
"Biar aku saja yang bayar," ucap Dafa saat Safir akan menuju ke kasir.
"Biar saya yang bayar," ucap Safir dengan air muka yang tak terbaca. Membuat Dafa tidak bisa menahan Safir dan membiarkan Safir meninggalakan Divya dan Dafa.
Saat Di kasir, sekilas Safir melihat iteraksi Divya dan Dafa yang masih nampak seru. Terlihat jelas kalau kini keduanya saling bertukar nomor handphone. Safir hanya tersenyum miring lalu kembali mendekati keduanya.
"Terima kasih atas traktirannya Safir, Divya," ucap Dafa setelah Safir kembali duduk.
"Sama-sama," jawab Safir singkat.
"Mas kalau punya waktu senggang, jangan lupa mampir ke rumah kami," ucap Divya ramah.
"Lebih tepatnya rumah mertua," potong Safir untuk membenarkan. Padahal ada pesan tersirat yang sedang Safir sampaikan pada Divya.
"Loh, kalian tidak memilih berumah sendiri?" Dafa jadi ingin tahu sekilas tentang keduanya.
"Enggak Mas. Vian sudah lama enggak pulang, sedangkan Queen lanjut kuliah ke Australia. Jadi kami ikut tinggal di rumah kedua orang tuaku dulu, sambil menemani mereka. Jika sewaktu-waktu salah satu adikku sudah pulang, kami pasti memilih rumah sendiri," tutur Divya.
"Kalian harus coba tinggal di rumah sendiri sih. Lebih bebas, apalagi untuk kalian yang masih pengantin baru," usul Dafa yang menurutnya paling tepat.
"Terima kasih sarannya," ucap Safir mendahului Divya sambil melihat jam tangannya. "Waktunya sudah semakin malam, kami pulang lebih dulu ya," ucap Safir mengajak Divya berpamitan.
"Silahkan, sekali lagi terima kasih traktirannya," ucap Dafa tulus.
Safir segera menjinjing semua barang belanjaan Divya. Tanpa mau bergandeng tangan seperti tadi, karena kini Safir memilih melangkah lebih dulu.
Sedangkan Dafa hanya terus menatap punggung Divya yang semakin menjauh. "Aku terlambar kembali ke Indonesia. Seandainya aku datang lebih awal, mungkin aku masih punya kesempatan untuk mengungkapkan semuanya," gumam Dafa. "Tapi apa aku punya kesempatan? Kenapa aku rasa dia tidak mencintai kamu, Di?" sekilas rencana buruk datang menyulut hati Dafa.
"Tunggu Fiiirrr ..." Ucap Divya sambil mempercepat langkah kakinya. Divya jelas sedikit kesusahan karena dia menggunakan heels yang cukup tinggi. Tapi sebisa mungkin Divya tetap melangkah cepat agar mereka bisa jalan berdampingan dan saing bergandeng tangan seperti tadi. "Safiiirrr ..." Panggil Divya lagi. Tapi sayangnya Safir tetap mengabaikan Divya.
Sampai pada akhirnya, mereka sudah memasuki lift untuk menuju basement. Divya ingin mengajak Safir bicara tapi tidak bisa karena di dalam lift tidak hanya mereka berdua saja.
"Fir, kamu kenapa sih?" tanya Divya sambil mengejar Safir lagi. Karena kini mereka sedang menuju mobil. "Safir," sentak Divya yang sudah tidak tahan lagi dengan prilaku Safir yang tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Karena mendengar nada suara Divya yang meninggi, membuat langkah kaki Safir terhenti. Ia balik badan dan melihat beberapa orang yang jadi melirik ke arah mereka. Safir ingin sekali menanggapi Divya langsung, tapi ia menunggu orang-orang menjaauhi mereka berdua.
"Aku bingung dengan kamu, Di. Ternyata bukan hanya aku saja manusia di dunia ini yang enggak peka, tapi kamu juga sama denganku, enggak peka dengan bahasa tubuh. Kita pulang sekarang," ucap Safir singkat. Ia tidak ingin panjang lebar bicara. Karena Safir tidak ingin jika mereka bertengkar di tempat umum seperti ini.
Sepanjang jalan, baik Divya maupun Safir sama-sama diam. Divya bingung karena memikirkan salahnya apa. Sedangkan Safir memilih fokus dengan kemudianya. Sampai pada akhirnya, mobil sudah memasuki halaman rumah. Keduanya segera keluar dari dalam mobil.
Safir melangkah cepat meninggalkan Divya. Sedangkan Divya sibuk mengejar langkah kaki Safir yang menurut Divya seperti hampir lari tersebut.
"Fiiirrr ..."
Bahkan keduanya menaiki tangga seperti orang yang sedang kejar-kejaran. Karena Safir sendiri ingin segera sampai kamar mereka.
"Kenapa toh ini anak-anak," gerutu Zantisya saat akan keluar dari ruang keluarga dan melihat raut wajah safir dan Divya.
"Ada apa?"
"Itu loh Mas, Safir sama Divya. Perasaan tadi saat akan pergi terlihat keduanya baik-baik saja. Lah kok sekarang kelihatan sedang bertengkar."
"Perasaanku mereka ini baru menikah dan jadi pengantin baru. Bukannya terlihat romantis kok jadi kelihatan terus berselisih paham sih," tutur Zantisya yang selalu memperhatikan hubungan Safir dan Divya.
"Ya sudahlah Dek, biarkan saja. Nanti juga romantis sendiri," Arjuno masih terus santai menanggapi omelan istrinya.
"Itulah akibatanya kalau menikah burur-buru. Salah jodoh itu Mas."
"Astaghfirullah Dek, istighfar. Enggak baik bicara takdir yang sudah di tetapkan," ucap Arjuno yang kini jadi serius.
"Astaghfirullah hal adzim," ucap Zantisya sabil mengusap dadanya. "Maafkan mulut hamba ya Allah."
"Sudah ayo masuk kamar. Mending kamu pijatin aku saja Dek dari pada ngomel sendiri seperti ini," Arjuno langsung merangkul Zantisya dan ia ajak memasuki kamar.
"Sendirian bagaimana? Sudah jelas aku dari tadi ngomelnya sama Mas."
"Sudah-sudah, yang penting sekarang pijati aku saja."
__ADS_1
*
Begitu memasuki kamar, Safir melempar semua paper bag ke atas sofa singel yang ada di sana. Ia sepertinya akan memulai adu mulut lagi dengan Divya.
"Kamu sebenarnya kenapa sih Fir?" tanya Divya saat melhat kelakuan Safir.
"Kenapa kamu bilang? Kamu masih belum sadar dengan salahmu apa, Di?"
"Memangnya aku salah apa?" tanya Divya yang masih bingung dengan kesalahannya.
Safir menarik nafasnya dalam-dalam. Sepertinya memang Divya tidak memperhatikan sikapnya selama di mall tadi.
"Apa kamu tahu, tujuanku mengajak kamu keluar tadi apa?"
"Beli baju kan?"
Safir jelas tersenyum kesal mendengar jawaban Divya. "Aku mengajak kamu keluar itu tujuan utama aku untuk kencan. Ya meskipun kita hanya belanja dan makan saja. Tapi itu tujuan aku ajak kamu keluar, Di. Tapi dengan mudahnya kamu merusak semuanya, padahal aku berniat memperbaiki hubungan kita."
"Merusak? Memangnya aku melakukan apa Fir?"
"Astaghfirullah Diii ... Kok kamu masih belum paham juga. Aku kesal karena kamu ajak teman kuliahmu itu makan bersama dengan kita. Kamu ngerti sekarang salah kamu apa kan?" tuntu Safir. Bahkan kini suara Safir semakin tinggi karena memarahi Divya.
Untuk sesaat, Divya menahan senyum samarnya. Entah kenapa hatinya merasa senang kali ini. "Kamu cemburu sama Dafa, Fir?"
"Ini bukan masalah cemburu atau tidak Di. Tapi kamu yang sudah merusak waktu kencan kita."
"Kalau kamu tadi bilang enggak bolehin Dafa gabung dengan kita, aku pasti akan nurut sama kamu, Fir."
"Lucu kamu, Di. Coba pikir, apa aku harus menolak permintaanmu yang mengajak Dafa makan di depan orangnya langsung?" tuntut Safir sambil menatap tajam Divya.
"Ok, aku minta maaf soal tadi. Tapi ..."
"Stop," sentak Safir yang tidak ingin mendengarkan Divya membuat alasan. "Sudahlah," ucap Safir yang kini memilih memasuki kamar mandi.
__ADS_1