
"Papa, Mama, Opa. dan Oma naik mobil saja. Queen juga naik mobil saja, biar Kakak yang dorong grobaknya," ucap Vian.
Setelah mereka membereskan barang bekas dagangan, Vian mengtraktir keluarganya. Rasanya Vian memiliki kebanggaan tersendiri karena bisa membelikan sesuatu untuk keluarganya. Sekalipun itu hanya makanan yang di jual di pingir jalan.
"Ayah naik mobil saja," ucap Reina. Ia ingin jalan bersama anaknya, hanya saja Reina tidak mau jika Yusuf ikut jalan. Reina takut kalau jalan yang harus di tempuh ke dua anaknya tersebut sangat jauh, yang nantinya bisa membuat Yusuf lelah. Apalagi tadi Yusuf sempat merasakan nyeri dada.
"Ayah ikut jalan saja. Kalau lelah, nanti Ayah akan naik mobil."
Tidak ada yang bisa mendebat Yusuf. Lagi pula memang selama ini Yusuf selalu sehat karena memang sampai saat ini Yusuf masih rajin olahraga. Menikmati makanan yang sehat, berharap Yusuf masih di berikan waktu lebih lama lagi.
Kini semua orang mengikuti Queen dan Vian. Sekalipun sedih melihat keadaan ini, tapi tidak bisa di pungkiri kalau hati mereka bangga pada Vian. Karena Vian bisa bertahan hidup dengan cara yang benar. Tidak banyak orang yang bisa hidup dan tetap baik-baik saja setelah hidup bergelimangan harta, lalu harus terjun ke kehidupan yang seperti ini.
"Ini tempat tinggal Vian selama ini?" tanya Reina saat Vian sudah menghentikan gerobaknya.
"Iya, Ma."
Vian bisa bernafas lega, karena Queen yang ingin hidup bersamanya sementara waktu, membuat Vian haru pindah dari kostan yang sempit dan kini tinggal di sebuah kontrakkan. Jika semua orang tahu tempat kost-annya, sudah pasti hal itu hanya akan membuat semua orang sedih.
Begitu memasuki kontrakan, semua orang hanya terdiam dengan perasaan yang terasa sangat sakit. Bagaimana bisa selama ini Vian tinggal di tempat seperti itu. Ruangan minimalis, yang sudah jelas masih luas ruang tamu rumah Hendri dan Yusuf. Apalagi saat semua orang harus melihat kasur single di ruangan depan.
"Kalian tidur di tempat seperti itu?" tanya Reina sambil menunjuk kasur.
__ADS_1
"Karena Queen datang, Vian yang tidur di sini, Ma. Dan Queen tidur di kamar."
"Pokoknya Mama enggak mau tahu, Vian harus ikut pulang ke Malang lagi," ucap Reina yang sudah tidak mau di tawar-tawar lagi.
"Ma."
"Mama enggak mau dengar negosiasi apapun, Vian. Pokoknya Mama mau Vian ikut pulang ke Malang setelah acara undangan selesai, titik. Mama lebih suka kalau kamu lanjut S2 ketimbang seperti ini. Ayo kalian bersiap dan kita ke hotel."
Rasa nyeri hingga menyiksa ulu hati. Mana mungkin Reina bisa membiarkan Vian untuk tetap hidup di sini sedangkah kehidupannya yang begitu nyaman. Membayangkan Vian tidur di kasur sempit saja hati Reina sangat sakit. Padahal sejak kecil Vian kalau tidur selalu saja bergeluntungan mengikuti luasnya ranjang, terutama saat Vian belum bisa tidur.
"Baik Ma."
*
Rasanya baru sebentar Safir tidur, berharap dengan istirahat lebih awal, membuat degup jantungnya kembali normal dan rasa pusingnya segera menghilang. Namun, siapa yang menduga jika kini Safir harus terbangun secara tiba-tiba karena ia kesulitan bernafas.
"Bundaaa ..."
Nyawa Safir seolah kembali pada raganya secepat kilat. Mungkin karena ia sangat merasa bersalah pada Zantisya, perkara dirinya membuat kecewa perempuan yang telah melahirkannya ke dunia ini. Maka sekarang yang Safir panggil dan Safir ingat adalah Zantisya.
"Ada apa Fir?"
__ADS_1
Sejak tadi Divya tidak bisa tidur. Tidak bisa di pungkiri kalau ia juga khawatir dengan keluhan Safir. Dan kini, rasanya baru saja Divya memejamkan kedua matanya, tapi ia harus kembali terjaga karena mendengar suara Safir.
"Di, dadaku sesak sekali," keluh Safir sambil menepuk dadanya.
*
"Safir," Zantisya seketika harus terbangun karena dirinya mendapatkan mimpi buruk.
"Ada apa Dek?" Arjuno jadi ikut terbangun karena suar Zantisya yang mengejutkannya.
"Safir, Mas. Aku takut terjadi sesuatu hal sama Safir," ucap Zantisya dengan air muka yang nampak khawatir.
Arjuno menyentuh kening Zantisya yang di basahi oleh keringat dingin. Setelah itu Arjuno meraih air minum yang tersedia di sana.
"Minum dulu," ucap Arjuno. "Istighfar Dek. Kamu hanya mimpi buruk."
Zantisya meneguk air minun hingga tandas. "Tapi perasaanku tidak enak, Mas."
"Doakan kebaikan anak kita yang sedang bulan madu. Kalau ada apa-apa, Safir pasti menghubungi kita."
"Mas seperti tidak tahu tabiat anak itu saja."
__ADS_1
"Safir sudah sangat merasa bersalah karena keputusannya sendiri. Tapi sekarang dia sudah mulai berubah, Dek. Berpikir yang baik untuk anak kita."