
Semalaman Safir benar-benar tidak bisa tidur. Bergelut dengan pikirannya yang masih kalut. Safir sudah berusaha untuk merebahkan tubuhnya lagi di atas ranjang. Memejamkan kedua matanya, seolah berniat mengejar mimpi Divya yang entah sudah sampai mana. Tapi nyatanya, Safir masih saja tidak bisa tidur. Hingga sampailah fajar telah tiba. Safir segera membersihkan diri untuk bersiap menjalankan ibadah bersama.
"Di ... Divya ... Di ..." Berulang kali Safir memangil Divya dan menepuk kaki Divya. Tapi sayangnya, Divya belum juga mau terjaga. Mungkin karena terlalu lelah di acara pesta pernikahan. Membuat Divya tidak juga terusik. "Di ..."
"Ya," spontan saja Divya bangun karena terkejut. "Kamu sudah bangun?"
"Aku sudah bangun sejak tadi," Safir kembali lagi berbohong pada Divya. "Ayo solat subuh dulu. Setelah itu kita bisa tidur lagi. Aku juga sepertinya butuh tidur."
Divya menguap sambil menggeliatkan tubuhnya. Sedangkan Safir hanya melihat Divya sekilas karena setelah itu Safir memilih untuk menunggu Divya di tempat solat yang sudah Safir siapkan.
Divya bergegas turun. Telinganya masih mendengar suara adzan subuh. Kini Divya berencana untuk membersihkan diri secepat mungkin. Siapa yang tahu kan kalau setelah mereka ibadah bersama, Safir akan mengajaknya melangsungkan adegan semalam yang sudah tertunda. Tapi ...
Klek!
"Fir."
"Ya," Safir tentu saja menoleh. Melihat Divya yang hanya menampakkan kepalanya saja dari dalam kamar mandi.
"Kamu solat saja. Tamu bulananku datang," ada rasa malu karena Divya harus mengatakan hal demikian. Tapi ada rasa kesal yang menjalar di dalam hati karena ini artinya mereka akan menunda malam pertama mereka hingga satu minggu ke depan.
'Alhandulillah,' ucap syukur hati Safir. Setidaknya selama Divya bulanan, membuatnya mempunyai waktu untuk mempersiapkan diri melakukan hal selayaknya.
"Ok. Aku sholat dulu ya."
Divya pikir, saat dirinya memberitahu Safir kalau ia sedang kedatangan tamu bulanan, maka akan ada reaksi tersendiri dari Safir. Setidaknya Safir akan terlihat kecewa dan merengek karena dengan keadaan ini, malam yang seharusnya terjadi akan tertunda lagi. Tapi apa yang Divya lihat sekarang pada Safir. Lelaki tersebut nampak biasa saja dan kini sudah melakukan kewajibannya.
Divya kembali menutup pintu kamar mandi. Ia harus segera membersihkan diri. Divya hanya bisa menghela nafasnya pelan. Pikirannya sungguh tidak enak ketika menilai sikap Safir sejak semalam.
__ADS_1
"Ayo berpikir positif. Semalam dia memang sedang sakit kan. Dan saat ini juga pasti Safir sedang canggung dengan hubungan yang sudah sah ini."
Tidak mau memikirkan hal apapun terkait Safir, Divya bergegas membersihkan diri. Selama 15 menit Divya di sana, sampai akhirnya perempuan yang membalut tubuhnya menggunakan bathrobe itu keluar dari sana. Dan saat itu juga ia melihat Safir yang sudah nampak nyenyak.
Divya mendekati Safir. Ia menyentuh kening Safir menggunakan punggung tangannya. "Enggak demam kok," Divya seketika bernafas lega. Ia membenarkan selimut yang menutupi seluruh tubuh Safir dan setelah itu Divya segera menghubungi petugas hotel untuk meminta sesuatu hal yang saat ini ia butuhkan.
*
Sekalipun Queen merasa kalau dirinya baru saja memejamkan kedua matanya, Queen tetap bangun tepat waktu seperti hari-hari biasanya. Ia juga bergegas mempersipkan diri karena pagi ini Queen sudah harus menuju bandara.
"Selamat pagi," sapa Queen yang baru saja memasuki ruang makan. Di sana semua orang sudah berkumpul.
"Pagi sayang," sapa Nissa dan Reina bersamaan.
"Sudah siap semuanya?" tanya Reina.
"Padahal Oma pikir, Queen mau S2 di Jakarta saja. Biar bisa kuliah bersama dengan By," sebagai perempuan yang lebih banyak menjaga Queen saat masih kecil dulu, tentu Nissa merasa tidak rela jika harus beda negara dengan Queen. Satu negara saja sudah jarang sekali bertemu secara langsung. Lalu bagaimana jika Queen kuliah di Australia. Tapi ini demi pendidikan Queen. Sudah pasti Nissa harus mendoakan kebaikan atas pilihan Queen saat ini. Nissa berharap, pilihan Queen ini bisa menyembuhkan hati yang terluka. "Kalau ikut di Jakarta kan bisa bermain bersama Shaka, Shaki, dan Shanum. Queen tidak akan kesepian. Sekalian bantuin Oma momong begitu," ucap Nissa mengguraui Queen.
"Saran yang menarik, Oma."
"Kalau di sana, Queen harus jaga kesehatan. Hati-hati karena Queen jauh dari keluarga," kini giliran Yusuf yang mengutaraknĀ pesan.
"Tentu, Opa."
Begitu selesai sarapan. Queen segera berpamitan dengan semua orang. Setelah itu, Hendri dan Reina mengantarkan Queen ke bandara.
Jika Hendri sudah seperti seorang sopir untuk istri dan anaknya, yang harus fokus dengan jalanan. Berbeda dengan Reina dan Queen yang duduk di kursi belakang kemudi.
__ADS_1
Sepanjang jalan, Reina terus menggenggam tangan Queen. Sedih rasanya karena dari ketiga anaknya, hanya Queen yang baru kali ini kuliah ke luar negeri. Sedangkan dulu Divya dan Vian begitu selesai di bangku SMA, keduanya langsung kuliah di luar negeri.
Sungguh, Reina merasa bersalah pada anaknya tersebut. Ia juga inginnya tidak seperti ini. Tapi siapa yang bisa protes dengan jodoh, jika memang Safir dan Divya merasa yakin saling jatuh cinta. Sampai pada akhirnya, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai bandara.
"Bukankah ini terlalu cepat untuk pergi ke sana?" Reina terus menggandeng tangan Queen seolah merasa berat melepaskan Queen seorang diri.
"Di sana nanti, Queen juga ingin liburan dulu, Ma. Punya hasil kerja keras selama ini, jelas harus Queen manfaatkan dengan baik."
"Wajib telpon kami setiap hari," ucap Hendri sambil mengusap kepala Queen.
"Tentu, Pa."
Sebelum Queen melakukan check in, Reina memeluk anak bungsunya tersebut dengan sangat erat. 'Maafin Mama, sayang,' ucap hati Reina.
"Ma, Queen bukannya tidak akan pulang lagi ke Indonesia," begitu mereka saling merenggangkan pelukan, Queen langsung mengusap air mata Reina.
"Mama tidak pernah berpikir kalau akan membiarkan Queen kuliah jauh dari sini. Di sini juga pendidikan enggak kalah bagus."
"Pengalaman, Ma. Kedua Kakaknya Queen saja kuliah di luar negeri semua, Ma. Queen juga kan ingin."
Reina mengangguk cepat. "Apapun yang ingin Queen lakukan, maka Mama akan dukung sepenuhnya."
Hendri juga memeluk anak bungsunya tersebut. Meninggalkan pesan kalau Queen harus bisa menjaga diri sebaik mungkin. Hendri dan Reina terus melihat Queen saat melakukan check in. Keduanya langsung pergi, meninggalkan bandara setelah Queen menuju ruangan tunggu untuk menunggu jam penerbangan.
Setelah mendaratkan tubuhnya di kursi, Queen langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam tas. Sesuai dengan perjanjian, Queen harus menghubungi sesorang.
"Ada di mana?" tanyanya setelah seseorang di seberang sana sudah menerima panggilan suara dari Queen.
__ADS_1