
"Assalamualaikum," salam Ruby yang baru saja memasuki ruang kerja Zen. Mama muda tersebut langsung mendekati Zen yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Waalaikum salam," jawab Zen. Ia tersenyum senang setiap kali sang istri menyusulnya ke kantor. Zen yang sejak tadi fokus dengan pekerjaan, kini lelaki beranak 3 tersebut memilih mengabaikan semuanya dan fokus pada sang istri tercinta. Karena kalau Ruby sudah datang ke kantor, artinya mereka harus quality time. Jarang-jarang memiliki waktu seperti ini, di sela-sela kesibukan mereka masing-masing.
"Aku lelah sekali Mas," adunya dengan suara yang begitu manja. Ruby meletakan tas selempang dan dan juga tas jinjing di atas meja kerja Zen. Seperti biasanya, Ruby langsung duduk di pangkuan Zen.
"Kenapa? Banyak revisi skripsi? Nanti malam ya aku bantuin. Tapi jangan lupa, pijati aku dulu," ucap Zen sambil menarik gemas hidung Ruby.
"Skripsi aman. Aku capek enggak beralasan."
"Kalau begitu, aku buat semakin capek saja bagaimana?"
"Maaasss," pekik Ruby karena Zen langsung menggendongnya secara tiba-tiba.
Baru saja kaki Zen hendak melangkah, mereka berdua mendengar suara getar ponsel Ruby. Zen yang baru saja akan meraih bibir Ruby untuk menuju ruang kamar yang ada disana, segera Zen dudukkan Ruby di tepi meja kerjanya.
"Angkat dulu."
Ruby memang tidak banyak berinteraksi dengan orang luar melalui ponsel, maka jika ponsel Ruby berdering seperti ini, kemungkinan besar yang menghubungi Ruby adalah keluarga.
"Safir," gumam Ruby. Tanpa pikir panjang lagi, Ruby segera menerima panggilan suara dari seberang sana. "Iya, Fir."
"Halo, Kak. Tolong Kakak datang ke rumah sakit ya?"
"Loh, kamu kenapa Fir?" mendengar kata rumah sakit, membuat Ruby takut kalau terjadi sesuat hal pada saudara kembarnya tersebut.
"Aku ceritakan semuanya saat Kak By sudah datang kesini. Aku bawa Queen ke rumah sakit."
Deg!
__ADS_1
Ruby pikir Safir yang sedang butuh pertolongan, siapa yang menduga kalau ternyata Queen yang sedang bersembunyi yang Safir bawa ke rumah sakit. Sungguh, Ruby tidak habis pikir dengan nasib adik dan sahabatnya tersebut. Niat hati Queen bersembunyi hanya untuk sementara waktu. Setidaknya sampai Safir dan Divya kembali ke Malang. Tapi sekarang, Queen dan Safir justru bertemu lagi. Entah takdir apa sebenarnya yang terjadi diantara keduanya.
Sedangkan di rumah sakit. Karena Safir harus menunggu Queen sampai sadarkan diri dan entah itu sampai kapan, membuat Safir memutuskan untuk memindahkan Queen dari UGD ke ruang perawatan.
Sejak tadi Safir hanya terus duduk di kursi, di dekat bangsal Queen. Ia hanya memandangi wajah Queen yang sedikit memucat. Sungguh, Safir merasa bersalah dalam keadaan ini. Semuanya terjadi karena Queen yang sedang menghindari dirinya.
Tidak sampai satu jam Safir menunggu Queen di dalam ruangan tersebut. Safir memih menghubungi Ruby yang sudah pasti tahu tentang semua ini.
Walau Safir ingin tetap di sini sampai Queen sadarkan diri. Tapi itu tidak mungkin. Dirinya harus kembali pada Divya. Selain itu, memang lebih baik kalau Queen tidak tahu bahwa dirinya yang membawa Queen ke rumah sakit.
Hampir satu jam setelah Safir menghubungi Ruby, kini Zen dan Ruby sudah datang. Keduanya terkejut karena melihat keadaan Queen yang tergeletak tidak sadarkan diri dan Safir yang terlihat memar di beberapa titik wajah Safir.
"Ada apa Fir? Kenapa bisa seperti ini?"
"Itu Kak, Mas. Tadi ..."
Safir menceritakan dari awal kejadian dirinya melihat Queen yang jalan sempoyongan dan saat Safir harus bertengkar dengan Aris. Safir juga sudah mempercayakan masalah Aris pada scurity. Untuk selanjutnya, Safir berharap Zen yang mengurus semaunya.
"Tadi sebelum Aris di bawa scurity, Aris bilang belum menyentuh Queen, Kak. Dokter juga mengatakan kalau tidak ada tanda-tanda kekerasan di bagian tubuh Queen lainnya. Yang ada hanya bekas bekapan. Aku hanya takut, kalau Queen trauma Kak."
"Karena semuanya sudah tidak ada masalah, ya sudah. Kita hadapi semuanya dengan perasaan tenang. Jangan grusah grusuh. Aku yakin, Queen akan baik-baik saja. Terima kasih sudah menolong Queen, Fir."
Sebagai lelaki, Zen tahu dan bisa melihat dengan jelas betapa khawatirnya Safir saat ini. Sekalipun Zen sudah mengetahui perihal Safir dan juga Queen. Zen tidak mau ikut capur dan tetap memilih diam. Berharap Safir bisa tahu batasan dan menahan diri,. Begitu juga dengan Queen yang sebenarnya sudah berusaha menjauhi Safir. Takdir memang tidak ada yang pernah tahu.
"Agh," ringis Safir saat punggungnya di tepuk Zen.
"Kenapa Fir?" Zen jadi terkejut dan juga khawatir kalau terjadi sesuatu.
"Sakit, Mas. Tadi punggungku di pukul pakai kursi sama Aris."
__ADS_1
"Apa!" Ruby yang baru saja mendekati Queen, kini jadi mendekati Safir lagi.
"Kakak," Safir terkejut karena Ruby dengan cepat menaikkan kemeja yang Safir gunakan. Safir tahu, kalau saat ini Ruby pasti sangat khawatir.
"Ya Allah, Fir. Sampai biru begini. Kamu sdah periksa dokter?" tanya Ruby dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Ruby takut terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya.
Safir hanya menggelengkan kepalanya. Sejak tadi dirinya memang mengabaikan rasa sakit pada punggungnya. Yang Safir pikir, kapan Queen akan sadarkan diri. Dan apakah Queen akan baik-baik saja.
"Ayo kita periksa sekarang. Sampai biru seperti ini loh," Ruby yang kelewat khawatir, membuat buliran bening pun jatuh dari sudut matanya.
"Aku enggak apa-apa Kak. Nanti aku minum obat anti nyeri juga pasti akan sembuh."
"Enggak. Aris sudah pukul kamu menggunakan kursi. Pasti sakit sekali, Fir. Bagaimana kalau ada luka dalam? Mumpung kita masih di rumah sakit, jadi kita periksa sekarang, Ayo."
"Yang di bilang Kakakmu itu ada benarnya, Fir."
Tanpa pikir panjang lagi, karena Ruby tidak ingin terjadi hal buruk dan menjadi fatal karena menyepelekan, kini Ruby membawa Safir untuk periksa. Sedangkan Zen yang bertugas menunggu Queen.
"Kak, besok saja aku ke rumah sakit untuk rontgen. Aku tadi enggak bilang ke Divya kalau aku meninggalkan ruangan pertemuannya dengan klien."
"Kamu hubungi Kak Di dulu kalau kamu ada keperluan sama aku atau sama Mas. Terus jangan lupa hubungi sopir agar menjemput Kak Di."
Safir merogoh ponselnya. Entah sudah berapa jam dirinya meninggakan hotel. Apalagi sekarang waktu sudah berubah gelap.
'Mungkin pekerjaannya belum selesai,' gumam Safir karena tidak ada pesan singkat yang ia terima dari Divya. Artinya sejak tadi Divya belum mencari keberadaannya. Dengan cepat Safir mengirimkan pesan singkat pada Divya. Seperti yang di katakan Ruby, Safir juga meminta sopir untuk menjemput Divya.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Ruby. Kini keduanya sudah ada di dalam ruang pemeriksaan.
"Pemeriksaan vitalnya normal, kecuali tekanan darahnya. Apa Mas Safir ini punya riwayat tekanan darah tinggi?"
__ADS_1
"Tidak dokter."
"Kemungkinan tensinya naik karena Mas safir juga mengeluh pusing dan masih syok dengan keadaan yang sudah terjadi. Memarnya nanti bisa di kompres saat di rumah ya. Ini saya resepi beberapa obat agar nyerinya berkurang. Tapi sekarang saya sarankan untuk melakukan pemeriksaan rontgen. Jangan khawatir, ini untuk mendeteksi dini apakah ada keretak tulang atau luka dalam akibat dari pukulan yang Mas Safir terima."