Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 162 Kamar Mandi


__ADS_3

Setelah Safir mengganti lampu temaram dan sudah merebahkan diri disofa, Queen mengubah posisi tidurnya. Pikiran Queen jadi berkelana. Memaknai tindakan Safir barusan. Queen bisa faham kalau Safir tidak ikut tidur diatas ranjang bersama dengannya. Biar bagaimana pun, pernikahan mereka memang begitu dadakan. Dan sudah pasti Safir sangat terpaksa menuruti maunya. Hanya saja, kenapa tadi Safir terasa cukup lama berdiri didekatnya. Itu yang membuat Queen merasa janggal.


'Apa yang dia pikirkan ya?'


Mendengar suara Safir tidur yang sedikit menggumam, sudah bisa dipastikan kalau saat ini Safir sudah lelap. Queen segera beranjak. Secara perlahan Queen membuka lemari untuk mengambil selimut. Mana tega Queen melihat Safir tidur meringkuk seperti sekarang ini.


Setelah menutupi tubuh Safir dengan selimut, Queen duduk jongkok untuk menatap wajah Safir yang sudah lelap. Hati Queen rasanya terus tersentuh. Senyumnya sedikit tertarik menghiasi wajahnya yang sendu, karena terlalu banyak menangis sejak tadi.


'Aku cinta sama kamu, Fir. Aku tidak tahu harus senang atau bagaimana. Aku sedang berduka tapi disisi lain hatiku terasa lega karena kamu. Aku jadi merasa egois karena baru saja Kak Di meninggal. Kamu juga pasti sangat kehilangan kan? Tapi sekarang, untuk sesaat bahan aku terpikir untuk mencari celah memiliki kamu. Merebut hati kamu buat aku. Tapi bagaimana caranya?'


Secara perlahan, Queen menyentuh kedua alis tebal Safir secara bergantian. Wajah yang sejak dulu selalu Queen kagumi. Tidak ingin mengusik Safir lebih lama lagi, Queen segera menuju ranjangnya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Safir sudah terbangun. Ia terkejut karena sudah ada selimut yang menghangatkan tubuhnya. Pantas saja semalam dirinya tidak terusik karena hawa dingin. Membuat Safir menoleh. Melihat Queen yang masih tidur lelap.


Ada rasa hati yang senang karena mendapatkan perhatian dari Queen. Tapi disisi lain, hati Safir juga sedang merasa takut. Ketakutan pada diri sendiri karena perasaan hati yang sebenarnya belum siap untuk menikah lagi. Takut kalau pada akhirnya, dirinya membuat Queen kecewa padanya.


Safir hanya menghela nafasnya pelan. Akan lebih baik kalau dirinya segera melakukan kewajibannya. Agar hatinya lebih tenang karena pikirannya yang masih bercabang untuk menghadapi ini semua.


*


"Euuuggghhh ..." Queen menggeliatkan tubuhnya. Secara perahan Queen membuka kedua matanya. Sudah jam 6 lebih. "Ngapain aku tiidur pakai jilbab sih?" gumamnya sambil menarik jilbab dan Queen lempar begitu saja. Queen segera beranjak meskipun matanya belum terbuka sempurna. Dan pikiranya belum terkumpul sepenuhnya. Karena kini tujuan Queen adalah kamar mandi. Queen harus membuang hajatnya dan segera mengsucikan diri karena merasa sudah kesiangan untuk segera solat subuh.


Setelah keluar dari kamar mandi, tatapan Queen tertuju pada sofa dan juga melihat selimut yang sudah dilipat rapih.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Aku kan sudah menikah ya?" gumamnya sambil menepuk keningnya sendiri. "Dia kemana ya?"


Seperti biasa yang sudah Queen lakukan, sebelum keluar kamar, Queen memilih membereskan kamarnya terlebih dahulu. Semua barang pribadinya masih tertata rapih. Tiba-tiba Queen merasa merindukan kamar yang sudah ia tinggalkan beberapa bulan terakhir.


Klek!


Queen terkejut dan ia pun menoleh saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Melihat Safir yang sudah terlihat segar dengan pakaian santainya.


"Eh, kamu masih disini?" tanya Safir yang terkejut karena masih melihat keberadaan Queen.


"Iya," jawab Queen sekedarnya saja. Walau sekarang hidung Queen kembali dihipnotis dengan aroma wangi sabun yang Safir gunakan. 'Dia dari kamar mandi ya?' gumam hati Queen saat sadar kalau ada yang janggal. "Kamu sejak tadi di kamar mandi Fir?" tanya Queen sampai terpekik.

__ADS_1


Safir jadi tersenyum canggung. Karena tidak tega melihat wajah Queen yang amburadul. "Iya," jawab Safir pelan.


"Aaa ..."


__ADS_2