"Aku baik-baik saja kok. Tadi juga aku sudah periksa di dokter makanya aku sudah minum obat. Aku juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaanku."


"Ok kalau begitu. Aku beres-beres sekarang. Biar besok enggak perlu beres-beres dadakan lagi."


"Aku bantu," ucap Safir yang ikut Divya beranjak.

__ADS_1


"Enggak usah. Beberas sedikit juga aku bisa. Kamu tidur saja duluan. Biar besok kamu lebih baikan."


__ADS_2