Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 112 Aku Rindu


__ADS_3

Safir dan Queen menahan rasa canggung mereka sendiri. Tapi jujur, mereka sama-sama bingung mau bersikap seperti apa untuk kebersamaan yang hanya tertinggal mereka berdua saja. Sedangkan Queen yang sempat berpikir untuk menuju toilet, memilih menahan diri. Akan terlihat mencolok kalau dirinya sedang menghindari Safir.


Pikiran Queen juga masih kacau setelah mendapatkan perlakuan tangan Safir. Apakah dirinya mau menanyakan tentang hal itu. Tapi mana mungkin. Karena bisa saja Safir yang tidak sengaja atau justru Queen sendiri yang malah salah mengira.


Queen pikir, dari dulu hingga detik ini Safir tidak mengerti kalau dirinya jatuh cinta pada Safir. Jadi mungkin tidak akan menjadi masalah kalau dirinya bersikap biasa saja walau itu sudah pasti sulit.


Sedangkan Safir juga menahan rasa senangnya karena bisa berduaan dengan Queen seperti ini. Kalau saja Safir tidak mengingat status, mungkin sudah sejak tadi Safir tersenyum dengan binar mata yang penuh rasa cinta dan juga rasa rindu. Namun, Safir harus bersikap seperti biasanya di saat dirinya canggung sendiri. Lagi pula Queen juga tidak mengetahui bagaimana perasaan Safir yang sebenarnya.


Sungguh, dua orang tersebut bingung harus bagaimana. Keduanya seolah menekan rasa canggung mereka secara bersamaan agar mereka bisa berinteraksi. Setidaknya mereka bisa saling mengobrol untuk mengisi waktu.

__ADS_1


Tidak bisa di pungkiri kalau Safir ingin memanfaatkan waktu mereka sebaik mungkin.


"Aku ..." ucap Safir dan Queen secara bersamaan. Karena hal kebetulan tersebut, keduanya jadi saling terkekeh karena tidak menduga kalau mereka sama-sama saling ingin membuka perbincangan.


Jika sekarang Safir merasa lega karena kembali bisa melihat wajah Queen yang tersenyum tulus. Berbeda dengan Queen yang jadi merasa heran dengan reaksi wajah Safir. Rasanya baru kali ini Queen melihat senyuman yang tidak pernah Queen lihat dari Safir. Seperti bukan Safir yang selama ini Queen kenal. Karena selama ini, Safir memang jarang sekali senyum. Menanggapi dirinya saja Safir hanya akan tersenyum miring dengan wajahnya yang terlihat dingin. Jika orang yang tidak mengenal Safir pasti akan mengira kalau Safir adalah orang yang tidak baik saat berinteraksi dengan orang lain.


'Sepertinya dia sangat bahagia sekarang. Menikah dengan orang yang sangat dia cintai dan bisa membuat dia tersenyum semanis itu,' gumam hati Queen. Rasanya begitu campur aduk. Ada rasa senang yang di balut kesedihan. Tapi Queen menyadari hal ini wajar terjadi.


Queen tersenyum dan mengangguk pelan. "Bagaimana dengan pekerjaan kamu?"

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Safir. Kedua matanya bahkan takut untuk berkedip karena Safir seolah tidak ingin menyia-nyiakan waktu walau hanya seditik saja.


"Syukurlah. Aku senang melihat kamu dan Kak Di bahagia."


Safir hanya tersenyum kecil. Tidak tahu saja Queen, bagaimana kehidupannya dengan Divya selama ini. Segala yang terhadi yang harus Safir tanggung sendiri. Mau bagaimana lagi. Karena memang ini adalah keputusan yang Safir ambil sendiri.


"Aku juga sangat bersyukur dan juga senang karena kedatanganku kesini membuat aku bisa bertemu lagi dengan kamu."


"Hah!" jujur, Queen bingung dengan apa yang baru saja di ucapkan Safir. Mungkin hanya kata-kata biasa dari seorang sahabat. Tapi kenapa rasanya deretan kata tersebut begitu saling menyentuh hati mereka. Seolah terdapat makna dan pesan tersirat dari cara pandang Safir.

__ADS_1


"Aku rindu dengan ..."


"Safir ..."


__ADS_2