Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 52 Kartu Nama


__ADS_3

Siapa yang menduga, tidak hanya ada Queen di sana. Melainkan ada seorang lelaki paruh baya dan juga seorang gadis yang ada di dekapan lelaki bertubuh gempal tersebut.


"Sudah datang sejak tadi?" tanya Queen sambil mendekati Safir.


"Baru saja. Karena kamu enggak ada dan katanya kamu lari ke arah sini, makanya aku langsung ke sini. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Safir lagi.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik kok. Bapak, Rara. Kami duluan ya?" ucapnya berpamitan.


"Iya. Sekali lagi terima kasih ya Nduk," ucap lelaki tersebut dengan sanngat tulus.


"Sama-sama, Pak," Queen tersenyum dan menganggukan kepalanya sopan. "Ayo," ajaknya sambil menarik ujung baju Safir.


"Kami permisi Pak," ucap Safir sopan.


"Silahkan."


Queen melepaskan ujung baju Safir saat mereka sudah menjauh. Ia terus jalan lebih dulu karena pikirannya yang semakin tidak menentu. Kalau saja dirinya bukanlah seorang perempuan, mungkin sudah sejak lama Queen mengutarakan perasaannya pada Safir. Tapi mengingat lagi kalau mereka masih kuliah, membuat Queen berpikir kalau pacaran bukanlah jalan yang tepat. Selain itu, lelaki seperti Safir, mana mungkin mau melakukan hubungan pacaran.


Safir mempercepat langkah kakinya untuk menyeimbangi langkah Queen. "Apa baru terjadi sesuatu tadi?"


"Tidak ada," jawab Queen yang memang enggan menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Safir juga memilih tidak mengorek lagi. Yang terpenting sekarang dirinya sudah lega karena tidak terjadi sesuatu hal pada Queen.


"Beberapa hari lalu, kita sudah mengatakan usaha sapi perah kan?" tanya Queen. Ia mau membuka obrolan agar mereka tidak saling diam. Kalau bukan dirinya yang inisiatif untuk bicara, mana mungkin Safir membuka topik perbincangan.


"He'em."


"Aku rasa kalau lokasinya di sini, pas sekali Fir," ucap Queen sambil menunjuk lahan yang di tumbuhi jagung. Tapi masalahnya orang yang memiliki tanah ini berniat menjualnya tidak ya?" tanya Queen mulai memperkirakan.


"Sepertinya akan sulit kalau kita mengincar tanah ini. Aku perhatikan selama beberapa tahun ini, tanaman apapun yang ada di lahan ini, hasilnya sangat bagus jika mau di bandingkan dengan yang lainnya. Padahal aku tanya dengan para buruh yang ikut borongan tanam jagung atau yang lainnya, mereka semua menggunakan bibit dan obat yang sama."


"Urusan rezeki siapa yang tahu, Fir."

__ADS_1


"Betul. Ya sudah, ayo kita lihat sapi yang akan di potong besok," ajaknya kemudian Safir memilih melangkah lebih dulu.


Queen hanya melongo karena Safir sudah meninggalkannya. "Katanya tadi ayo, tapi ini mah aku di tinggal," gerutu Queen karena sejak tadi mereka jalan berdampingan. "Dasar kulkas 12 pintu," ucapnya kesal sambil mempercepat langkah kakinya.


Satu bulan kemudian. Hari ini Queen kembali datang lagi ke peternakan karena sudah janjian dengan Safir. Karena hari ini hari libur kuliah, maka Queen tidak datang bersamaan dengan Safir, dan Queen di antarkan oleh sopirnya. Seperti biasanya, jika Safir belum sampai maka Queen hanya akan melihat area lahan sekitar. Lahan yang kini sedang terdapat beberapa pegawai harian yang sedang memberikan pupuk pada tanaman jagung.


Siapa yang menduga, jika kini Queen kembali bertemu dengan lelaki bertubuh gempal saat satu bulan yang lalu. Queen tersenyum ramah saat mereka saling bertatapan.


"Selamat siang Pak," Queen mengangguk ramah dan begitu sopan.


"Siang. Bagaimana kabar kamu, Nduk?"


"Alhamdulillah, saya baik. Bagimana kabar Bapak dan Rara?"


"Baik. Rara saya pindahkan ke sekolahan lain. Dan sekarang sudah mulai kembali ceria lagi. Sekali lagi terima kasih ya Nduk. Kalau kita tidak bertemu, entah apa yang terjadi waktu itu."


"Hanya kebetulan saja, Pak."


"Kamu ngapain di sini? Pacar kamu itu mana?"


"Loh, bukan pacar? Saya kira pacarnya karena waktu itu terlihat khawatir sekali," ucapnya terus terang untuk mengutarakan penilaiannya. "Andai saya punya anak laki-laki, sudah saya lamar untuk jadi menantu saya," ucapnya bergurau. "Jadi sekarang mau melakukan pekerjaan ya?"


"Iya Pak, tapi nungu Pak Bosnya dulu. Oh iya, Bapak ngapain datang ke sini?" Queen jadi penasaran. Karena lelaki tersebut terlihat seperti dirinya yang hanya melihat-lihat saja.


"Hanya mencari angin segar saja. Bosan di rumah tidak melakukan apapun," ucapnya sengaja berbohong.


"Owh, Rumah Bapak tidak jauh dari area sini ya? Oh iya, apa Bapak tahu tanah ini milik siapa?" Queen terlihat sangat penasaran.


"Memangnya kenapa?" lelaki tersebut jadi penasaran juga.


"Kami berencana membuat usaha sapi perah, Pak. Nah lahan yang sangat setrategis itu lahan ini. Siapa tahu saja kan, yang punya tanah ini khilaf ingin menjualnya. Jadi saya harap, orang yang punya tanah ini bisa menawarkan terlebih dahulu dengan kami. Kemarin orang yang punya lahan di sebelah sana juga menawarkan tanahnya dulu dengan kami," ucap Queen sambil menunjuk ke sembarang arah.


"Apa harga yang di tawarkan sangat mahal?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Ya sesuai dengan harga tanah umumnya tahun ini lah pak. Lokasi juga sudah pasti di perhitungkan. Tapi yang pasti, kami akan memberikan tawaran yang cukup menarik kalau pemilik tanah ini menjualnya," ucap Queen dengan air muka yang sangat meyakinkan.


"Saya kenal dengan pemilik tanah ini. Sepertinya orang yang memilikinya memang berencana menjual lahan ini."


"Benarkah?" tanya Queen dengan semangat, Ia langsung membuka tas dan mengambil kotak kecil untuk memberikan kartu namanya. "Tolong berikan kartu nama saya ini pada pemilik tanah ya pak. Jika memang mau menjual, tolong hubungi kami terlebih dahulu. Kami akan menunggu kabar baiknya."


Lelaki tersebut menerima uluran kartu nama. "Queenza Reindri Anna Wijaya."


"Iya. Bapak bisa panggil saya Queen. Oha iya, nama Bapak siapa?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.


"Samsul," ucapnya sambil menjabat tangan Queen. Samsul sungguh terharu dengan Queen. Karena kini Queen mencium pungung tangannya. Padahal, sekalipun tangan Samsul bersih, tapi tangannya itu berkulit hitam. Sangat kontras dengan tangan Queen yang putih bersih.


"Ini nomor Queen?"


"Iya Pak."


Samsul langsung memasukkan kartu nama Queen ke dalam kantong baju. "Saya pastikan kalau orang pemilik tanah ini akan menghubungi Queen terlebih dahulu saat berniat menjual tanah. Kalau begitu saya permisi."


"Silahkan. Terima kasih sebelumnya."


Setelah beberapa menit Samsul meninggalkan Queen. Kini mobil yang di kemudikan Safir sudah sampai. Melihat itu, Queen langsung lari menghampiri Safir yang sudah keluar mobil.


"Safiiirrr .... Aku punya kabar bagus banget," ucapnya antusias sambil berlarian.


Safir tahu. Usia mereka barus saja melewati angaka 20 tahunan. Tapi melihat tingkah Queen saat ini, sungguh seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan yang Queen inginkan.


"Emang cocok kalau sama Kak By," gumamnya melihat tingkah Queen. Ia menahan kekehan karena jadi merasa lucu sendiri. Safir memilih diam karena ia lebih baik melihat Queen yang berlarian kecil ke arah dirinya.


"Aku punya kabar yang sangat baik."


"Apa?"


"Sepertinya tidak lama lagi rencana kita akan terlaksana ..." ucapnya semangat kemudian Queen menceritakan perbincangannya dengan Samsul pada Safir.

__ADS_1


Flashback Off.


__ADS_2