Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 126 Salam Sayang


__ADS_3

"Hai anak-anak Mama sama Papa yang baik," sapa Ruby saat baru saja melakukan panggilan video bersama dengan ketiga anaknya, melalui ponsel Nissa.


"Mama, Papa," ucap ketiganya secara kompak. Bocah tiga balita disana duduk bersila dan saling berdampingan serta fokus pada layar ponsel.


"Mama, pulang," ucap Shanum, dengan suaranya yang tidak begitu jelas.


"Shanum, Shaka, dan Shaki, malam ini Mama sama Papa tidak bisa pulang tidak apa-apa ya? Anak Mama yang baik nanti tidur sama Oma dan Opa dulu," ucap Ruby berusaha memberikan pegertian.


"Shaka mau Papa."


"Shaki mau sama Opa."


Ruby dan Zen tersenyum. Sekalipun ketiganya bucin sekali dengan Nissa dan Yusuf. Jika untuk urusan tidur, ketiganya memang terbiasa di temani Ruby dan Zen.


"Iya, Shaki nanti sama Opa ya? Shaka, Shanum. Hanya malam ini saja Mama dan Papa tidak pulang. Jadi nanti tidur dengan Oma dan Opa ya?" rayu Ruby sekali lagi.


"Kalau nanti Papa libur kerja, kita main di playground, bagaimana?" tawar Zen yang mulai membuat janji.


"Mauuu ..." ucap ketiga balita itu begitu serentak dan semangat.


"Shaka mau tidur sama Om Vian, boleh Pa?"


"Boleh, nak. Kalau Om Vian tidak sibuk, Shaka bilang dengan Om ya," ucap Zen memberikan izin.


"Shanum," panggil Zen pada anak perempuan satu-satunya.


"Promise, Papa," tuntutnya. Gadis kecil tersebut sepertinya selalu mengingat kalau Zen suka mengulur waktu setiap kali mengajak mereka pergi bersama. Kesibukan Zen memang tidak terduga.


"Promise, Princess. Jadi Shanum mau tidur dengan siapa?"


"Dengan Oma."


"Baiklah. Terima kasih sudah mengizinkan Mama dan Papa tidak pulang malam ini. Dan anak-anak sudah menjadi anak yang baik," ucap Zen bangga pada ketiga anaknya tersebut.


"Nda, maaf ya karena kami tidak pulang malam ini. Dadakan juga rencananya," ucap Ruby karena layar ponsel sudah berpindah pada Nissa.

__ADS_1


Jujur, Ruby malu sebenarnya saat izin seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi.


"Enggak apa-apa. Kalian juga sekarang sudah jarang keluar berduaan. Beda lagi dengan Nda dan Ayah yang masih sering kemana-mana berdua," ucap Nissa memahami kedua anaknya tersebut.


Ruby dan Zen sengaja berbohong dan mengatakan kalau mereka ingin Quality time berduaan saja. Mana mungkin mereka berkata jujur terkain Queen. Akan membuat Yusuf dan Nissa menjadi bingung dan juga khawatir.


"Ya sudah, nikmati waktu kalian. Dan Zen jangan lupa tepati janji," tuntut Nissa memperingati anaknya yang kelewatan sibuk menguru banyak pekerjaan.


"Siap, Nda."


Ruby dan Zen yang sejak tadi berdiri didepan televisi hanya bisa menghela nafas pelan dan juga lega. Sekalipun mereka berdua kepikiran anak-anak, tapi ini adalah pilihan yang tepat.


"Sayang tunggu disini ya. Aku keluar sebentar cari makan untuk kita dan makanan lainnya. Sayang ingin apa?"


"Makannya terserah Mas sajalah. Yang penting belikan aku buah. Pengen yang segar-segar."


"Siap, Bu Bos. Aku keluar dulu."


Setelah Zen keluar dari ruang rawat, Ruby mendekati Queen yang sejak tadi belum ada tanda apapun. Sungguh, Ruby sangat bersyukur karena hal buruk itu tidak terjadi dengan Queen. Membayangkan kejadian yang seperti itu saja membuat Ruby merinding sendiri. Sekarang harapan Ruby, Queen segera sadar dan tidak mengalami trauma. Biar tidak terjadi hal mengerikan, tapi itu sudah pasti membuat Queen syok.


"Tolong ... Tolong ..."


"Queen," Ruby yang khawatir, menepuk tangan Queen.


"Tolong lepasin aku Aris. Tolooonggg ..." Teriak Queen kuat dan langsung bangun.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga."


"Mai," setelah melihat Ruby, Queen langsung menunduk dan memeriksa dirinya. "Aku di apain sama Aris, Mai. Aku enggak kuat untuk tetap terjaga dan lawan dia. Aku belum bisa suruh Aris keluar tapi aku sudah tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap," tutur Queen dengan suaranya yang bergetar. Queen takut kalau dirinya ternyata sudah disentuh terlalu jauh oleh Aris.


"Queen," Ruby langsung memeluk Queen dan menepuk pungung Queen pelan agar bisa merasa lebih tenang. "Lelaki itu enggak melakukan apapun sama kamu."


"Benarkah?"


"Iya. Dokter sendiri yang memberikan keterangan ke aku dan Mas Zen. Beruntung yang menolongmu cepat datang, Alhamdulillah."

__ADS_1


"Apa orang itu Safir?" tanya Queen setelah melerai pelukan mereka. Queen menunduk karena tidak mau membalas tatapan Ruby sekarang ini. "Mungkin aku hanya mimpi," ucap Queen pelan. Ia merasa kalau sebelum dirinya benar-benar hilang kesadaran, Samar-samar Queen mendengar suara Safir. "Aku tidak bermaksud apapun kok, Mai."


"Yang menolong kamu petugas kebersihan. Bersama dengan scurity."


Klek!


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah sadar," ucap Zen senang. Ia langsung meletakkan beberapa belanjaannya dan segera memeluk Queen. "Bagaimana sekarang?"


"Queen baik, Om. Terima kasih karena Om dan Tanteku ini sudah menjagga Queen dan meninggalkan bocil tiga di rumah."


"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu aman dan juga sehat."


Ruby membiarkan Zen dan Queen saling berinteraksi. Dirinya memilih memanggil petugas kesehatan yang bertugas melalui intercom.


*


Pagi ini, Safir dan Divya sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Safir sendiri sejak tadi memilih menyibukkan diri untuk mengabaikan ponselnya. Rasanya Safir sejak tadi ingin menghubungi Ruby untuk menanyakan perihal Queen, tapi Safir tahan untuk mengabaikan rasa khawatirnya. Zen dan Ruby sudah pasti menjaga Queen dengan baik. Semalam saja Ruby hanya memberitahukan hasil rontgennya.


Tiga koper sudah masuk kedalam bagasi mobil. Setelah selesai sarapan, Safir, Divya, dan juga Vian berpamitan dengan semua keluarga.


Berat bagi Vian untuk pergi dari rumah ini. Tapi dirinya juga tidak bisa berjauhan terus dengan kedua orang tuanya. 3 tahun tidak memberikan kabar pada kedua orang tua, membuat Vian jadi merasa bersalah.


"Kamu kenapa sejak tadi kok diam saja?" tanya Divya karena Safir sejak tadi terlihat melamun dan melihat keluar mobil.


"Tidak apa-apa."


'Aku pulang ke Malang, Queen. Aku doakan agar kamu selalu dalam keadaan baik dan akan selalui hidup dalam kebahagiaan. Dijauhkan dari segala marabahaya yang mengerikan. Aku minta maaf atas segala kesalahanku. Kata permintaan yang tidak bisa aku ungkapkan padamu sampai kapanpun, walau sebenarnya aku ingin. Dipertemuan selanjutnya, aku sangat berharap aku bisa berdamai dengan takdirku dan juga hatiku. Aku salah dan aku harus bertanggung jawab atas pilihanku. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Divya. Aku jadi merasa berdosa karena tindakanku sendiri. Secara perlahan, aku yakin kalau aku bisa. Bismillah.'


"Halo Queen," ucap Vian setelah Queen menerima panggilan suara darinya.


Deg!


Safir memejamkan kedua matanya, walau sebenarnya dirinya ingin menoleh dan menatap Vian yang kini saling berbicara dengan Queen. Yang terpenting sekarang, hati Safir sudah lega karena itu artinya Queen sudah sadarkan diri.


"Iya, Kak."

__ADS_1


"Kakak, Kak Di, dan Safir pagi ini kami pulang ke Malang. Maaf ya, kami tidak bisa menunggu kamu pulang dari luar kota."


"Iya, Tidak apa-apa Kak. Hati-hati di jalan ya. Queen doakan yang terbaik untuk ketiga Kakak Queen. Salam sayang Queen buat Kak Di."


__ADS_2