
Mobil yang sejak tadi dikemudikan oleh Safir, kini berhenti karena lampu lalu lintas. Melihat ada seorang pedagang minuman dengan fisik yang kurang sempurna, membuat Safir segera membuka tempat penyimpanan yang ada di samping kursi kemudinya.
"Air minum kita sudah habis ya Pak?"
"Habis, Mas. Kan kemarin saya yang buang botol bekasnya."
Safir segera meraih dompetnya untuk mengambil selembar uang. Setelah itu ia menurunkan kaca mobilnya.
"Pak, air minumnya," pinta Safir yang bersamaan dengan suara seorang gadis yang sudah pasti Safir kenali. "Queen," gumamnya.
"Safir," gumam Queen yang nampak terkejut juga.
Siapa yang tahu, kalau Safir harus bertemu dengan Queen dengan cara seperti ini. Entah takdir apa yang terjadi padanya. Rasanya baru semalam Safir harus bersembunyi dan menatap Queen sebentar di ujung tempat yang sedikit gelap. Tapi sekarang Safir harus bertemu tatap dengan Queen seperti ini.
"Mau berapa minumannya Neng? Bang?" tanya pedagang yang justru bingung melihat dua anak muda yang sedang saling memandang.
"Saya mau 1 saja, Pak. Yang aqua biasa saja ya Pak."
"Saya juga sama, Pak. Tapi mau 2."
Karena keduanya memang berniat ingin membeli sekaligus menyisihkan rezeki mereka untuk bersedekah, Safir dan Queen seolah janjian kalau mereka tidak meminta uang kembalian yang seharusnya mereka terima.
"Hai," meski canggung, tapi pada akhirnya Safir menyapa Queen lebh dulu. Air muka Safir bahkan dibuat seolah seperti biasanya walau dirinya tidak bisa pungkir dari hatinya yang tiba-tiba merasa lega.
Safir bingung, entah mau menghindar seperti apa lagi jika posisinya sudah seperti ini. Akan lebih baik kalau Safir menyapa Queen. Lagipula sampai detik ini, Queen belum tahu tentang kebenaran hatinya. Selain itu, kemarin Ruby juga bercerita kalau hanya Queen saja yang tidak mengetehui alasan apa yang membuat Safir dan Divya harus bercerai.
"Hai."
Seperti biasanya, Queen akan tersenyum. Tapi kali ini senyuman Queen kembali seperti saat dulu mereka masih sering bersama. Karena terakhir kali bertemu, Queen hanya tersenyum sekedarnya saja.
Tidak bisa pungkir kalau Queen kecewa karena Safir sudah menceraikan Divya. Queen bahkan tidak percaya karena mengingat betapa besarnya perasaan Safir pada Divya, begitupun sebaliknya hingga keduanya memutuskan untuk menikah.
Tapi yang Queen sadari, tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Safir pasti memiliki alasan yang kuat sampai memutuskan hal sebesar itu.
"Sejak kapan kamu di Jakarta?"
"Sejak kemarin," mau berbohong juga tidak mungkin, karena Safir yakin kalau Queen tahu kalau si kembar mendapatkan kiriman kue dari Zantisya.
__ADS_1
Queen hanya mengangguk pelan. "Kenapa tidak mampir ke rumah?"
"Sulit mengobrol seperti ini. Kita lanjut nanti saja ya?"
"Maksudnya?" Queen jadi sangat berharap, kalau Safir akan mengajaknya bertemu. Tidak masalah kan kalau dirinya sedikit egois karena ingin bersama Safir meski hanya sebentar.
"Jika kamu ada waktu senggang, nanti kita makan siang bersama saja bagaimana?" tawar Safir. Pada akhirnya, Safir memberanikan diri untuk membuat janji.
"Ok! Chat saja lokasinya ya, nanti aku datang di antar sopir."
"Ok! Sampai nanti ya."
Kini mobil keduanya sudah kembali melaju lagi. Tentunya dengan arah mereka masing-masing.
'Setelah bertemu dengan Mbak Queen, wajah Mas Safir langsung terlihat berseri. Apa sebenarnya selama ini Mas Safir suka dengan Mbak Queen ya?' gumam hati Yusman yang jadi menduga.
Sampai pada akhirnya, mereka berdua sudah sampai di lokasi tunjuan.
*
"Selamat pagi, Mbak."
"Pagi," sapa Queen kembali. Ia hanya sejenak melihat karayawati tersebut kemudian kembali fokus dengan layar ponselnya.
"Mbak Queen tumben sekali melihat ponsel sampai tersenyum seperti itu?"
"Perasaan aku selalu seperti ini. Memangnya ada yang aneh ya Mbak?" tanya Queen untuk memastikan lagi.
"Mbak Queen seperti seseorang yang baru saja jatuh cinta."
"Jangan ngada-ngada deh Mbak," ucap Queen yang tetap tersenyum. "Aku masuk duluan ya?"
Senyum Queen langsung redup saat dirinya beranjak. Bukan marah pada karyawannya tadi, hanya saja Queen merasa kalau dirinya kini seperti sedang memanfaatkan keadaan.
Padahal baru saja Divya di ceraikan.
"Tidak perlu memikirkan apapun," ucap Queen sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Selama ini tidak banyak orang yang tahu tentang perasaanku. Jadi tidak akan ada yang salah sangka kalau aku bertemu dengan Safir. Toh kami bertemu bukannya di tempat yang sepi-sepi."
__ADS_1
Tidak ingin terus berpikir banyak kemungkinan-kemungkinan, kini Queen harus fokus dengan tujuannya sekarang ini. Base ceke sudah di sedikan oleh pegawai kini Queen segera mendekor sesuai dengan pesanan, karena nanti malam kue tersebut akan diambil. Pekerjaan Queen rasanya cepat selesai, selain karena Queen hanya tinggal menghias saja, rasanya Queen sedang memburu waktu karena ia tidak ingin kalau sampai melewatkan janji yang sudah ia sepakati dengan Safir.
Hingga beberapa jam kemudian, kini Queen sudah berada di sebuah restoran. Tempat yang memang sudah di janjikan oleh Safir. Walau sudah datang lebih dulu, Queen memilih untuk memesan air minum saja, padahal saat ini perutnya sudah terasa lapar karena memang sudah waktunya makan siang.
"Sumpah, kaya obat nyamuk aku disini," gumam Queen karena melihat pengunjung lainnya yang berpasangan. Wajar saja, karena tempar ini begitu pas untuk berkencan. Apalagi kalau suasana malam hari.
Sedangkan di tempat lain, Safir sejak tadi masih mengobrol dengan seorang klien yang menjadi distributor telur. Klien tersebut menjadi pemasok di beberapa tempat. Klien tersebut berniat bekerja sama dengan Safir untuk membantunya menyuplai kebutuhan telur bebek. Setelah semuanya sudah disepakati, mereka makan siang bersama.
Safir jelas merasa bersalah, karena tadi dirinya sudah membuat janji dengan Queen. Siapa yang menduga, kalau awalnya kliennya hanya ingin bertemu sekitar 3 jam-an saja. Nyatanya hingga kini mereka makan siang bersama. Untuk menghargai kliennya, Safir juga ikut makan siang walau sedikit. Karena Safir berniat akan mengenyangkan perutnya saat makan siang bersama dengan Queen.
Sampai pada akhirnya, klien tersebut sudah mengundurkan diri karena acara makan siang mereka sudah selesai.
"Pak Yusman yang bayar ya. Ini kunci mobilnya. Saya naik ojek online saja, biar cepat."
"Baik, Mas."
Sepanjang jalan, Safir terus melihat jam tangannya. Ia juga mengirimkan pesan pada Queen kalau mungkin saja dirinya akan terlambat.
Kalau saja di tempatnya bertemu tadi terlihat nyaman untuk bertemu dengan Queen, mungkin Safir akan meminta Queen untuk menyusul dirinya di tempat tadi. Tapi tidak lucu juga kalau Queen mengetahui dirinya makan siang dulu dengan klien baru dengan Queen.
Sedangkan di tempat restoran yang di tuju oleh Safir sekarang ini, tentunya tempat yang jauh lebih nyaman dan pas untuk berbicara atau bertemu dengan seseorang yang spesial.
"Sorry, aku baru datang," ucap Safir yang baru saja menghampiri Queen.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru datang sekitar 15 menitan yang lalu, kok. Aku pikir tadi kamu sudah datang lebih dulu."
Safir segera duduk di depan Queen. "Klienku tadi awalnya mengatakan hanya punya waktu 3 jam-an saja bersama denganku dan Pak Yusman. Siapa yang tahu sampai sesiang ini. Oh ya, sudah pesan makan?"
"Sudah. Tidak apa-apakan kalau aku pesankan buat kamu. Aku pikir biar kamu tidak terlalu lama menunggu dan jadi kelaparan. Karena cukup ramai juga pengunjungnya."
Selain memang Queen yang sudah sangat lapar, Queen juga tidak ingin kalau Safir ikut kelaparan seperti dirinya. Sedangkan Safir jadi merasa bersalah, karena hal seperti ini bukanlah pertama kalinya.
Sejak dulu jika mereka janjian bertemu, meski Queen sudah lapar tapi Queen selalu menunggu kedatangan Safir. Bersamaan dengan minuman segar yang Queen gunakan untuk mengganjal perutnya.
'Banyak hal yang sejak dulu aku lewatkan, tentang kamu. Padahal kita dekat. Sangat dekat sampai aku tidak sadar dan mengabaikan semuanya. Aku sungguh minta maaf,' gumam hati Safir.
"Terima kasih."
__ADS_1