Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 117 Kecurigaan Divya


__ADS_3

Kedua mata Divya harus terjaga karena merasa ingin buang air kecil. Rasanya sungguh malas, tapi mau bagaimana lagi kalau rasanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Karena ruang kamar yang sudah berubah menggunakan lampu temaram, membuat Divya menghidupkan lampu utama terlebih dahulu.


"Dimana Safir?" gumam Divya karena tidak mendapati raga suaminya.


Hajat Divya sudah tidak bisa ditahan lagi, membuat Divya segera memasuki kamar mandi lebih dulu. Setelah keluar dari sana, Divya berniat menuju balkon kamar. Mungkin saja Safir ada disana. Tapi Divya urung melakukan apa yang baru saja akan ia lakukan karena pintu balkon terkunci dari dalam.


Divya segera meraih baju tidur serba panjang untuk keluar dari kamar. Tujuannya saat ini adalah mencari keberadaan Safir.


Sedangkan Safir dan Queen. Baru saja Safir akan meminta Queen untuk menuju lift seorang diri, kini Safir bergerak cepat untuk menarik Queen guna bersembunyi, karena Safir melihat Divya disaat pintu lift baru saja terbuka.


Dalam keadaan genting seperti ini, bisa-bisanya degup jantung Safir bekerja lebih cepat karena kini Queen berada dalam dekapannya. Sekalipun posisinya seolah Safir hendak mengancam Queen.


"Kita keatas melewati tangga. Ada Divya," bisik Safir dan membuat Queen menurut.


Safir tahu, kalaupun Divya mengetahui kalau dirinya dan Queen baru dari ruang makan secara bersamaan karena tidak sengaja juga pasti akan Divya maklumi. Karena Safir pikir, Divya tidak tahu kalau perempuan yang Safir sukai sebenarnya adalah Queen. Tapi Safir pikir, ini adalah tindakan yang tepat.


Sedangkan Queen, karena terkejut dan juga bingung, dirinya asal ikut saja dengan apa yang diucapkan Safir. Karena sejak dulu hingga sekarang, apa yang dikatakan Safir pasti ada baiknya untuk dirinya.


Karena Queen sudah mematuhi apa yang dibisikkan Safir, lelaki tersebut melepaskan bekapan tangannya pada mulut Queen dan melepaskan lilitan tangannnya yang melingkar di perut Queen. Baru saja satu tangga yang mereka lewati, tapi kini keduaya di buat terkejut karena mereka justru berpapasan dengan Ruby.

__ADS_1


"Kal ..."


Baru saja Ruby akan mengajukan pertanyaan karena terkejut melihat Safir memeluk Queen, tapi dengan cepat Safir menempelkan jari telunjuk pada bibirnya. Memberikan isyarat pada Ruby agar tidak mengeluarkan suara. Dengan cepat Safir menggenggam tangan Queen. Mereka lari menaiki anak tangga sepelan dan secepat mungkin, agar tidak mengeluarkan suara guna mendekati Ruby.


Sedangkan Ruby yang baru saja selesai melakukan sholat malam, berniat turun karena ingin membuat minuman hangat untuk dirinya dan Zen. Zen sendiri tidak ikut turun karena sedang mengurus Shanum yang terbangun dan maunya di temani Zen agar kembali tidur.


Ruby sendiri memilih turun melalui tangga karena ingin sekalian olahraga. Tapi siapa yang menduga kalau Ruby justru dibuat terkejut karena keberadaan adik dan sahabatnya itu.


"Ada Divya, Kak," ucap Safir berbisik. Wajahnya bahkan terlihat panik karena takut ketahuan Divya.


"Safirrr ..." panggil Divya pelan sambil berlarian kecil. Perasaan Divya jadi tidak enak karena untuk sekilas Divya melihat keberadaan Safir saat pintu lift terbuka. Tapi Safir seperti sedang melarikan diri darinya. Pikiran Divya jadi bercabang karena mengira kalau Safir bersama dengan Queen.


"Cepat pergi ke kamarmu melalui tangga," peritah Ruby pelan dan Queen pun menurut.


"Safir," panggil Divya.


"Eh, Di. Kamu bangun?" tanya Safir. Mati-matian Safir menahan rasa gugupnya karena degup jantungnya belum bekerja dengan normal.


"Kamu dengan Ruby?" tanyanya pelan. Tapi hati Divya tidak percaya karena pikirannya tadi Safir seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Iya. Memangnya dengan siapa lagi?" tanya Safir tenang.


"Kak Di terbangun pasti gara-gara Safir tidak ada di kamar ya?" tanya Ruby tenang, menyimpan kegundahan hatinya. Rasanya baru kali ini Ruby mengelabuhi seseorang. Merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi karena ini yang terbaik untuk adik dan sahabatnya.


Divya mengangguk tapi hatinya belum percaya. Pikiran Divya masih menduga kalau tadi Safir bersama dengan Queen.


"Mau kemana?" tanya Safir sambil menahan tangan Divya yang sepertinya akan menuju lift lagi.


"Tunggu disini ya. Temani aku makan. Perutku sangat lapar, tapi aku mau ambil ponselku dulu."


"Biat aku yang ambilkan ya?" tawar Safir karena masih takut kalau Queen belum sampai kamar.


Dengan paksa Divya melepaskan genggaman tangan Safir. "Kamu tunggu disini, biar aku ambil sendiri saja. Hanya sebentar kok," ucap Divya kemudian menuju lift.


Safir hanya bisa pasrah. Ia menghela nafasnya dengan rasa frustasi. berharap Queen sudah sampai kamar dan sudah kembali tertidur, sekalipun itu hanya pura-pura.


"Kakak ..."


Ucapan Safir terhenti saat melihat sorot mata Ruby yang menahan marah dan juga kecewa.

__ADS_1


"Apa yang baru saja terjadi, Fir?"


__ADS_2