Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 127 Sudah Berapa Kali Kamu Berbohong, Di?


__ADS_3

Karena keadaan Queen baik-baik saja, infus yang terpasang di tangan Queen segera di lepas oleh tenaga kesehatan yang bertugas. Dokter yang berjaga juga telah memeriksa keadaan Queen.


"Apa Queen baik-baik saja Dokter?" tanya Zen karena takut kalau Queen mengalami trauma akibat kejadian kemarin.


"Keadaan Nona Queen, baik Pak Zen. Terlihat sekali kalau tidak ada trauma tertentu dari waiahnya. Namun, jika memang membutuhkan untuk pemeriksaan lebih lanjut, tidak masalah juga."


"Queen baik-baik saja, Om."


Zen menghela nafasnya lega. Rasanya semalam Zen ingin sekali datang ke kantor polisi untuk menemui Aris. Tapi Zen menahan diri karena ia tidak ingin lepas kendali. Seumur-umur, baru kali ini anggota keluarganya mendapatkan perlakuan tidak pantas dari orang lain.


Seluruh administrasi rumah sakit sudah Zen selesaikan. Sekarang Zen membawa istri dan keponakannya untuk pulang ke rumah. Karena sudah sejak tadi mereka mendapatkan kabar kalau Safir, Divya, dan Vian sudah pulang menuju Malang.


"Urusan Aris, sudah di selesaikan sama Alan. Maaf ya Queen, Om tidak bisa turun tangan sendiri," ucap Zen saat sudah mengemudikan mobilnya.


"Tidak apa-apa, Om. Mas Alan ataupun Om juga sama saja kan? Yang terpenting beri dia hukuman yang sepantasnya. Agar dia jera dan tidak melakukan hal seperti itu lagi."


"Andai saja aku tahu orangnya itu seperti apa, sudah aku hajar juga dia. Geram sekali aku," ucap Ruby yang mulai mengomel.


"Apa dia sudah beberapa kali menyatakan perasaannya Queen?"


"Sudah, Om. Dan entah sudah berapa kali. Padahal Queen sudah beri pengertian kalau Queen tidak bisa menerimanya. Tapi entahlah. Sulit bicara dengan orang yang tidak bisa paham dengan bahasa orang lain."


"Itu bukan cinta, tapi Obsesi."


"Iya, seperti Om yang cintanya mendekati obsesi sama Maira. Sampai masih bayipun disukai," ucap Queen yang mengembalikan ucapan Zen.


"Ya gimana. Dulu saat istriku masih kecil, gemesin banget. Terus aku cium deh sebagai tanda kepemilikan. Eh jadi milik aku beneran."


"Mas ngomong apa sih?" protes Ruby dengan air muka yang memerah. Selain itu, Ruby tidak enak hati dengan Queen.


Padahal saat ini Zen hanya ingin membuah suasa hati Queen menjadi lebih baik dengan menggoda Ruby. Mencairkan suasana agar pikiran Queen teralihkan.


Queen jelas terkekeh setiap kali melihat interaksi hangat yang terjadi di antara Zen dan Ruby. Orang yang Queen sayangi tersebut memang memiliki kisah yang indah dengan jalan ceritanya sendiri.


'Mencintai seseorang itu lebih menyakitkan jika tidak terbalas dari pada hanya sekedar membalas cinta. Memang lebih menyenangkan seperti Maira, membalas cinta Om yang begitu besar. Dan lihatlah, sekarang mereka bahagia. Aku harus bisa merelakan semuanya. Rasa yang sangat sulit. Suatu saat nanti, semoga aku di pertemukan dengan seseorang yang mencintai aku. Aku pasti akan membalas perasaan orang tersebut dengan sepenuh hatiku. Tapi apa aku bisa? Terlalu banyak kenangan yang ada di kepalaku. Akan banyak hal kisah yang terulang lagi, tapi dengan orang yang berbeda.'


*


Garis takdir seseorang memang berbeda-beda. Dengan kisah cinta yang berbeda pula. Hati akan merasa lebih tentram dan merasa damai, jika setiap hal apapun di dasari rasa syukur.


Rasa syukur itulah yang selalu Safir tanamkan di dalam hatinya semenjak dirinya pulang dari Jakarta.


Dalam setiap sujudnya, Safir akan menyelipkan doa untuk Divya dan terkhusus untuk dirinya sendiri. Berharap hatinya bisa menerima dengan baik dan sepenuh hati atas pilhannya sendiri. Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan. Dan bisa saling menghargai provesi masing-masing.

__ADS_1


Sudah hampir dua minggu berlalu, Sudah 10 hari ini Safir mengajak Divya untuk tinggal di Apartemen karena sudah ada Vian yang ikut tinggal bersama dengan Reina dan Hendri.


Saat ini, Safir sedang mencari tanah yang di jual untuk ia bangun rumahnya bersama dengan Divya kelak. Karena tidak mungkin kalau mereka akan terus tinggal di apartemen seperti ini. Terlebih lagi, jarak apartemen dengan kantor dan peternakannya cukup jauh. Membuat Safir mencari lahan yang pas. Agar nantinya Divya dan dirinya sama-sama terjangkau dengan jarak mereka.


Sayangnya, interaksi Safir dan Divya selama tinggal di apartemen juga kurang. Bukannya apa-apa, Safir yang juga sibuk mengurus pekerjaan dan juga survei beberapa informasi tanah yang ingin sekali dia beli. Sedangkan Divya yang memang sibuk dengan pekerjaan kantor.


"Selamat pagi, Pak," ucap para karyawan saat Safir baru saja sampi lantai 2.


"Selamat pagi," ucap Safor ramah dan segera menuju lantai 3.


Seperti beberapa hari yang sudah berlalu ini, Safir berusaha menganggap kalau ruang kerja Queen tidak ada di sana. Yang Safir tanamkan sekarang bahwa ruangan tersebut hanya sebuah gudang yang tersimpan benda-benda tidak penting.


"Pak, keruangan saya sebentar ya," ucap Safir setelah mengetuk pintu ruang kerja Yusman.


"Baik, Mas."


Yusman segera meninggalkan pekerjaannya. Dan menuju keruangan kerja Safir.


*


"Ayo pulang Di," ajak Reina setelah membuka pintu ruang kerja Divya.


"Sebentar lagi, Ma. Tanggung," jawab Divya tanpa melihat Reina. "Jam berapa sih, sekarang?" gumam Divya sambil melihat jam tangannya. "Masih jam 3 loh, Ma. Tumben Mama jam segini sudah ajakin Di pulang?"


Reina hanya menghela nafasnya pelan. Perempuan tersebut segera mendekati anak perempuannya.


"Mama, Di dan Safir tidak mempermasalahkan perihal masak. Safir juga tidak masalah kami beli makanan terus. Lagi pula masak bukannya kewajiban perempuan kan, Ma?"


"Memang benar. Di tahu, cara mengambil perhatian laki-laki itu sebenarnya mudah. Cukup kenyangkan saja perutnya dengan masakan buatan kita. Maka laki-laki juga akan semakin sayang pada istrinya. Coba deh belajar sama Bunda. Dulu saat jaman kuliah kalau Safir dirumah juga kerjaannya dengan Queen kan makan."


Divya yang sejak tadi memandangi komputernya langsung beralih menatap Reina.


"Mama benar juga. Besok akan Di coba."


Reina hanya mengangguk pelan. Sangat di sayangkan memang karena sejak dulu Divya memang tidak menyukai pekerjaan dapur. Tapi kalau urusan pelajaran, memang berbeda dengan Vian dan Queen. Karena selama sekolah, Divya memang selalu masuk 3 besar. Dan lebih sering juara 1. Sekarang, Reina harus bisa menuntut Divya untuk belajar memasak. Walau tidak setiap hari bergelut di dapur, setidaknya Divya bisa memasak, menu yang sederhana.


"Nanti malam kita makan malam bersama ya? Di restoran yang ada di apartemen kalian. Sebelum maghrib Mama dan Papa akan ke apartemen kalian," pesan Reina sebelum meninggalkan ruang kerja Divya.


Setengah jam kemudian. Setelah pekerjaanya selesai, Divya segera meninggalkan kantor. Bukan pulang tujuan Divya saat ini, karena sejak kemarin Divya sudah membuat janji dengan Lusi untuk bertemu di sebuah pusat perbelanjaan.


Lusi memang full sebagai ibu rumah tangga. Tapi kini Lusi mencoba untuk berjualan secara online dagangan di butik Reina. Sudah cukup menghasilkan usaha Lusi akhir-akhir ini. Divya senang karena bisa membantu temannya.


*

__ADS_1


"Senang bekerja sama dengan anda, Mas Safir," ucap seorang lelaki yang baru saja membuka cabang usaha bakso. Di kota Malang ini.


"Saya juga sangat berterima kasih karena Bapak berkenan membeli daging dari kami," ucap Safir senang.


"Saya sangat kagum dengan Mas Safir, masih muda tapi sudah sukses"


"Sampai ketitik ini cukup banyak usaha yang sudah kami lakukan. Tapi terima kasih, Pak."


"Mas Safir ini sejak tadi kok nyebutnya kami? Kan sedang sendirian," ucap lelaki tersebut kemudian terkekeh.


Safir jelas terkejut. Ucapannya memang spontan seperti kebiasaannya sejak dulu setiap kali bertemu dengan klien. Lagi pula, usaha ini bisa berjalan karena campur tangan banyak orang. Sekalipun milik Safir, rasanya Safir akan egois kalau menyebut semuanya dengan kata Saya di depan klien.


Safir hanya tersenyum kecil untuk membuang pikirannya yang tiba-tiba mengusik. "Karena sudah terbiasa, Pak."


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi pulang."


"Silahkan."


Setelah kliennya beranjak pergi, Safir kembali duduk untuk menenangkan pikirannya sendiri. Tidak ingin hanyut dengan perasaan yang seharusnya sudah tidak Safir pikirkan, kini Safir juga segera meninggalkan tempat tersebut.


"Mau ngapain aku pulang cepat ya?" gumam Safir mulai bingung. "Atau aku memasak saja?"


Karena Safir memang berada di pusat perbelanjaan, Safir segera menuju swalayan. Ia membeli berbagai macam sayuran dan lauk pauk serta kebutuha lainnya yang mungkin akan dia perlukan. Tidak lama, karena semua sudah Safir dapatkan, maka Safir memilih untuk segera membayar dan meninggalkan tempat tersebut.


Safir tidak langsung menuju lift untuk ke basement, karena sekarang Safir memilih turun melalui eskalator. Di lantai bawahnya lagi, ada penjula roti yang Divya sukai. Karena tujuannya ingin menyeangkan Divya, maka Safir ingin membelikan sesuatu hal untuk sang istri.


Belum sampai Safir ketempat tujuannya, langkah kakinya langsung terhenti karena dirinya melihat Divya yang sedang berbincang dengan seorang lelaki.


"Kamu dimana?" tanya Safir setelah Divya menerima panggilan suaranya.


"Aku di mall. Kenapa? aku tadikan sudah bilang sama kamu, Fir."


Safir hanya tersenyum saja saat melihat Divya memberikan isyrata diam pada lelaki di depan Divya tersebut.


"Dengan siapa?"


"Dengan Lusi. Tadikan aku sudah bilang sama kamu."


"Benarkah?"


"Kamu enggka percaya sama aku?" tanya Divya menuntut karena suara Safir terdengar tidak mempercayainya.


"Sudah berapa kali kamu bohong sama aku setiap kali kamu bertemu dengan Dafa, Di?"

__ADS_1


Deg!


Divya jelas terkejut. Bagaimana mungkin Safir tahu kalau dirinya sekarang bersama dengan Dafa. Ia menoleh kekiri dan kekanan mencari keberadaan Safir. Sampai pada akhinya Safir mengakhiri panggilan suara mereka saat mata mereka sudah saling bertemu. "Safir."


__ADS_2