Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 140 Menghindar


__ADS_3

Sepertinya Safir memang sudah mempersiapkan diri untuk bermain dengan si kembar. Karena sejak tadi Safir mengajak ketiga balita tersebut untuk mewarnai buku gambar. Ketiga anak Ruby itu mendapatkan buku gambar masing-masing begitu juga dengan pewarnanya.


Ruby sejak tadi hanya bersantai saja. Melihat Safir bermain dengan ketiga anaknya. Ia tidak ingin mengganggu Safir yang sepertinya sedang ingin melupakan masalah pribadinya. Beruntung juga anak-anak balita tersebut terlihat akur dan menurut saja dengan Safir.


Tidak hanya itu, bahkan saat ketiganya sudah saatnya makan siang, Safir sendiri yang meminta mereka dan dengan telaten mengurus ketiganya. Padahal tahu sendiri bagaimana repotnya menjaga tiga anak balita yang sangat aktif tersebut.


Saat sudah waktunya tidur siang, Safir yang membacakan buku cerita. Safir berhenti saat para keponakannya itu sudah terlelep. Berjejer rapih diranjang hotelnya.


"Ayo solat Kak," ajak Safir pelan. Ia bahkan mengendap-endap saat turun dari ranjang karena takut kalau si kembar terusik oleh pergerakannya.


"Aku libur," jawab Ruby singkat.


"Owh."


Safir segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu melaksanakan kewajibannya. Sedangkan Ruby segera menyiapkan makan siang mereka.


"Ayo makan siang dulu. Setelah itu kamu tidur saja dengan anak-anak. Pasti mengantuk kan?"


Safir segera membereskan alat solatnya. Kemudian ikut duduk di dekat Ruby. Karena tidak ada satu orang pun yang tahu kalau Safir datang ke Jakarta, kecuali Zen. Maka pagi-pagi sekali Ruby yang memasakkan menu makanan yang sudah pasti disukai Safir.


"Enak enggak?" tanya Ruby dengan tatapan seriusnya. Demi sang adik, Ruby rela memasak. Padahal Ruby sendiri tidak yakin dengan rasa masakannya yang hasilnya kadang-kadang.


"Enak kok," ucap Safir setelah melahap satu kali suapan.


"Kok?" ucap Ruby yang sepertinya tidak bisa menerima jawaban Safir. "Kalau enak bilang enak. kalau enggak ya bilang saja. Jangan kok kok an," omel Ruby yang justru meminta di kritik.


"Apa Mas Zen selalu makan masakan Kakak?" tanya Safir serius.

__ADS_1


"Ya enggaklah. Ada Bibi ngapain juga aku sibuk masak. Tapi ya kadang-kadang suka iseng masak juga. Tapi Mas selalu habiskan masakanku kalau tahu di meja makan ada olahanku sendiri," jelas Ruby bangga karena merasa selalu mendapatkan apresiasi dari Zen. Terlepas masakannya enak ataupun pas.


Safir mengangguk saja. Ia jadi berpikir pasti Kakaknya ini memang di perlakukan sangat baik dan tepat oleh Zen. Rasanya Safir sangat beruntung, karena nasib baik sangat berpihak pada saudara kembarnya ini.


"Heh, malah ngelamun. Jawab!"


"Masakan Kakak ini sudah enak. Tapi sepertinya kurang gurih dikit. Kurang pedas juga Kak," jawab Safir jujur. "Tapi ini udah enak kok. Serius!'


"Ck! Perasaan kamu sama Mas Zen kok sering sekali bilang masakan aku kurang gurih."


"Loh, Mas Zen mau kritik masakan Kakak juga?"


"Ya iyalah. Biar aku bisa evaluasi kurangku dimana. Tapi sayangnya, aku selalu tidak sengaja mengulang kesalahan yang sama. Hahaha ..." Ruby sampai tertawa tertahan karena ingat kelakuannya sendiri. "Sepertinya aku lebih cocok kalau membuat kue saja ketimbang masak."


"Aku pikir Mas Zen akan terima-terima saja. Kan bucin banget Mas sama Kakak."


"Lalu kenapa Kakak selalu masaknya kurang gurih seperti ini."


"Sudah aku bilang ya Fir. Enggak selalu aku masak kurang gurih begini. Hanya memang kebiasaan burukku suka aneh-aneh."


Uhuk ... uhuk ...


Safir sampai terbatuk-batuk karena menahan tawannya. Merasa lucu karena ucapan saudaranya tersebut.


"Kualat sama Kakak sendiri ya begitu," ucap Ruby sambil menepuk punggung Safir.


Karena mereka terus mengobrol, membuat keduanya tidak sadar karena sudah menghabiskan makan siang mereka. Ruby segera mencuci sekedarnya saja lalu membersekan rantang untuk ia bawa pulang nanti sore.

__ADS_1


"Sudah merasa lebih baik? Dengan kamu datang kesini tidak menuntut kemungkinan kamu tidak akan bertemu dengannya."


Safir menghela nafasnya pelan. Saat ini dirinya memang sedang ingin menjauhi Queen, dan juga tidak ingin adanya kesalah pahaman antar keluarga yang membuat orang berpikir kalau Safit ingin mendekati Queen lagi untuk perasaannya sendiri. Bisa banyak fitnah yang akan terjadi. Maka ini adalah pilihan yang tepat. Memungkinkan diri untuk tidak bertemu dengan Queen.


"Semoga saja tidak, Kak. Semuanya akan berlalu dengan kehidupan dan pilihan kami masing-masing."


"Maksud kamu."


"Sebenarnya tidak ada masalah juga kalau aku bertemu dengannya. Toh aku juga tidak mau menikah lagi. Atau mau dekat-dekat dengannya. Aku hanya berharap, dia bisa melupakan lelaki seperti aku," Safir tersenyum menatap Ruby. "Dia berhak mendapatkan lelaki yang tepat, Kak."


"Kamu ngomong apa sih Fir?" bukan masalah kalau sekarang Safir mempunyai harapan untuk Queen seperti itu. Tapi yang jadi masalah adalah Safir yang tidak ingin menikah lagi. "Ucapan itu, doa loh. Kamu masih muda. Semua masalah ada solusinya, Fir. Mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Tapi aku harap kamu bisa membuka diri saat hati kamu sudah lebih baik. Sudah tidur sana sama anak-anak," perintah Ruby.


*


Swit ... swit ...


Zen langsung bersiul saat melihat Queen yang baru saja datang dan sudah menggunakan gaun pesta. "Ada bidadari jatuh dari lantai 3 nih," puji Zen.


"Bukan jatuh, Om. Turun lewat lift," ucap Queen membenarkan.


"Lah yo podo wae."


"Beda lah. Cantik enggak?" tanya Queen pada Ruby.


"Cantik."


"Kalau acaranya sudah selesai, cepat pulang. Kalau bisa jangan pulang lebih dari jam 10," pesan Nissa pada cucunya tersebut.

__ADS_1


"Baik, Oma."


__ADS_2