Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 66 Bulan Madu


__ADS_3

Yang mengetahui secara detail tentang bangunan kantor Safir tersebut tentu hanya arsitek, Safir, Queen, dan tukang serta para pekerja lainnya. Baik Safir dan Queen belum pernah mereka menceritakan setiap bagian bangunan kantor tersebut. Rencananya, semua akan mereka beritahukan pada orang tua Safir begitu semuanya sudah selesai 100%.


Untuk sesaat, Safir hanya terpaku menatap ruangan yang baru saja di pertanyakan Zantisya. Ingatannya kembali terarah pada Queen lagi. Bagaimana tidak. Sepenuhnya ruangan tersebut di design sesuai dengan kainginan Queen. Tidak cukup dari situ, karena selurus furnitur juga Safir beli sesuai dengan kemauan Queen. Jika di ingat-ingat lagi, tidak ada satu hal pun yang tidak Safir wujudkan jika Queen sudah meminta sesuatu. Sekalipun saat Queen mengatakan maunya, Safir terlihat tidak menanggapi apa maunya Queen.


Safir hanya bisa menghela nafasnya pelan. Semua orang sudah menunggu jawabannya. "Ruangan itu hanya ruangan biasa. Nanti akan Safir gunakan untuk menyimpan dokumen penting. Karena tidak mungkin kalau semua berkas di simpan di ruangan kerja Safr. Safir tidak suka jika ruangan kerja Safir jadi banyak tumpukan kertas."


Jika semua orang menerima jawaban Safir begitu saja. Tidak dengan Zantisya yang sudah sangat paham dengan anaknya tersebut. Bagaimana mungkin Safir tidak menyukai tumpukan kertas kalau sejak kecil Safir sudah menyukai buku bacaan. karena terlalu sukanya membaca, Safir sampai memiliki banyak koleksi buku yang sudah Safir baca.


Buku adalah kesukaannya. Aroma kertas sudah seperti dunia tersendiri untuk Safir. Bukankah itu artinya ruangan tersebut adalah tempat yang begitu penting sampai akan Safir gunakan untuk menyimpan berkas penting.


'Apa yang kamu pikirkan Safir?' batin Zantisya yang sudah bisa menebak keadaan.


Setelah melihat ruangan kerja Safir, semua orang segera turun. Mereka harus bergabung bersama dengan yang lainnya untuk menikmati makanan yang sudah tersaji.


*


Di Semarang.


Sejak tadi Queen hanya duduk termenung. Melihat Vian yang sejak tadi sedang mencuci kendaraan. Sudah 3 motor yang Vian cuci. Karena Vian tidak memperbolehkan Queen untuk ikut lagi mencuci kendaraan. Membuat Queen memilih diam di tempat.


Pikirannya melayang entah kemana. Campur aduk menjadi satu karena perasaan pribadinya yang sedang terus Queen abaikan. Dan juga Vian yang hidup seperti ini sejak hampir 3 tahun lamanya.


"Ini kalau sampai Opa tahu, bisa-bisa Opa kena serangan jantung lagi," gumam Queen saat ingat kalau Yusuf pernah serangan jantung perkara Vian berseteru dengan Zen. "Ini tidak bisa di biarkan. Aku harus bertindak setelah aku merasa puas mencoba hidup seperti ini," gumamnya yakin dengan keputusannya sendiri.


Ini bukan soal Yusuf saja. Tapi juga orang tuanya. Terutama Hendri yang memiliki selisih usia beberapa tahun dengan Yusuf. Papa dan Opanya sudah semakin tua. Jika semua ini tetungkap, Queen tidak ingin semua orang jadi terkena serangan jantung. Bagaimana tidak. Mereka berasal dari keluarga yang berada. Melihat keadaan Vian saat ini pasti akan menyakiti hati semua orang yang merindukan Vian.


Memang tidak ada yang salah jika berusaha mandiri untuk mengembangkan kemampuannya sendiri. Tapi keadaan ini, semua orang bahkan tidak ada yang tahu keberadaan Vian di mana dan seperti apa.


"Jangan melamun terus. Kesambet nanti kamu," ucap Juli yang kini mendaratkan tubuhnya di kursi dekat Queen.

__ADS_1


"Kesambet apaan Kak? Setan saja takut sama aku," ucap Queen sambil memasang wajah garang.


Sedangkan kini Juli menjadi terkekeh. "Saat pertama kali aku melihat Vian, aku yakin kalau dia bukan orang biasa seperti aku. Dan sekarang saat aku melihat kamu, aku semakin yakin, kalau di dunia ini ada ratu yang benar-benar nyata dan pas di hati aku."


Mendengar penuturan Juli, justru membuat Queen mengerutkan keningnya. Ia sedang mencerna dengan baik ucapan yang jelas mengandung gombalan tersebut.


"Bercanda," jelasnya yang kini memasang wajah serius. "Saat aku melihat kamu, aku yakin kalau kalian itu lahir dari keluarga yang berada kan?"


Apakah penampilan bisa semencolok itu untuk mengetahui kalau orang itu adalah orang yang berada atau bukan. Padahal selama ini Queen selalu menggunakan baju yang simpel sekalipun harganya terkadang cukup mencengangkan.


"Kemarin saat dia bilang libur kerja dan bilang mau pulang sebentar untuk melihat pernikahan  Kakaknya, di situ aku melihat kerinduan yang ia simpan. Kalian masih punya orang tua lengkap kan?"


Queen mengangguk cepat. "Iya, Kak."


"Aku yakin, selain pulang karena Kakak kalian yang menikah, tapi karena Vian juga merindukan orang tua. Aku tidak tahu masalah kalian apa. Tapi Queen, aku yakin kamu bisa membantu semuanya agar segera membaik. Jujur, aku yang hidup pas-pasan kok justru kasihan sama keadaan Vian sekarang."


"Heh, ngapain deketin adik, aku?"


"Pedekate dengan calon istrilah," jawab Juli secara asal. Dan membuat Queen menahan kekehan.


"Ih, ogah deh aku punya adik ipar macam kamu," ucap Vian sambil menggerakkan kedua bahunya.


"Kalau takdirnya begitu, kamu mau apa calon Kakak ipar?"


"Geli woooiii ..." teriak Vian menolak.


*


Setelah acara peresmian kantor, beberapa hari kemudian, Safir dan Divya pergi berbulan madu. Sesuai dengan janji Hendri yang sudah kong kalikong dengan Arjuno, semua biaya bulan madu mereka yang menanggung. Sebagai besan yang harus berhubungan baik, maka Hendri dan Arjuno harus tetap saling mendukung rencana satu sama lainnya.

__ADS_1


Safir sendiri, memilih menuruti ke negara mana yang di inginkan Divya. Sekarang yang Safir utamakan, bukan soal negara dan di mana mereka akan berlibur. Tapi niat hati Safir tetap saja untuk semakin mempererat hubungannya dengan Divya agar semakin erat. Safir harus mendustai semua kenyataan. Berharap kelak kebahagiaan akan menyertai rumah tangganya.


Ini adalah hari pertama Safir dan Divya berada di Paris. Setelah selesai makan malam, mereka segera memasuki kamar hotel. Mereka harus istirahat yang cukup karena rencanaya besok mereka akan pergi ke beberapa tempat yang ingin sekali di kunjungi oleh Divya.


Namanya juga pengantin baru. Apa lagi sekarang Divya sudah selesai mendapatkan tamu bulanan. Tentu saja tujuan mereka saat ini adalah menghabiskan malam yang sudah tertunda. Malam ini akan menjadi malam yang sangat romantis, karena acara malam pertama yang sudah tertunda akan mereka lakukan di negara tersebut.


Sesuai degan artikel yang Safir baca, ia harus memulai seperti apa agar Divya puas dengannya dan tidak curiga dengan keadaaannya. Tapi siapa yang menduga, opening sekedarnya yang sudah Safir lakukan, membuat Divya sudah meminta Safir untuk menerjang dirinya.


Divya pikir, jika semua ini sudah terjadi, maka Safir akan sepenuhnya menjadi milik Divya. Dirinya juga sudah sah menjadi istri Safir. Namun, siapa yang menduga. Baru beberapa menit Safir berusaha, lelaki tersebut menyerah karena kesulitan menerobos Divya. Suara desah nafas Divya bukannya terdengar indah, dan membuat Safir terbakar hasrat. Hal itu justru membuat Safir merasa bingung sendiri. Membuat senjata yang sudah siap tempur karena Safir memusatkan pikirannya pada Divya, justru semuanya hancur dan membuat senjata tumpul itu tidak tajam sama sekali.


"Kenapa Fir?" tanya Divya saat Safir menghentikan usahanya.


"Kita coba besok lagi, Di," ucap Safir sambil turun dari atas ranjang. Ia langsung meraih kain sarung yang Safir lipat dan Safir letakkan di atas sofa, untuk membelit pingganganya. Setelah itu, Safir melangkah cepat menuju kamar mandi. Membuat Divya hanya menghela nafasnya pasrah.


Hingga beberapa hari mereka berada di Paris. Setelah tiga kali mencoba, pada akhirnya luruh juga pertahanan Divya. Safir sudah berhasil memiliki Divya sepenuhnya. Itupun karena Divya membuat ide agar mereka melihat film blue terlebih dahulu. Hanya saja, baru beberapa saat Safir dan Divya berada di permainan utama, kini Safir kembali menyerah karena pikirannya yang tidak fokus dan berakhir membuat senjatanya enggan untuk tegak dan tajam.


"Maaf Di," ucap Safir. Seperti biasanya, Safir akan langsung lari menuju ke kamar mandi.


Divya mulai jengkel sendiri. Ia langsung beranjak sambil menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya. Raganya seolah di belah menjadi dua, demi untuk menjadi istri yang sempurna. Sungguh, Divya ingin marah dengan Safir. Padahal tadi lagi seru-serunya. Tapi semua kacau karena Safir kembali mengakhiri semuanya.


Klek


"Kamu ada masalah apa sih Fir?"


Baru saja Safir keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri, kini dirinya sudah di suguhi pertanyaan dengan nada suara yang cukup tinggi dan Divya yang nampak marah.


"Masalah? Aku sama sekali enggak ada masalah."


"Kalau enggak ada masalah, kenapa kamu lemah sekali? Awal kemari, beru mau coba 2 menit kamu sudah nyerah karena lemas kan? Terus hari ke dua juga sama. Dan malam ini, kita sudah berhasil loh Fir. Tapi kenapa tetap saja sama. Jangan bilang kamu impo*ten Fir."

__ADS_1


"Astaghfirullah Diii ...:"


__ADS_2