
Safir dan Queen sama-sama terkejut saat Divya kembali secara tiba-tiba. Antara bersyukur karena kedatangan Divya membuat Safir tidak sampai mengungkapkan kata yang tidak seharusnya. Mengingat kembali pesan Ruby, membuat Safir harus kembali tersadar. Tapi hati Safir memilih egois, karena yang mendominasi adalah rasa kecewa. Jujur saja, Safir belum puas bisa berbincang dengan Queen secara bebas. Safir menyesal karena tadi dirinya jadi lebih banyak diam.
'Rindu? Rindu apa maksudnya?' hati Queen jadi banyak tanda tanya. Sekarang hati Queen juga jadi ingin egois karena kenapa Divya harus sudah datang disaat Safir belum selesai bicara.
"Sekarang?" tanya Safir memastikan.
"Iya, sekarang dong, Fir. Masak besok," ucap Divya yang semakin kesal.
"Kamu mau pulang bersama sekalian tidak?" tawar Safir pada Queen. Karena kini juga waktu sudah sore.
"Queen bawa sopir tidak?" tanya Divya sambil tersenyum. Divya mendekati Safir dan langsung meraih lengan tangan Safir. "Kalau memang tidak datang dengan sopir, Queen pulang bersama Kakak dan suami Kakak ini."
Queen sampai mengedipkan kedua matanya sedikit lebih cepat. Bingung dengan barisan kata yang baru saja di utarakan Divya
"Tidak perlu Kak. Queen tadi datang bersama dengan sopir kok. Kakak hati-hati di jalan," ucap Queen kemudian tersenyum kecil.
Untuk sesaat, Queen dan Safir hanya saling melihat. Keduanya merasa kalau obrolan mereka memang belum tuntas. Tapi kini, Safir ikut saja saat Divya mulai menarik tangannya.
Sedangkan sejak tadi, Fahmi hanya bisa menggelengkan kepalanya keheranan melihat cara interaksi Divya. Mungkinkah di dunia ini yang tahu aslinya Divya hanya dirinya saja. Fahmi jadi perihatin melihat Queen. Gadis yang tidak tahu apa-apa tapi harus mendapatkan kebencian Divya tanpa Queen sadari selama ini.
"Kami pamit pulang, Fahmi. Salam dengan istri kamu. Aku doakan istri dan calon anak kalian akan sehat selalu."
"Terima kasih."
Hanya Fahmi dan Divya saja yang tahu tentang pertemuan sorot mata mereka. Karena semuanya bermula dari hubungan Fahmi dan Divya yang tidak sejalan.
"Fahmi, kami pulang lebih dulu," ucap Safir berpamitan.
"Silahkan. Hati-hati saat mengendarai mobil, Fir."
Setelah Safir dan Divya meninggalkan restoran, Fahmi dan Amanda kembali duduk bersama dengan Queen. Ketiganya memilih untuk saling mengobrol terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka juga memilih meninggalkan restoran tersebut.
Hingga saat malam harinya. Seperti biasanya, setelah makan malam semua orang berkumpul di ruang keluarga.
Jika biasanya Queen terlihat semangat bermain dengan si kembar, tapi malam ini reaksi wajah Queen nampak berbeda.
Semua yang memperhatikan wajah Queen jelas jadi bertanya-tanya. Tapi mana mungkin salah satu dari mereka yang ingin mengetahui keadaan Queen bertanya saat ini juga. Apalagi sekarang sedang ramainya keluarga yang berkumpul.
"Apa ada masalah?" tanya Vian yang kini memilih mengikuti adiknya menuju ruang makan. Queen yang tadi tidak banyak menghabiskan makanan, kini Queen ingin menikmati salad buah yang tersimpan di dalam kulkas.
__ADS_1
"Tidak ada. Kenapa Kak?"
"Bilang sama aku, ada apa? Tadi pagi kamu pergi ke kampus pagi-pagi sekali sampai tidak ada yang kamu pamiti dari salah satu Oma dan Opa. Malam ini kamu juga enggak banyak makan. Dan sekarang apa? Kamu enggak ceria seperti biasanya."
Rasanya Vian tidak rela jika Queen terus menyiksa diri, apalagi jika itu berkaitan dengan Safir. Kalau saja Safir bukan suami Divya. Mungkin sudah sejak lama Vian memukuli Safir agar sadar dengan perasaan Queen.
"Queen hanya sedang lelah, Kak. Dan besok Queen harus urus orderan kue juga."
Vian hanya menghela nafasnya pelan. Terlihat dari sorot mata Queen yang sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi Vian bisa apa. Ia tidak bisa memaksa Queen jika memang Queen tidak ingin membicarakan isi hatinya sekarang.
"Cepat keatas lebih dulu. Istirahat lebih awal agar besok bisa lebih baik melakukan banyak hal. Kalau bisa, kurangi dulu urusan toko kue, Queen. Fokus sama kuliah."
"Baik, Kak. Queen keatas duluan ya," pamitnya.
"Queen."
"Ya."
"Aku harap, usahamu sampai dititik ini. Selama hampir 3 bulan ini tidak kamu sia-siakan begitu saja."
Queen tersenyum manis. Ia terharus karena Vian sangat mengkhawatirkan dirinya. "Tentu, Kak."
"Agh," keluh Safir yang sejak tadi sudah memejamkan kedua matanya. Safir terkejut karena kini, Divya sudah duduk di atas perutnya. "Di. Kamu ngapain ..."
Ucapan Safir sudah tidak bisa di lanjutkan lagi karena dengan gerakan cepat Divya langsung menyatukan bibir mereka. Safir butuh Divya untuk mengobrol dulu, maka sekarang Safir berusaha menegakkan tubuh Divya.
"Kenapa?" tanya Divya yang terdengar menyentak, setelah bibir mereka sudah terpisah.
"Enggak seperti ini caranya, Di."
"Lalu seperti apa, Fir? Kejadian di Paris itu sudah lebih dari 2 bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang kamu belum mau sentuh aku lagi. Aku ingin kita bisa seperti pasangan normal pada umumnya. Aku ingin kita segera memiliki anak. Mau sampai kapan kita seperti ini terus, Fir? Apa ada yang kurang dari aku sampai kamu tidak tertarik. Bukankah normalnya lelaki itu akan tergoda dengan hal seperti ini?"
"Di. Aku tahu aku salah. Kamu bilang aku yang lemah kan? Maka biarkan aku mengumpulkan rasa percaya diriku lagi. Aku tidak ingin nyentuh kamu terlalu jauh sedangkan aku masih seperti ini. Kamu kenapa sebenarnya, Di? Bukankah kita sudah saling sepakat."
"Aku capek tunggu kamu. Pokoknya malam ini kamu harus memaksakan diri. Kalau tidak di coba, terus mau sampai kapan kita seperti ini?"
Setelah mengucapkan itu semua, Divya kembali mendekatkan wajahnya. Ia ingin mengajak Safir untuk melakukan pertarungan malam ini.
Safir segera mengubah posisi mereka agar Divya bisa dia kendalikan. Divya sudah merasa senang dengan hal itu, tapi ternyata Safir melepaskan semuanya.
__ADS_1
"Sepulang dari sini, luangkan waktumu untuk kita kembali honeymoon. Jangan melakukan disini, Di. Pikiranku terpecah kemana-mana," ucap Safir pelan, mencoba untuk memberikan Divya pengertian.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Sampai kamu mengorbankan aku seperti ini?"
"Aku minta maaf, Di."
Ucapan Divya seolah menyadarkan Safir. Karena kebodohannya sendiri, dirinya jadi melukai Divya seperti ini. Hubungan ranjang sudah pasti sangat Divya inginkan.
Safir jadi berpikir, kalau saja waktu itu dirinya batalkan acara yang sedang berlangsung, mungkin Divya tidak akan merasa seperti ini. Walau pada akhirnya Safir juga tidak akan mendapatkan Queen. Tapi setidaknya, dirinya tidak terlibat dalam hubungan yang menyiksa batinnya sendiri. Menyesalpun percuma sekarang.
"Aku minta maaf. Ini sudah malam. Kita tidur saja," ucap Safir sambil menarik selimut guna menutupi tubuh Divya yang tercetak jelas.
Satu jam kemudian, deru nafas Divya sudah terdengar teratur. Itu artinya Divya sudah benar-benar terlelap. Safir segera mengganti lampu menjadi temaram karena dirinya juga ingin segera tidur. Agar untuk sesaat dirinya bisa melupakan apa yang baru saja terjadi.
Pikiran Safir melayang untuk membayangkan dirinya yang harus siap kalau sampai setelah ini mereka akan pergi honeymoon lagi. Karena pada saat itu, Safir harus lebih tampil percaya diri lagi, agar dirinya menjadi lelaki sejati.
"Kenapa juga obat yang di berikan dokter tidak mempengaruhi aku ya?" gumam Safir yang memang sudah konsultasi pada dokter sejak satu bulan yang lalu. Safir juga bahkan mengikuti saran dokter untuk mengkonsumsi makanan yang mampu menunjang dirinya mudah tergugah dan tahan lebih lama. Tapi jika di ingat lagi, Sampai saat itu tidak ada hasilnya.
"Apa aku harus konsultasi lagi, agar mendapatkan dosis yang lebih tinggi. Tapi ... Bagaimana kalau nanti aku mati?" gumam Safir yang semakin kalut sendiri.
Dua jam sudah berlalu, karena Safir tidak bisa tidur, ia memilih beranjak dan keluar dari kamar tersebut. Sudah tengah malam, sudah pasti tidak ada orang yang berkeliaran lagi.
Seperti biasanya, karena tidak bisa tidur, Safir memilih menuju ruang makan untuk membuat minuman hangat. Di dapur bersih yang ada di ruang makan memang sudah di sediakan apapun jika anggota keluarga membutuhkan dan ingin membuat sendiri makanan atau minuman cepat saji.
Safir menikmati susu hangat sambil duduk di kursi makan. Bukannya menikmati sedikit demi sedikit, minuman hangatnya tersebut. Safir justru terbuai lamunan karena memikirkan banyak hal.
Klek!
Lamunan Safir langsung lebur saat lampu dapur yang temaram, kini berubah menjadi terang.
"K-kamu disini?" tanya Queen gugup dan juga terkejut. "Maaf, ya. Aku enggak maksud ganggu kamu."
Klek!
Spontan saja, lampu kembali di matikan dan Queen ingin segera meninggalkan ruangan makan.
'Kenapa harus tidak sengaja bertemu tengah malam seperti ini sih?'
"Anggap saja kamu tidak melihatku. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan."
__ADS_1