Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 161 Jadwal Libur


__ADS_3

Bagi Queen, ini bukan saatnya memikirkan bagaimana perasaan dirinya. Saling paham saja, karena yang Queen tahu kalau Safir sangat mencintai Divya. Meskipun Divya meninggal dalam keadaan sudah berpisah dengan Safir. Tapi Queen yakin kalau Safir pasti sangat terluka. Seperti Queen yang masih belum percaya dengan keadaan ini. Hanya saja, Safir tidak memperlihatkan kesedihannya. Maka sekarang, kalau pun Safir ingin tidur di kamar Divya, maka Queen tidak akan mempermasalahkan hal itu.


"Aw," pekik Safir.


"Eh," Queen jadi terkejut. Siapa yang tahu, pintu yang akan Queen tutup, kini di tahan oleh tangan Safir. Membuat tangan lelaki tersebut terjepit. "Maaf," ucap Queen dengan hati yang merasa bersalah. Setelah itu Queen mundur agar Safir juga bisa segera masuk.


Meskipun Safir masih bingung mau bagaimana kedepannya dengan Queen. Tapi tetap saja, mana mungkin dirinya mau tidur di kamar Divya. Meski dengan Divya sudah saling memaafkan, tapi jelas salah kalau dirinya tidur dikamar Divya demi menghindari interaksi secara langsung dengan Queen.


"Kenapa Fir?" tanya Vian yang mendengar suara kesakitan Safir. Lelaki tersebut baru saja naik kelantai 2.


"Tidak apa-apa, Kak. Kakiku enggak sengaja kesandung," ucap Safir sambil menyentuh lututnya.


"Hati-hati kalau jalan," ucap Vian dan langsung berlalu begitu saja.


Kalau boleh jujur, Vian inginnya Queen bisa menemukan lelaki lain. Yang sudah pasti lelaki yang jauh lebih baik dari Safir. Diluar sana, pasti ada orang yang jauh dan jauh lebih baik dari Safir. Tapi mau bagaimana lagi. Jika pada akhirnya Queen dan Safir bersatu dengan cara seperti ini. Pada akhirnya, cinta akan kembali pada asalnya.


"Aku atau kamu duluan yang mau mandi?" tanya Queen setelah Safir sudah masuk kamarnya.

__ADS_1


"Kamu duluan saja," ucap Safir sambil meletakkan tas jinjing kecil berisi pakaian gantinya. Baju-baju yang tadi diantarkan sopir ke rumah ini.


Queen hanya mengangguk saja. Ia segera mengambil pakaian ganti dan segera masuk kedalam kamar mandi. Hingga hampir setengah jam lamanya, Queen baru keluar dari kamar mandi. Safir segera beranjak untuk bergantian membersihkan diri.


"Tunggu aku kalau mau sholat," ucap Safir pada perempuan yang menggunakan baju tertutup


Queen merasa sangat aneh. Meski dirinya dulu pernah tidak menggunakan jilbab, tapi sekarang mau melepas pun Queen masih ragu. Padahal saat ini, Safir adalah suaminya. Hanya saja, Queen sedang berusaha menyadarkan hati. Queen juga takut kalau nantinya Safir merasa tidak nyaman padanya.


Hingga tidak lama kemudian, Safir sudah keluar dengan aroma wangi sabun yang sangat segar. Padahal Safir menggunakan sabun mandi yang sama, tapi kenapa aromanya sangat berbeda dan jauh lebih segar saat digunakan oleh Safir.


"Ayo," ajak Safir sambil berdiri ditempat solat yang sudah disiapkan oleh Queen.


"Kamu solat saja."


"Kamu sudah solat duluan? Kan aku bilang tadi tunggu aku."


"Belum. Tapi aku baru saja terkena jadwal libur," ucap Queen malu.

__ADS_1


"Owh, Sorry," ucap Safir singkat kemudian segera melakukan kewajibannya.


Hati Queen merasa sangat bersyukur. Tamu bulanannya baru datang saat ini. Coba saja kalau sejak tadi pagi, pasti Queen tidak bisa menyaksikan langsung raga Divya yang akan disatukan dengan bumi.


Queen merebahkan tubuhnya. Ia meringkuk sambil memejamkan kedua matanya. Dari sela-sela matanya, Queen melihat pergerakan Safir yang sedang solat.


'Queen enggak tahu, kenapa Kakak seyakin itu kalau Queen akan bahagia dengan Safir. Tapi, maaf ya Kak disaat Queen seharusnya sedang bersedih karena Kakak pergi. Hati Queen justru merasa menemukan sesuatu yang Queen mau. Maafin, Queen ya Kak,' gumam hati Queen.


Setelah usai membaca doa, Safir langsung beranjak dan membereskan alat solat. Ia menoleh kebelakang Melihat Queen yang sepertinya sudah lelap.


Dari sela matanya, Queen melihat Safir yang mendekatinya. Membuat Queen sedikit menggerakkan tangannya yang Queen tumpuk dan menjadi bantal.


Karena Safir mengira kalau Queen sudah tidur nyenyak, maka Safir mengubah posisi tidur Queen agar lebih nyaman. Setelah seharian ini dan semua yang sudah terjadi, Safir yakin kalau Queen tidak akan terusik karena sentuhannya. Lagi pula Safir tahu kalau Queen sudah tidur, maka akan sangat nyenyak, walau itu didalam mobil.


Setelah membenarkan posisi tidur Queen, Safir menyelimuti tubuh Queen. Untuk sesaat, Safir menatap wajah sembab Queen. Ingin rasanya Safir menyentuh pipi Queen sebentar. Tapi dirinya takut kalau nantinya justru memberatkan hati Safir. Setelah itu, Safir segera menuju sofa. Tubuhnya juga sudah terasa lelah, bersamaan dengan pikiran yang sudah bercabang. Maka sekarang sudah saatnya dirinya juga untuk istirahat.


'Ada apa dengannya?'

__ADS_1


__ADS_2