
Beberapa bulan yang lalu, sebelum Safir dan Divya menikah. Queen kembali tidak sengaja bertemu dengan Samsul. Itu juga di saat Samsul sedang berbicara dengan para pekerjanya. Di saat itulah Queen jadi mengetahui kebenaran kalau ternyata Samsul yang memiliki lahan yang ia incar selama ini.
Di saat itu pula, Samsul memberitahu Queen kalau beberapa bulan lagi, Samsul hendak menjual tanahnya tersebut. Sesuai dengan janji yang sudah Samsul buat, maka orang pertama yang Samsul beritahu adalah Queen.
Merasa kalau Queen sangat berperan penting dalam hidup Samsul. Membuat lelaki tersebut mempercayakan tanahnya itu. Sekalipun yang memiliki kelak bukannya Queen, setidaknya semuanya bisa di selesaikan melalui Queen. Itulah harapan Samsul.
Dan kini, Safir hanya bisa pasrah saat Samsul meninggalkan dirinya dan Yusman. Entah perjanjian macam apa yang telah Queen buat dengan Samsul sehingga Samsul maunya bertransaksi dengan Queen saja.
Sedangkan kini Samsul terlihat bingung. Mengingat kalau Queen dan Safir terlihat begitu solit saat bekerja. Lalu apa yang membuat Queen berhenti dari pekerjaan tersebut.
Samsul ingat betul dengan reaksi wajah Queen saat mengetahui kalau dirinya akan menjual tanahnya ini. Terlihat air muka yang begitu sangat senang setelah menunggu hampir dua tahun ini.
"Kalau seperti ini, saya jadi tidak tega kalau mau menjual tanah dengan orang lain, Nduk. Saya akan tunggu kamu. Beberapa tahun lagi, saya yakin kalau kamu kembali dan bersedia membeli tanah ini," gumam Samsul begitu memasuki mobilnya.
__ADS_1
Safir hanya menatap pasrah saat melihat mobil Samsul yang kini sudah berlalu. Mau di paksa juga tidak mungkin. Karena Samsul maunya transaksi dengan Queen. Bagaimana mungkin, kalau sekarang saja Queen sudah pergi ke Australia.
"Bagaimana ini Mas?"
Safir mengusap kepalanya secara kasar. Terlihat sekali kalau lelaki tersebut begitu frustasi. "Enggak tahu Pak," jawab Safir pasrah.
"Apa perlu saya temui beliau untuk melakukan negosiasi? Siapa yang tahu kalau saya mengajak beliau untuk bicara baik-baik, maka Pak Samsul akan menyerahkan tanahnya pada kita," saran Yusman.
"Saya bawa motor, Mas."
"Lanjutkan pekerjaan Bapak lagi. Saya mau pulang dulu."
"Baik Mas. Maaf loh Mas, seharusnya saat ini Mas sedang bersama dengan istri tapi Mas harus datang ke sini dan sekarang hasilnya zonk," ucap Yusman tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Dulu kami sudah menunggu sekali Pak Samsul menghubungi kami. Mungkin belum rezeki saja."
Yusman mengangguk pelan. "Mas, Benar. Tapi saya yakin kalau tanah tersebut nantinya akan menjadi milik Mas Safir," tuturnya yakin. "Kalau begitu saya pergi duluan ya Mas."
Begitu Yusman sudah melaju dengan kendaraan roda duanya. Safir segera memasuki mobil. Baru saja Safir akan menghidupkan mesin mobil, tapi niatnya itu urung saat ia menoleh ke samping. Melihat jok samping kemudi yang biasanya menjadi tempat duduk Queen.
Kini Safir memilih berpindah ke jok samping. Belum ada 24 jam Queen pergi dari Indonesia, tapi perasaan Safir sudah semakin tidak menentu. Entahlah, bagaimana Safir mengartikan hatinya yang kini kalut di balut rindu karena rasa bersalah. Dan rasa bersalah itu ada untuk dua perempuan sekaligus. Tapi yang kini mendominasi pikiran Safir adalah Queen.
Safir membuka tempat penyimpanan yang ada di antara jok kemudi dan sampingnya. Melihat isinya, Safir hanya bisa tersenyum tapi hatinya semakin perih. Ia melihat satu persatu benda yang ada di sana. Ada sisir berwarna pink kesukaan Queen, Sunscreen, eyeliner, liptin, maskara, parfum, bahkan hal yang paling Safir tidak suka adalah sunscreen sepray. Salah satu alat tempur wajah yang selalu saja Queen semprotkan pada wajah Safir.
Mengingat semuanya hanya akan membuat dada Safir semakin terasa sesak. Mobil ini sudah seperti mobil Queen sendiri. Banyak kenangan dari usaha mereka. Safir langsung menutup tempat penyimpanan barang pribadi Queen tersebut. Setelah itu, Safir mendaratkan keningnya di sana.
"Aku harus apa sekarang?" gumamnya dengan suara yang bergetar karena ia menahan air matanya yang akan luruh. Ingin rasanya Safir tertawa untuk mengejek dirinya sendiri. Mengingat nasib hati yang kacau seperti ini
__ADS_1