Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 152 Berusaha Menyelamatkan Diri


__ADS_3

Terbiasa menemui Divya secara sengaja, dan seolah Divya mengira tidak sengaja bertemu dengan Dafa, tentunya selama waktu 2 bulan ini Dafa sangat merindukan Divya. Gadis yang sejak kuliah dulu sudah memikat hati Dafa. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan peremuan cantik, pintar, mandiri dan berasal dari keluarga yang berada dan sangat terpandang tersebut.


Sudah sejak satu bulan ini, pada akhirnya Dafa mengetahui dimana Divya tinggal. Saat itu karena dirinya iseng saja mengikuti mobil yang baru saja keluar dari kediaman Reina dan Hendri. Sejak itu, Dafa juga menyewa salah satu Vila yang ada disana. Namun, sesekali juga Dafa harus bolak-balik Semarang-Malang begitu juga sebaliknya, karena Dafa juga harus mengurus pekerjaannya.


Hingga kini, saatnya Dafa memiliki kesempatan untuk menemui Divya. Rasa rindu yang sangat ingin memiliki Divya tentu membuat Dafa senang saat mengintai villa Divya dan melihat Vian meninggalkan Vila tanpa mengajak Divya. Padahal biasanya, Divya selalu ikut kemanapun Vian pergi.


Tanpa pikir panjang lagi. Karena rasa ambisi yang begitu ingin memiliki dan sudah putus asa dengan caranya yang ingin mendekati Divya lebih jauh lagi, membuat Dafa semakin gelap mata.


Seolah semuanya sudah Dafa rencanakan semaksimal mungkin, karean setelah Dafa berhasil membuat kesadaran sopir yang sedang mengelap mobil, hilang. Dafa juga melakukan hal yang sama pada Art yang sedang membersihkann villa tersebut.


Dafa segera menuju kamar yang ada di lantai atas. Ia melihat kamar yang tidak ada keberadan Divya disana. Dapat dipastikan kalau itu adalah kamar Vian. Setelah itu Dafa segera menuju kamar sebelahnya lagi. Benar saja, karena kini Dafa bisa melihat Divya yang sudah terlelap.


Dafa mengunci pintu kamar tersebut dan ia masukkan kuncinya kedalam saku celana. Dengan senyuman yang merekah, menampilkan wajah yang begitu senang. Secara perlahan Dafa mendekati Divya. Janda muda yang tidur dengan menggunakan baju terusan yang panjangnya hanya sebatas lutut. Divya yang tidak menggunakan selimut, tentu membuat hasrat Dafa semakin menyala karena kedua matanya dengan sangat jelas melihat kulit halus yang tak bercorak tersebut.


Dafa duduk di tepi ranjang, Secara perlahan dirinya mengusap kaki Divya. Sampai beberapa menit kemudian, usapan lembut tangan Dafa berhasil membuat suara lenguhan mulut Divya yang terdengar mendamba. Membuat Dafa semakin tidak sabaran dan membuatnya menyentuh Divya hingga ke paha Divya. Sampai pada akhirnya, tidur lelap Divya terusik karena perbuatan Dafa.


"Bagaimana bisa kamu ada disini?" tanya Divya sambil menjauhkan diri dari Dafa. Divya sangat takut, padahal di villa ini ada sopir dan jug Art. Tapi kenapa Dafa sampai bisa masuk dengan mudah. Yang Divya bingung, darimana Dafa tahu kalau dirnya ada di Villa ini.


"Apapun bisa aku lakukan, karena aku sangat merindukan kamu, Di!"


"Jangan mendekat!" sentak Divya saat Dafa melakukan pergerakan. "Keluar dari kamar aku sekarang juga," perintah Divya dengan suara yang bergetar. 'Mama, Papa. Di takut,' teriak hati Divya yang ingin mencari bantuan.


"Di, aku punya ini buat kamu," ucap Dafa sambil merogoh sebuah kotak kecil yang berisi cincin. "Sudah sejak lama aku menyukai kamu. Sejak kita saling kenal kala di luar negeri dulu. Kamu mau ya jadi pendamping hidup aku. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu begitu saja, seperti yang Safir lakukan ke kamu."


"Aku enggak mau, Dafa. Aku enggak memiliki perasaan apapun sama kamu. Tolong keluar dari kamar aku sekarang juga," tolak Divya karena memang tidak memiliki perasaan yang sama.


Mendapatkan penolakan dari Divya, membuat Dafa menadi geram. Niat awalnya, kalau Divya mau menerima dirinya, Dafa tidak akan melakukan cara lainnya. Tapi sekarang, sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain nekat.


"Aaa ..." teriak Divya saat Dafa dengan cepat bergerak dan menarik kakinya.

__ADS_1


Grep!


Dafa yang sudah menguasai Divya, dan mendapatkan pukulan terus menerus, membuat Dafa mencengkram kedua tangan Divya.


"Bagaimanapun caranya, aku ingin memiliki kamu, Di!"


"Tolooonggg ..."


Sebisa mungkin Divya untuk memberontak. Ia bergerak sebisanya disaat Dafa mulai menikmati leher Divya. Kedua mata Divya sudah berlinangan buliran bening.


"Aaaggghhh ..." pekik Dafa saat dirinya membungkam mulut Divya tapu Dafa justru mendapatkan gigitan kuat hingga bibirnya berdarah.


Bug!


Melihat Dafa yang sedang lengah, membuat Divya meraih lampu tidur secara kasar lalu Divya hantamkan ke kepala Dafa. Setelah itu, kaki Divya bergerak cepat menendang Dafa hingga lelaki itu menyingkir dari atas tubuh Divya karena merasa kesakitan.


Klek! Klek!


Sudah beruang kali Divya menurunkan gagang pintu, tapi nyatanya pintu tersebut di kunci dan entah ada dimana kuncinya sekarang.


"Dikunci," gumam Divya. Tapi dirinya tidak boleh putus asa. Divya harus menemukan cara lain untuk menghindari Dafa.


Dafa tersenyum jahat. Ia memilih duduk santai di tepi ranjang sambil melihat Divya yang sibuk sendiri.


"Mau kamu turunkan berulang kali juga, kamu tidak akan bisa keluar dari kamar ini, Di."


"Dafa, ayo kita bicara baik-baik. Tolong jangan seperti ini," ucap Divya yang berusaha untuk berpikir baik agar dirinya bisa selamat dari niat jahat Dafa.


"Bagaimana? Jadi kamu mau menerimaku?" tanya Dafa sambil beranjak dan mendekati Divya.

__ADS_1


"Stop! Tolong jangan mendekat," pekik Divya. "Aku tidak bisa menerima kamu karena aku tidak memiliki perasaan apapun sama kamu, Dafa. Aku hanya anggap kamu teman karena kita memang saling nyambung saat bicara. Tolong mengerti!"


"Aku tidak mau menjadi temanmu, Di. Karena tujuanku saat ini adalah memiliki kamu agar setelah ini kamu tidak memiliki pilihan lain, selain aku," ucap Dafa sambil menarik paksa tangan Divya.


"Aaa ..."


Divya berteriak, berusaha memberontak untuk menyelematkan diri. Sebisa mungkin dirinya bergerak agar Dafa tidak dengan mudah menikmati tubuhnya. Apapun akan Divya lakukan agar dirinya tidak sampai di sentuh terlalu jauh oleh lelaki yang memiliki niat buruk. Divya meraih apapun yang bisa ia raih. Disaat pakaiannya sudah sedikit sobek karena perbuatan kasar Dafa.


"Aaaggghhh ..." Dafa kembali menjerit saat untuk kedua kalinya Divya memukul kepala Dafa menggunakan lampu tidur yang ada di sisi yang lain.


Divya segera beranjak cepat. Ia lari menuju balkon. Jalan satu-satunya adalah melopat. Tapi apa Divya akan baik-baik saja.


"Mau kemana kamu?" tanya Dafa sambil menahan kaki sebelah Divya yang belum melangkahi pagar balkon.


"Lepaaasss," terika Divya sambil berusaha menendang Dafa. .


Bug!


Dengan gerakan cepat, Divya menendang dada Dafa. Dafa yang kesakitan membuatnya spontan saja menyempar kaki Divya yang sudah menyakitinya, secara kasar.


"Aaa ..."


Breg!


Sakit sudah seluruh tubuh Divya. Karena terkejut dan hilang kendali, membuat tangannya yang lengah justru membuatnya terjatuh.


Mungkin Divya tidak akan apa-apa, kalau saja tubuh Divya tidak mendarat pada kursi dan kepalanya yang membentur meja.


"Sakit," rintih Divya. Pandanganya sudah mulai kabur saat melihat langit siang hari ini. "Tolong jangan ambil aku seperti ini. Aku belum bertemu adikku."

__ADS_1


__ADS_2