
Satu bulan sudah berlalu. Setelah tinggal selama 1 minggu di Villa, barulah Vian berhasil membujuk Divya untuk datang ke rumah sakit.
Semaksimal mungkin Vian membujuk Divya untuk menurut dengannya. Keadaan Divya yang sifat kepribadiannya bahkan tidak disadari dan diketahui semua orang, tentu membuat Vian dan keluarga sangat khawatir. Perubahan emosi Divya yang akhir-aakhir ini tidak terkendali membuat Vian takut kalau kejiwaan Divya sampai terganggu.
Sesuai dengan anjuran dokter. Divya harus melakukan terapi dan pengobatan. Baik terapi yang dilakukan dari rumah sakit dan juga terapi kedekatan keluarga.
Karena riwayat keluarga sehat dan tidak ada yang memiliki gangguan mental, dokter memperkirakan pengobatan selama kurang lebih 6 bulan dengan mengikuti arahan dokter. Kemungkinan besar, Divya bisa kembali sembuh. Lamanya pegobatan tentu tergantung dari perkembangan kesehatan Divya. Semua tergantung pada Divya.
Vian jelas sangat bersyukur. Karena penjelasan Dokter memberikan sebuah harapan untuk Vian dan seluruh keluarga.
Meskipun Reina dan Hendri masih terpukul dengan kenyataan terkait Divya, tapi mereka berusaha menerima. Anggap saja ini semua adalah kelalaian mereka sebagai orang tua. Karena setiap weekend, Reina dan Hendri selalu datang ke Vila. Berharap kehadiran mereka bisa membantu Divya untuk kembali sehat.
Yusuf dan Nissa juga baru dua kali datang ke Semarang guna menemui Divya. Itu juga karena permintaan Divya sendiri. Tentu dengan senang hati Yusuf dan Nissa datang melihat cucu mereka. Sedangkan Zen dan Ruby beserta ketiga anak kembar mereka baru datang 1 kali. Itupun karena Divya sendiri yang meminta karena sangat ingin bermain dengan Shanum.
Dari semua orang yang sudah pernah Divya rindukan, hanya Queen saja yang belum pernah Divya minta untuk datang.
Untuk orang lain, memang masalah itu sangat sepele. Bahkan salah juga jika Divya membenci Queen yang jelas tidak tahu apa-apa. Tapi bagi Divya sendiri, luka hati dimasa lalu yang membuatnya memendam dendam pribadi hingga seperti ini, karena memang dirinya benar-benar sakit hati. Merasa tersaingin dan merasa kalah dari beberapa hal jika dirinya harus bersanding dengan Queen.
Vian yang tidak mau adiknya itu terus mengkhawatirkan Divya, sesekali Vian mengirimkan foto Divya. Queen pikir, Divya seperti ini karena masalah rumah tangga Divya dengan Safir. Namun, melalui foto Queen sudah merasa lega karena bisa melihat keadaan terbaru Divya.
__ADS_1
"Sudah saatnya minum obat, Kak!" ucap Vian sambil mendekati Divya dan membawa obat yang memang harus diminum secara rutin oleh Divya.
"Sudah hampir satu bulan aku minum obat. Aku bosan. Aku ingin kerja saja. Bisa gila aku kalau seperti ini terus," ucap Divya. Ia mengabaikan tangan Vian yang sudah mengulurkan obat.
"Jangan pikirkan pekerjaan dulu, Kak. Nanti kalau Kakak sudah sepenuhnya sehat, Kakak bisa kok kembali bekerja seperti biasanya."
"Aku enggak sakit, Vian. Ini sih sebenarnya kamu yang sakit bukan aku. Orang segar bugar seperti ini masih saja disuruh minum obat," omel Divya yang sedang menolak obat dari tangan Vian.
"Memangnya siapa yang bilang Kakak sakit?"
"Itu tadi kamu bilang aku setelah sepenuhnya sehat kan? Apa coba artinya kalau bukan kamu yang menganggap aku sakit," sewot Divya yang sudah enggan minum obat. Rasanya sangat bosan.
"Kakak itu sehat. Tapi kata dokter kemarin apa coba? Kalau Kakak menurut mau minum obatnya terus, pasti Kakak akan bisa beraktifitas seperti biasanya lagi. Hanya sekitar 5 bulanan lagi. Ini Kakak sudah hampir 1 bulan loh mau minum obat rutin. Hanya kurang 5 bulan lagi Kak," rayu Vian sebisanya.
Divya menurut. Ia segera meraih obat yang ada ditangan Vian dan segera meminum beberapa jenis obat tersebut. Setelah itu, Vian juga ikut duduk disana. Menikmati suasan keindahan alam yang begitu memanjakan mata.
"Kemarin kita sudah menanam bunga. Bagaimana kalau besok kita mencoba menanam sayuran menggunakan air, Kak. Hidroponik,bagaimana?" tawar Vian agar mereka memiliki kegiatan yang positif dan bisa bermanfaat untuk itu.
"Boleh," jawab Divya pasrah. Ia pikir dari pada tidak ada pekerjaan lain. Jadi Divya mengikuti saja apa yang diusulkan Vian. Sekalipun dirinya tidak benar-benar suka melakukan apapun yang membuat tangannya kotor. Walau tidak bisa Divya pungkiri kalau semua itu menyenangkan hatinya.
__ADS_1
"Kalau begitu besok Vian cari beberapa keperluan untuk membuat tanaman hidroponik. Kakak mau ikut?
"Boleh," jawan Divya singkat lagi.
Divya merenung. Memikirkan apa yang sudah terjadi di dalam hidupnya. Segalah hal yang ingin Divya ulang dan juga dia perbaiki. Agar tidak ada yang retak dan semuanya kembali utuh lagi.
"Aku rindu dengan Safir, Vian!"
"Kakak!"
"Yeah, aku tahu kalau semuanya sudah tidak mungkin untuk diperbaiki. Tapi kenapa perasaan ini menyiksa hati aku. Andai saja tidak ada dia, aku akan pura-pura anggap kalau Safir selama ini benar-benar mencintai aku."
Vian langsung beranjak dan menepung punggung Divya yang bergetar. "Menangis saja kalau Kakak ingin menangis. Tapi Vian mau kasih tahu Kakak. Dia yang Kakak maksud itu adik kita. Adik bungsu yang dulu kita sayangi. Saat kecil, dia yang selalu kita jahili agar dia menangis. Apa Kakak ingat, meski begitu dia selalu mengikuti kita karena dia sayang sama kita. Begitu juga kita yang sejak dulu saling menyayangi. Kakak tidak lupa namanya kan?"
Divya hanya diam. Ia semakin menunduk dan meremas bajunya sendiri. "A-aku ..." ucap Divya sampai tergagap.
"Tidak perlu disebutkan. Yang penting ingatkan hati Kakak bahwa dia sangat sayang dengan Kakak. Setiap hari, dia sudah seperti seorang ter***oris karena terus mengirim pesan singkat pada Vian karena sangat khawatir dengan Kakak."
Divya menghela nafasnya. Ia mengakat wajahnya dan menatap Vian yakin. "Aku harus apa biar Safir bisa kembali sama aku, Vian? Tapi ..." ucapan Divya terhenti dengan tatapan yang juga sayu, "Semuanya sudah sulit."
__ADS_1