Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 169 Gas Pol Fiiirrr


__ADS_3

Baru dua malam Safir dan Queen tinggal diapartemen. Tapi Queen sudah berhasil membuat Safir bingung sendiri. Hati Safir dibuat tidak tenang. Karena setiap didalam apartemen, dimana pun Queen justru tidak mengggunakan jilbab. Membuat kedua mata Safir terus disuguhi perempuan cantik yang rasanya sia-sia jika tidak digunakan dengan tepat.


Safir hanya terus menahan diri. Walau rasanya sangat menyesakkan dada. Kalau saja Safir sudah memiliki kepercayaan diri yang lebih. Sudah pasti Safir akan memilih terbuka. Tapi semua terasa begitu sulit.


Siang ini, setelah pekerjaan selesai. Safir memasuki ruang kamar yang ada di sana. Safir merebahkan tubuhnya sambil memijati kepalanya yang terasa pusing.


Sejak tadi, Safir memang sedang menyelesaikan pekerjaan. Tapi pikiran Safir tidak fokus karena terus terbayang wajah Queen.


Safir menarik nafasnya dalam. Setelah itu, Safir meraih ponselnya karena ingin menghubungi Ruby. Tidak ada yang membuat Safir nyaman untuk membahas masalah pribadinya itu selain Ruby. Meskipun Safir tahu akan diomeli Ruby. Tapi bicara dengan saudara kembarnya akan membuat Safir merasa jauh lebih baik.


"Waalaikum salam," jawab Safir. "Kakak sedang sibuk enggak?" tanyanya sambil menekan menu pengeras suara.


"Enggak. Kenapa Fir?"


"Anak-anak sudah tidur, Kak?"


"Sudah. Kalau belum, mana mungkin aku bisa terima panggilan dari kamu. Ada apa?" tanya Ruby. Ia sudah curiga karena memang Safir paling jarang berbasa-basi seperti ini.

__ADS_1


"Aku sedang bingung Kak," ucap Safir pelan.


"Ada apa? Urusan kamu dengan Queen?"


"Iya. Aku harus apa sekarang Kak. Rasanya sangat sulit dan menyesakkan sekali. Tapi aku juga ingin melepaskan semuanya agar terasa lega."


"Kamu enggak sedang berpikir mau menceraikan Queen kan Fir?" tanya Ruby menyentak.


Bukannya segera menjawab. Tapi Safir justru terdiam. Membuat Queen yang baru saja datang hanya bisa terpaku diambang pintu.


Sejak tadi Queen sibuk didapur. Meskpun lapar, tapi Queen enggan untuk makan duluan diapartemen karena Queen ingin makan siang bersama dengan Safir.


'Jadi kamu berniat menceraikan aku, Fir?' gumam hati Queen karena Safir tidak segera menjawab pertanyaan Ruby. 'Kenapa kamu tidak mau memberi aku kesempatan sekali saja. Aku cinta sama kamu, Fir!" ungkap hati Queen yang sudah ingin sekali berteriak.


Saat memasuki ruang kerja Safir, Queen sudah mengetuk pintu tapi Safir tidak memberikan tanggapan. Sampai Queen memilih masuk begitu saja dan sekarang harus mendengar semua ini.


Dan sekarang, Queen harus meninggalkan ruang kerja Safir secara perlahan. Berharap Safir tidak mengetahui kedatangannya. Queen lupa, kalau rantang yang ia bawa sudah Queen letakkan diatas meja.

__ADS_1


Selama meninggalkan kantor, Queen menangis karena air matanya sudah tidak bisa Queen bendung. Membuat beberapa karyawan menduga kalau mungkin saja Safir dan Queen terlibat pertengkaran.


"Fiiirrr ..." Panggil Ruby pelan.


"Sebelum menikah, aku memang sempat berpikir begitu Kak. Tapi sekarang mana mungkin. Hati aku rasanya sesak sekali Kak. Aku ingin mengutarakan semua isi hatiku pada Queen. Tapi kenapa rasanya berat sekali. Aku sungguh takut kalau ..." ucapan Safir menggantung karena malu mengungkap kekurangannya.


"Fir, ayo wes kita ngobrol blak-blakan saja. Kamu sudah konsultasi kedokter kan?" tanya Ruby memastikan.


"Sudah, Kak."


"Kamu sudah tahukan kalau masalah durasi itu tidak penting. Yang penting itu bagaimana kamu ngetreat Queen, Fir!" omel Ruby menyentak. "Duh, memalukan sekali bicara seperti ini," gerutu Ruby yang jadi geli sendiri. Tapi semua ini demi dua insan yang Ruby sayang. "Saat opening, kamu lakukan semaksimal mungkin untuk memanjakan Queen. Inisiatif lah Fir. Kalau sudah nafsu mah jalan tanpa hambatan. Urusan lamanya melakukan itu enggak begitu penting Fir. Cepat juga enggak masalah yang penting kamu tahu cara menguasai Queen bagaimana. 7 menitan juga paling besoknya sudah jadi bayi," ucap Ruby yang jadi mengguraui adiknya yang sedang bingung.


"Kakak."


"Aku wes serius loh Fir. Aku itu banyak baca informasi. Nonton acara dokter Boyke. Jadi percayao sama aku. Kamu itu cukup percaya diri. Bicarakan semuanya baik-baik dengan Queen. Tidak masalah berkata jujur, kalau setelah itu Queen menerima kamu lahir batin. Wes gas pol aja Fir, biar aku cepet dapat ponakan."


Safir semakin memijat kepalanya. Sudah terasa pusing, dirinya justru bertambah pusing dengan kekonyolan ucapan Ruby.

__ADS_1


"Wes kono gek endang balek, Fir. Sat set gas pol ngunu loh," ucap Ruby bersemangat.


__ADS_2