Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 132 Talak


__ADS_3

Safir tersenyum getir, mendengarkan semua penuturan Divya. Seolah hidupnya hanya akan lebih baik jika bersama dengan Divya selamanya.


"Semua ucapanmu malam ini, semakin membuat tekatku yang baru saja tersirat, yakin akan aku lakukan. Aku tidak masalah jika seumur hidupku harus sendiri dari pada aku nantinya membuat perempuan lain terluka karena aku. Jadi sekarang, dengarkan aku baik-baik, Di. Aku, Safir Al Ghani. Dengan sadar dan yakin kalau mulai saat ini dan detik ini wanita yang bernama Divya Reindri Anna Wijaya binti Hendri Artha Wijaya, bukan lagi menjadi istriku. Aku menjatuhkan talak untuk kamu," tutur Safir di saat hatinya yang terasa sakit karena merasa di rendahkan dan di ejek hingga tiada harga dirinya dan juga merasa kalau pilihannya ini sudah tepat untuk mereka berdua. Bahkan tatapan Safir begitu yakin pada Divya.


Deg!


Kedua mata Divya nampak berkaca-kaca. Sekalipun perasaannya tidak bisa di jabarkan oleh Divya selama ini. Tapi lelaki yang dengan setia Divya tunggu selama ini untuk menikahinya adalah Safir. Rasanya sungguh aneh, kenapa sekarang Divya merasa tidak rela dengan segala ucapan yang sudah terlontar dari mulut Safir. Kilasan pikiran Divya berharap kalau Safir berkenan menarik kata-katanya barusan.


"Ka-kamu serius mengatakan itu semua?" tanya Divya. Tanpa sadar suara Divya sampai tergagap bersamaan dengan degup jantung yang bekerja cepat.


"Apa masih perlu aku ulangi lagi? Baik kalau masih kurang jelas, Di. Aku memberikan talak 3 padamu. Agar selama kita hidup, kita tidak akan pernah bisa kembali bersatu lagi," ucap Safir memperjelas jatuhan talak pada Divya.


Jedeeerrr ...


Rasanya seluruh tubuh Divya bagai disambar petir. Rasanya sangat menyakitkan ketika talak 3 tersebut sudah Safir ucapkan dengan sangat yakin.


"Kamu pasti akan menyesal dengan ucapan kamu malam ini, Fir," sentak Divya. Kedua matanya terasa perih tapi Divya menahan diri agar tidak menangis dan membuat dirinya terlihat lemah di depan Safir.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyesali apapun, Di. Terutama kata talak yang baru saja aku ucapkan. Karena ini lebih baik dari pada kita sama-sama tersiksa dan saling menyakiti."


"Bohong!" sentak Divya yang jadi tersulut emosi. "Bilang saja kalau kamu mau mengejar Queen kan?" Divya semakin mencurigai niat terselubung Safir.


"Tidak," sentak Safir dengan tegas agar Divya paham. "Sudah aku katakan kalau aku tidak akan mengejar Queen. Dia lebih baik menemukan lelaki lain yang sudah pasti jauh lebih baik dari pada aku. Apa sudah jelas semuanya?"


"Sayang."


Safir dan Divya yang sejak tadi sedang adu mulut kini dibuat terkejut karena mendengar suara Hendri. Keduanya semakin terkejut karena melihat keberadaan Reina dan Hendri yang sepertinya berasal dari ruang makan.


Setelah saling berbicara dengan Divya melalui sambungan suara, Reina mengajak Hendri untuk masuk saja kedalam apartement anak mereka. Awalnya Hendri menolak, karena merasa apartemen tersebut adalah ruangan privasi anak mereka. Tapi Reina memaksa karena ingin menata seluruh makanan yang telah mereka bawa. Berniat membuat kejutan untuk kedua anak mereka. Tapi semua sungguh jauh di luar ekspektasi, karena kini mereka yang dibuat terkejut oleh Safir dan Diivya. Terlebih lagi segala kenyataan yang terungkap dari diri Divya.


Sungguh, Reina dan Hendri sangat sedih dan begitu terluka. kedua mata Reina bahkan sudah terlihat memerah. Sepertinya sudah sejak tadi Reina menahan air matanya di saat kedua mata yang sudah terasa pedih. Bahkan, kaki Reina terasa lemas karena tidak kuat untuk menunjukkan keberadaan mereka.


"Mama."


"Tunggu dulu, Di," Reina menghentikan langkah kaki Divya yang ingin mendekatinya.

__ADS_1


"Di bisa jelaskan semuanya Ma, Pa," ucap Divya takut karena sudah membuat Reina bersedih.


Kini Divya berubah menjadi lembut. Suaranya juga pelan dan tidak tinggi seperti tadi.


"Kamu adalah anak Mama dan Papa yang pertama. Kamu yang hadir dan memberikan kebahagiaan pada kami dengan segala pengalaman yang sangat berharga dan tidak akan mungkin kami lupakan. Kesan pertama yang memberikan pelajaran berharga untuk kami. Membuat kami merasa lengkap karena kehadiran kamu, Di. Sampai sekarang, Mama masih ingat sekali bagaimana rasanya Mama berjuang melahirkan kamu. Sampai pada akhirnya Mama merasa bersalah karena Vian harus hadir disaat kami belum menginginkannya. Kamu masih terlalu kecil, tapi mana mungkin kami abai dengan rezeki yang tak disangka-sangaka. Maka sebisa mungkin Mama tetap prioritaskan kamu ketimbang Vian. Lalu bagaimana mungkin kamu iri dengan adik kamu sendiri sementara Mama selalu bangga punya kamu," Reina mengusap air matanya yang semakin deras, yang sulit untuk dibendung lagi. "Mama tidak masalah dengan hal-hal kecil yang Mama lakukan tapi tidak disukai, Di. Tapi bagaimana mungkin Di dendam dengan adik Di sendiri. Ya Allah ..."


Reina mulai menangis sesenggukan. Dadanya terasa begitu sesak dan terasa sangat menyakitkan. Bagaimana mungkin anaknya yang selama ini terlihat manis dan juga pintar justru memiliki perangai yang tidak Reina ketahui.


"Hanya karena cinta, Di sampai hati menyakiti adik Di sendiri. Apa Di tidak ingat, betapa sayangnya Queen sama Di selama ini? Jika Di sakit, siapa yang selalu menunggu dan menemani Di tidur kalau bukan Queen? Ingatkan saat Di kuliah di luar negeri dulu, kalau Queen tahu Di sakit, entah berapa kali Queen akan menghubungi Di," Reina menghela nafasnya yang semakin terasa sesak. "Kalian lahir dari rahim Mama. Mama juga mengasi kalian. Tapi kenapa hubungan kalian jadi sepertti ini?"


Reina rasanya ingin tahu dimana letak dirinya bersikap pilih kasih. Karena selama ini Reina dan Hendri selalu memberikan apapun yang terbaik dan yang tepat, yang memang anak-anak mereka butuhkan. Karena ketiga anak mereka memang memiliki bakatnya masing-masing.


Tanpa perlu di jelaskan lagi, bagaimana kasih sayang Nissa dan Yusuf yang dulu lebih banyak menjaga Divya, Vian, dan Queen. Sungguh tidak pantas rasanya jika kata pilih kasih itu tersemat untuk Nissa dan Yusuf.


"Sayang," Hendri jelas terkejut karena Reina limbung dan tidak sadarkan diri. Beruntung Hendri sigap untuk menahan tubuh Reina.


"Mama."

__ADS_1


"Dengarkan Papa baik-baik, Di," ucap Hendri yang kini menghentikan pergerakan Divya yang akan menyentuh Reina. "Adil bukan berarti sama. Adil itu memberikan sesuai dengan apa yang anak Papa butuhkan. Selama ini, apa pernah kami membandingkan kalian bertiga?" tanya Hendri dan menatap Divya serius. Membuat Divya mulai ingin menangis karena baru kali ini tatapan Hendri setajam itu. "Tidak kan?" Sentak Hendri yang juga tersulut emosi. "Kami bangga dengan pencapaian kalian masing-masing tanpa membedakan satu dan yang lainnya."


__ADS_2