Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 43 Istirahat


__ADS_3

Pada dasarnya Divya malu memulai semuanya lebih dulu. Tapi jika bukan dirinya yang memulai, mungkin Safir tidak akan bertindak karena merasa canggung. Apalagi selama berhubungan, Safir tidak pernah secara langsung menyentuh dirinya, kecuali kalau sedang tidak sengaja. Padahal sebenarnya, Divya tidak masalah jika mereka saling berpegangan tangan saat membuat janji temu. Namun, selama ini tidak pernah Safir lakukan. Seolah Safir benar-benar menjaga dirinya dan menghormatinya. Divya memaklumi cara Safir. Karena Safir memang berasal dari keluarga yang lebih agamis jika di bandingkan dengan keluarganya.


Merasa kalau Safir telah merespon perbuatannya. Membuat Divya mengalungkan kedua tangannya pada leher Safir. Berharap kaitan benda kenyal mereka bisa semakin dalam dan seolah mereka bisa saling memiliki.


Detak jantung Divya semakin bertalu-talu saat Safir mulai merebahkan tubuhnya. Bayangan Divya, malam ini mereka akan mengukir kenangan indah yang sudah pasti tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Hal yang pasti akan berkesan seumur hidup mereka. Namun, siapa yang menyangka jika pagutan yang sedang Divya nikmati, kini berakhir sepihak karena Safir yang melepaskan bibirnya secara paksa.


"Di."


Ada rasa kecewa yang tiba-tiba menyusup ke dasar hati Divya. Tapi ia harus memahami Safir karena mungkin saja ada hal yang ingin Safir lakukan lebih dulu. Tapi apa?

__ADS_1


"Kenapa?" Divya semakin mengeratkan belitan tangannya. Agar Safir tidak beranjak darinya. Karena sebagian dada Safir, kini sedikit menimpa tubuh Divya. Begitu saja sudah berhasil membuat seluruh tubuh Divya seolah terasa tersetrum. Lalu bagaimana jika mereka bisa melakukan hal yang lebih dari ini.


"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, Di. Aku capek dan kepala aku pusing. Hal ini bukannya harus kita lakukan sekarang kan? Masih ada besok malam dan selanjutnya. Kita istirahat sekarang ya?"


Sungguh, Safir merasa bersalah karena memperlakukan Divya seperti ini. Tapi mana mungkin jika dirinya mau melakukan hal sejauh itu jika saat ini bayangan Queen terus memenuhi kepalanya. Kedua mata Safir seolah masih mengingat jelas saat dirinya melihat wajah Queen di wajah Divya tadi pagi. Safir akan merasa berdosa pada Divya jika semuanya harus terjadi malam ini dengan keadaan dirinya yang seperti ini. Setidaknya, Safir ingin meminta waktu untuk mempersiapkan diri. Walau waktu semalam tidak akan cukup untuk menyiapkan diri. Karena besok malam, Safir pasti tidak bisa mengelak untuk mereka melakukan hal yang sebenarnya terjadi saat ini.


"Owh, istirahat ya?" ucapnya pelan sambil melepaskan belitan tangannya. "Kamu benar, Fir. Sepertinya kita harus istirahat. Lelah juga kan seharian melangsungkan pesta pernikahan," sebisa mungkin, Divya menyimpan dalam-dalam rasa kecewanya malam ini.


"Terima kasih."

__ADS_1


Karena merasa bersalah, Safir langsung menggendong tubuh Divya sesaat untuk ia tempatkan di posisi tidur yang seharusnya. Kelopak bunga mawar langsung berhampuran saat Safir menarik selimut untuk menutupi tubuh Divya yang tercetak jelas karena gaun minim yang di gunakan. Setelah itu Safir mematikan lampu utama dan segera ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Fi ..."


Belum sampai suara Divya keluar untuk memanggil Safir. pergerakan tangan Divya dan juga mulutnya terhenti karena Safir tidur memunggungi Divya. Padahal baru saja Divya ingin tidur dengan posisi mereka yang saling berpelukan.


'Sepertinya dia benar-benar butuh istirahat,' kata hati Divya. Ia tersenyum menatap punggung Safir. Ada rasa bahagia karena kini mereka telah jadi pasangan suami istri. Tapi ada juga hal yang terasa mengganjal tapi entah itu apa.


Divya terus menatap langit-langit kamar hotel tersebut. Sedangkan tangannya terus mengusap kelopak bunga mawar dan ia hamburkan begitu saja. Divya tersenyum membayangkan kembali ci*uman singkat yang tadi telah terjadi. Hingga akhirnya, Divya lelap terbuai mimpi.

__ADS_1


__ADS_2