
Divya melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup kencang. Tanpa menghubungi siapapun, Divya sudah bisa menebak dengan pasti dimana Safir dan Hendri membawa Reina. Rumah sakit terdekat sudah pasti adalah tujuan Safir.
Klek!
Begitu sampai rumah sakit, Divya langsung menanyakan dimana ruang perawatan Reina. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Divya langsung masuk begitu saja. Membuat Hendri dan Vian langsng menoleh, karena mereka kira yang datang adalah tenaga kesehatan.
Vian sendiri tidak mampu berkomentar banyak. Karena setelah mengetahui cerita Divya dengan Safir yang akhirnya membuat Reina hilang kesadaran, membuat Vian tidak mampu berkata-kata lagi. Vian sungguh seolah melihat dirinya sendiri. Dirinya buta karena cinta dan berusaha ingin merebut Ruby dari Zen. Sedangkan Divya, akibat patah hati, justru membalas dendam pada Queen. Mereka berdua seolah sama saja, tapi kenapa bisa, Divya lebih kelewat batas melakukan semua ini. Terlebih lagi, Queen tidak mengetahui apapun soal Fahmi. Seperti yang semua orang ketahui sejak awal, Divya dan Safir menikah marena rasa cinta. Tanpa tahu niat Divya di balik semua ini.
"Pa, Safir mana?" tanyanya karena tidak mendapatkan Safir di ruangan tersebut.
"Dia sudah pulang," jawab Hendri. "Jangan menemuinya lagi, Di," segera Hendri menghentikan langah kaki Divya yang akan meninggalkan ruangan ini. "Untuk apa Divya mencarinya? Di tidak lupa kalau tadi Safir sudah menjatuhkan talak untuk Di?"
"Pa, Di menyesal. Di mau memperbaiki semuanya. Safir sudah berusaha untuk mengambil perhatian Di, Pa. Safir sudah mulai melupakan Queen. Di mau memperbaiki semuanya.Di janji akan memperlakukan Safir dengan sangat baik," ucapnya dengan air muka yang panik dan juga kedua mata yang nampak berkaca-kaca.
"Setelah cara Di bicara dengan suami Di seperti itu, apa mungkin Safir akan kembali lagi pada Di?"
Pertanyaan Hendri membuat Divya diam membisu. Tidak tahu cara membela diri bagaimana.
"Apa Di lupa kalau tadi Safir sudah menjatuhkan talak 3 pada Di?"
"Tapi Pa, Di mau memperbaiki semuanya. Di harus berusaha agar Safir berubah pikiran," hati Divya sepertinya mulai terombang ambing. Antara tidak bisa menghormati Safir sebagai seorang suami, dan tidak bisa kalau harus kehilangan Safir lalu melihat Safir akan bersama dengan Queen.
Apakah ini cinta yang sesungguhnya. Divya juga bingung sendiri mengartikan perasaannya bagaimana. Tapi yang pasti sekarang Divya tidak ingin kehilangan Safir.
"Apa Di tidak tahu makna talak 3 itu apa?" tanya Hendri menuntut Divya. Hendri menghela nafasnya dalam-dalam. Dirinya sudah tidak mengerti dengan pola pikir Divya yang ternyata begitu dangkal.
Tatapan Divya sayu. Sadar kalau dirinya tidak akan mungkin untuk bisa kembali dengan Safir lagi. Tapi hatinya sungguh tidak rela jika sampai Safir kembali dengan Queen. Divya tidak akan sanggup melihat kenyataan yang seperti itu.
__ADS_1
"Di akan melakukan apapun, untuk bisa kembali dengan Safir, Pa. Tologin Di," pintanya memohon.
"Sadar, Di, Sadar," Hendir semakin bingung mau menanggapi anaknya ini bagaimana. "Mama sedang sakit. Apa Di hanya akan memikirkan Safir saja dan tidak mau tahu keadaan Mama bagaimana? Sadar, Di. Setelah apa yang terjadi tadi, apa mungkin Safir mau kembali dengan Di lagi? Tidak akan," ucap Hendri lantang.
Hendri memberikan kode pada Vian agar membawa Divya pergi dari sini. Hendri akan mempercayakan Vian untuk memberikan pengobatan yang tepat. Karena Hendri merasa kalau Diva membutuhkan pemeriksaan psikiater.
Apalagi kalau bukan kejiwaan Divya yang memang terganggu, karena sampai hati membalas dendam pada Queen yang jelas tidak tahu apa-apa tentang masalah pribadi Di ya.
"Ayo kita pergi kesuatu tempat Kak," ajak Vian sambil menarik tangan Divya.
*
Semalaman suntuk Zantisya tidak bisa tidur karena memikirkan masalah anaknya yang tiba-tiba menjatuhkan talak pada Divya. Zantisya jelas ingin tahu semuanya, kenapa bisa Safir sampai mengambil keputusan seperti ini.
"Belum tidur Dek?" tanya Arjuno, karena secara bersamaan dirinya dan Zantisya yang sejak tadi tidur dengan posisi saling memunggungi, kini mereka berpindah posisi menjadi terlentang.
"Belum Mas. Aku benar-benar kepikiran Safir. Ada masalah apa sebenarnya diantara dia dan Divya. Kok ya aneh. Dulu menikah saja seolah sudah sangat yakin dengan keputusannya. Kita bisa lihat sendiri Safir yang dulu sepertinya sangat mencintai Divya. Tapi kenapa dalam hitungan bulan hubungan mereka seperti ini? Pasti ada yang salah kan Mas?"
"Mas tahu-tahuan deh," ucap Zantisya yang masih berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Padahal sejak tadi hatinya sangat kalut.
"Ada sorot mata yang sepertinya membuat Safir banyak pikiran dan juga beban. Sama seperti saat kamu yang dulu mau aku bawa ke dokter psikolog. Tapi kamu enggak mau dan justru bicara dengan aku."
Zantisya jadi sangat khawatir mendengar penuturan Arjuno. Ia takut kalau kejiwaan anaknya mengalami gangguan.
"Sebelum semuanya terlambat, Mas. Apa besok kita bawa saja Safir ke dokter psikolog, Mas."
"Kita tidak bisa mengambil keputusan seperti itu, Dek. Kita harus menghargai Safir. Beri dia waktu dulu. Biarkan dia menenangkan hatinya. Aku yakin kalau setelah itu, dia akan bicara sama kita."
__ADS_1
"Kalau kita tidak tahu masalah anak-anak itu bagaimana, lalu bagaimana kita besok mau menjenguk Bu Reina, Mas? Aku kok jadi kepikiran kalau nantinya hubungan keluarga kita jadi buruk. Sekalipun Safir dan Divya berpisah, tapi Ruby itu jadi saudara iparnya Bu Reina loh."
"Jangan menduga hal-hal yang belum tentu terjadi, Dek. Kita harus berpikir positif. Karena pada kenyataannya kita tidak bisa mengatur rumah tangga anak kita."
"Iya juga sih, Mas. Tapikan aku jadi kepikiran."
"Loh, mau kemana Dek?" tanya Arjuno saat Zantisya bangun dan menggelung rambut panjangnya.
"Mau lihat Safir, Mas. Kepikiran terus aku sejak tadi."
Begitu meraih jilbab, Zantisya segera menuju kamar anaknya yang ada di lantai atas. Beruntung kamar tersebut tidak di kunci oleh Safir, Karena kamar terlihat gelap gulita, Zantisya langsung menghidupkan lampu utama.
Zantisya pikir anaknya sedang nyenyak tidur di atas ranjang. Tapi teryata, Safir tidur diatas sajadah. Hati Zantisya semakin terisis tapi juga merasa terharu. Artinya anaknya mampu mengadukan masalah hidupnya pada sang pencipat.
"Fir," panggil Zantisya sambil menepuk lengan tangan Safir yang tidur meringkuk. "Melihat wajah Safir yang memucat membuat Zantisya menyentuh kening Safir. "Ya Allah anak ini demam," ucapnya saat menyentuh kening safir yang hangat.
"Ada apa dek?" tanya Arjuno yang ikut menyusul Zantisya.
"Safir demam ini loh, Mas. Fir, bangun,:" Zantisya kembali menepuk lengan tangan anaknya itu.
"Eh! Bunda, Ayah," Safir terkejut karena melihat kedua orang tuanya. "Ada apa Bun?"
"Kamu ini demam kenapa tidur di lantai seperti ini. Ayo pindah dan minum obat dulu."
"Safir tadi sudah minum obat kok Bun. Kepala Safir pusing sejak tadi. Bunda jangan khawatir."
"Jangan khawatir bagaimana? Ayo kita ke rumah sakit saja," ajak Zantisya karena takut kalau terjadi sesuatu hal pada Safir.
__ADS_1
"Safir hanya ingin istirahat, Bunda. Besok pagi Safir pasti sudah enakan kok. Maaf, sudah buat Bunda khawatir."
Karena Safir enggan dibawa ke rumah sakit, kini Safir pasrah saja saat Zantisya masih di dalam kamarnya untuk mengompres tubuhnya yang memang terasa panas.