Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 51 Queen Menggagalkan Rencana Bunuh Diri


__ADS_3

Apa yang tadi sedang di pikirkan Queen sepertinya benar adanya setelah Rara mengucapkan isi hatinya barusan. Queen ikut prihatin, tapi kini dirinya harus berhasil membujuk Rara agar tidak bertindak nekat.


"Rara, apa yang sudah terjadi maka biarkan semuanya itu berlalu. Jika kamu seperti ini, maka lelaki bre*ngsek itu akan merasa besar kepala karena merasa kamu cinta mati sama dia. Buat dia menyesal karena telah tinggalkan kamu. Balas dendam yang terbaik itu menunjukkan kalau kamu bisa semakin baik. Tanpa lelaki itu, kamu masih bisa hidup bahagia bahkan berkali-kali lipat kebahagiaannya."


"Tapi Kak. Aku ..." meski sudah mengaku diri, kini Rara merasa malu untuk mengatakannya lagi.


"Semua sudah terjadi kan? Maka mulai sekarang jangan di lakukan lagi. Ingat, hal seperti itu hanya boleh di lakukan saat kamu sudah menikah nanti. Pikirkan Bapak kamu, Rara."


Rara langsung mengangkat wajahnya. Ia menatap air muka Bapaknya yang terlihat sedih, takut, khawatir dan lain sebagainya yang sudah bercampur menjadi satu.


"Berapa usianya beliau. Berapa lama beliau membesarkan kamu seorang diri. Tanpa dampingan Ibu kamu, Ra. Kamu harapan satu-satunya. Kamu dunianya. Aku yakin, beliau jugan tidak mudah bertahan sendiri tanpa pasangan hidupnya. Tapi demi kamu, beliau masih bertahan hidup untuk menjaga dan merawat kamu hingga saat ini. Coba pikirkan kalau sekarang kamu terjun lalu kamu mati. Bagaimana hancunya hati beliau. Apa kamu tega melihatnya dari atas sana hidup seorang diri di masa tua?" Queen mulai melangkah untuk mendekat saat Rara mulai menangsi tersedu-sedu. "Bapak kamu adalah lelaki satu-satunya yang mencintai kamu dengan tulus," ucap Queen dan langsung menarik tangan Rara agar menjauh dari tepi jurang.


Sedangkan lelaki yang sejak tadi memperhatikan interaksi Queen dan Rara langsung menarik tangan Rara dan memeluk Rara. Mereka berdua menangis. Meluapkan isi hati yang tidak bisa di jabarkan lagi.

__ADS_1


"Bapak, maafin Rara, Pak. Rara sudah kecewain Bapak. Rara sudah merusak kepercayaan Bapak. Rara salah, Pak," ucapnya di sela-sela tangisan yang sudah sesenggukan.


"Sudah, jangan di pikirkan lagi. Semua sudah terjadi. Yang penting sekarang Rara tidak tinggalin Bapak. Bapak takut sekali Nduk."


Queen tersenyum samar dan hatinya merasa begitu lega. Ia sungguh tidak menyangka jika ucapannya berhasil memprovokasi Rara untuk tidak berbuat nekat. Sampai pada akhirnya, keduanya sudah mulai tenang dari tangisan.


"Nduk, terima kasih karena sudah menyelamatkan anak Bapak ini," ucapnya dengan air muka penuh syukur.


"Bukan saya yang menyelamatkan Rara, Pak. Tapi hati Rara sendiri yang tergerak dan itu untuk Bapak," ucap Queen kemudian tersenyum tulus. "Rara, semangat ya."


*


Sudah sejak tadi Safir mengendarai mobil. Menerjang jalanan yang cukup ramai kendaraan. Sebisa mungkin Safir bisa melaju cepat karena kini dirinya sudah mendapat kabar dari Queen, kalau gadis tersebut sudah sampai lokasi peternakan.

__ADS_1


Begitu sampai, Safir langsung mencari keberadaan Queen. Ia menuju rumah kecil yang memang di tempati secara bergantian oleh pegawai yang bertugas saat malam hari.


"Loh, kok enggak ada," gumamnya. Seketika itu juga Safir langsung khawatir, Karena biasanya, jika Queen datang lebih dulu, Queen akan berada di sekitar jalanan karena menunggu dirinya. Atau Queen akan berada di teras rumah tersebut. "Pak lihat Queen enggak?" tanyanya saat salah satu pegawainya datang.


"Mbak Queen tadi sepertinya lari ke arah sana deh Mas. Saya lihat saat saya sedang kasih pakan sapi."


Tanpa pikir panjang lagi, Safir langsung lari mencari keberadaan Queen. Ia takut kalau terjadi sesuatu hal dengan Queen. Bagimana kalau ada orang jahat yang melakukan hal yang tidak-tidak pada Queen. Apalagi Queen tidak begitu menguasai ilmu bela diri. Bagaimana caranya Queen melindungi dirinya jika sedang sendirian seperti ini. Entah apa tujuan Queen sampai pergi ke arah sini.


"Queeennn ..." Teriaknya sambil lari cepat.


Samar-samar, Queen mendengar suara Safir. "Sepertinya teman saya sudah datang Pak. Kalau begitu saya permisi."


Baru saja Queen mau meninggalkan keduanya. Tapi siapa yang menduga kalau Safir lebih dulu datang.

__ADS_1


"Haaahhh ... Haaahhh .... Haaahhh ..." Safir sampai terengah-engah karena terus lari cepat untuk mendapatkan Queen. "Ternyata kamu di sini. Kamu baik-baik saja kan?"


Queen terpaku menatap air muka Safir yang begitu khawatir. Jika sudah seperti ini, bagaimana mungkin Queen tidak semakin jatuh hati dengan Safir.


__ADS_2