
"Kakaaakkk ..." Queen langsung melambaikan tangannya saat melihat keberadaan Vian yang menunggu dirinya di depan area check in.
Sesuai dengan kesepakatan yang sudah Queen dan Vian buat, kalau pagi ini Vian akan menjemput Queen di bandara. Sejak awal, memang bukan Australia tempat pilihan Queen, melainkan ikut bersama Vian untuk sementara waktu.
Sudah berapa tahun mereka tidak hidup bersama. Karena Vian memilih pergi dari rumah setelah terjadinya masalah di dalam keluarga.
Masalah yang di hadapi Queen saat ini hampir sama dengan Vian. Hanya jalan ceritanya saja yang berbeda. Maka sekarang, Queen ingin tahu bagaimana Vian hidup selama ini. Bagaimana cara Vian melupakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Vian tersenyum. Ia melangkah lebar mendekati Queen yang sibuk menggeret kopernya tersebut. Melihat senyuman Queen pagi ini, Vian berharap kalau Queen sudah mulai rela dengan semuanya yang sudah terjadi. Ikhlas bahwa tidak semua hal yang Queen inginkan bisa tercapai.
"Kakak sudah datang sejak tadi?" Queen memeluk Vian sebentar.
"Sudah sejak dua jam yang lalu aku di bandara," Vian melerai pelukan mereka kemudian mengambil alih koper Queen. Ia membawa adiknya untuk meninggalkan bandara sambil menggandeng adiknya tersebut.
"Kenapa awal sekali datangnya?"
"Aku malas kena omel adikku yang cerewet ini, karena kelamaan menunggu," tutur Safir sambil mengacak-acak puncak kepala Queen.
"Kakak. Rambut Queen jadi berantakan nih," protesnya sambil melepaskan diri dari gandengan Vian. Kini Queen memilih untuk merapihkan rambutnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Sudah siap pergi dari sini?"
"Siap," sekalipun hati Queen masih terasa terluka. Kecewa dengan perasaannya sendiri. Tapi kini Queen tersenyum senang. Cinta memang tidak harus memiliki. Queen hanya perlu waktu untuk mengobati dirinya sendiri. Maka sekarang, Queen menunjukkan pada Vian betapa semangat dirinya pagi ini.
Dari bandara Vian mengajak Queen untuk menaiki taksi online. Siapa yang bisa menduga, setelah menempuh perjalanan, ternyata Vian bawa Queen menuju terminal arjosari.
Begitu keluar dari mobil, Queen bingung menatap area depan terminal. "Kakak, kita mau ngapain ke sini?" sungguh, bukan ini yang mau Queen tanyakan. Ia tahu kalau terminal ini adalah tempatnya para penumpang yang akan menggunakan angkutan bus antar kota dan provinsi. Tapi masalahnya, Queen memang tidak pernah naik bis kecuali saat ada acar sekolah dulu.
"Naik Bis lah. Mau ngapain lagi?" Vian hanya tersenyum samar saat melihat reaksi wajah Queen yang masih nampak heran.
"Sebenarnya Kakak ini tinggal dimana? Sudah di luar jawa timur?" Queen semakin penasaran.
"Kak, kalau dekat dan memang masih area Jawa, kita naik taksi online saja. Bukannya Queen bermaksud apa-apa. Queen punya banyak uang, Kak. Gaji Queen selama kerja sama Safir itu masih utuh," tanpa sadar, Queen terlihat tenang saat kembali menyebut nama Safir.
"Itukan gaji kamu. Uangmu, simpan saja. Selama ikut sama aku, kamu adalah tanggung jawab aku. Jadi wajib menurut, ok."
Queen mengerucutkan bibirnya. Ia pasrah saja saat Vian menggandeng tangannya untuk memasuki area terminal dan langsung menuju ke tempat tunggu untuk menunggu bus yang sudah Vian beli tiketnya sejak kemarin, menunggu waktunya jalan ke lintas yang akan di lalui.
*
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB. Jika Safir sejak tadi masih saja lelap dengan mimpinya sendiri. Berbeda dengan Divya yang tetap terjaga karena semalam ia sudah cukup puas tidur.
Perut Divya sudah mulai terasa lapara. Ia sudah meminta pegawai untuk mengantarkan makanan ke kamar. Rasanya Divya sudah tidak bisa lagi menahan perut yang keroncongan, tapi membangunkan Safir juga Divya tidak tega. Mau bagaimana lagi. Karena Divya juga tidak mungkin makan lebih dulu.
"Fir ... Safir," suara Divya memang pelan, tapi kini tangannya menepuk lengan tangan Safir. Lelaki yang sejak tadi betah tiduran dengan posisi miring. "Safir."
"Ya," cukup terkejut Safir, karena terusik. Awalnya ia bingung kenapa ada suara perempuan lain yang membangunkannya, karena terkadang suara Zantisya lah yang membangunkan dirinya. Tapi di detik selanjutnya, Safir ingat kalau kemarin dia sudah menikahi Divya.
"Maaf ya aku bangunin kamu. Aku lapar sekali," keluh Divya sambil menepuk perutnya yang ramping.
"Oh ya Allah. Aku minta maaf sama kamu, Di, karena sudah buat kamu nunggu aku tidur sampai kelaparan seperti ini," sepontan saja Safir bangun. Padahal biasanya ia tidak pernah tidur setelah waktu subuh. Ini pasti karena semalaman suntuk dirinya tidak bisa tidur hingga membuat Safir mengantuk di pagi hari.
"Enggak apa-apa, Fir. Aku tahu kok kalau kamu sedang kurang sehat. Kita makan dulu, setelah itu kalau kamu mau lanjut tidur ya tidur saja. Makanan sudah aku pesanin kok," tunjuk Divya pada meja troli yang terdapat beberapa menu.
"Aku cuci muka dulu."
Safir bergegas menuju kamar mandi. Ia memilih buang air kecil dulu barulah mencuci wajahnya yang terlihat lelah karena kurang tidur. Setelah itu Safir menatap wajahnya pada cermin sambil mengeringkan wajah yang kini sudah terlihat lebih segar.
"Kamu sudah menikahi perempuan yang kamu pilih sendiri, Safir. Jadi jangan melukainya seperti yang telah kamu lakukan pada Queen tanpa kamu sadari selama ini. Simpan rapat-rapat pilihan hatimu. Karena sekarang, Divya adalah istrimu. Ayo jadi suami yang baik. Lambat laun, kamu pasti akan mengabaikan itu semua. Cinta datang karena terbiasa kan? Maka Biasakan dirimu pada Divya."
__ADS_1
Safir sadar, petunjuk dari Tuhan adalah jawaban yang paling benar. Tapi apa yang bisa di lakukan Safir jika takdirnya telah ia putuskan ke jalan ini.