Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 174 BAB SESAD YANG DITUNGGU READERS SOLEHOD


__ADS_3

Siapa yang tahu, Safir bisa modus seperti sekarang ini. Karena kini, kedua mata Queen melebar saat Safir mencecap bi*birnya. Tapi Queen menerima dengan senang hati. Pagutan yang mereka lakukan terasa sangat hangat, nyaman dan sangat mendebarkan hati keduanya.


Rasanya mereka tidak ingin saling lepaskan tautan benda kenyal mereka. Padahal cara mereka saling menyesap masih cukup kaku. Apalagi Queen, karena ini adalah ciuman pertamanya.


Nafas mereka memburu, mata keduanya sudah berkabut penuh rasa mau. Keduanya hanya saling memandang setelah saling melepaskan.


Safir membelai wajah Queen. Membawa beberapa helai anak rambut kebelakang telinga Queen.


Safir beralih mengusap bi*bir Queen yang selalu melambai Safir agar segera datang lagi. Warnanya begitu menggoda karena terlihat lebih memerah. Sedangkan Queen melingkarkan tangannya pada leher Safir.


Safir kembali menyatukan bi*bir mereka. Mencecap penuh rasa mau, menyesap atas dan bawah bi*bir Queen bergantian.


Tangan Safir mulai beraksi kemanapun yang ia mau. Pada akhirnya Safir bisa menyentuh tubuh Queen sesuka hati. Hal yang selalu Safir tahan sejak mereka menikah. Sentuhan yang membuat seluruh tubuh Queen semakin meremang.


Safir melepas pagutan mereka. Ia membuka kaosnya dan dilempar asal.


Pemandangan indah tersebut membuat Queen tidak mampu berkedip. Sungguh, tubuh Safir begitu sangat indah melebihi ekspektasinya sendiri.


Safir juga langsung membuka satu persatu kancing baju tidur Queen. Menyisakan pakaian dalam yang mengamankan buah yang diinginkan Safir.


Safir mulai merebahkan tubuh Queen di sofa. Keduanya kembali saling berperang bibir lagi. Setelah puas, kecupan Safir turun mengabsen leher Queen. Membuat Queen mengeluarkan suara khas yang tidak bisa Queen tahan lagi.


"Kita harus pindah kekamar sayang," ucap Safir yang langsung menggendong Queen.


Deg!

__ADS_1


Hati Queen bergetar karena panggilan Safir. Tapi kini Queen langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Safir.


"Mau di kamar mana?"


"Terserah Mas saja."


"Kamu yang putuskan, Sayang."


"Kamarku saja, Mas. Lebih luas."


Safir langsung menaiki anak tangga.Tangan Queen langsung membuka pintu kamar. Setelah itu Safir merebahkan Queen diatas kasur empuk.


Queen hanya bisa pasrah saat Safir melepaskan seluruh pakaian bawahnya. Setelah itu, Queen menyembunyikan seluruh tubuhnya dibawah selimut. Karena sekarang, Safir juga sedang melepas kain terakhirnya.


Safir tersenyum, tapi sekarang hatinya sedang berusaha yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Setelah itu, Safir segera ikut masuk kedalam selimut.


Mereka kembali menyatukan bi*bir. Saling mencecap lagi, hingga membuat Queen merintih tertahan karena tangan Safir yang menyentuh kemana-mana.


Desah nafas Queen terlontar dan memburu, karena sekarang Safir berpindah menyesapi leher Queen.


Seolah semakin tertantang pekerjaan Safir semakin turun dan langsung melahap buah kenyal dengan sangat rakus dan bergantian. Sehingga Queen hanya bisa merintih. Membuat semangat Safir semakin berkobar.


"Maaasss ..."


Rintihan Queen semakin tidak terkendali saat tangan Safir menyentuh inti tubuhnya

__ADS_1


Sudah dirasa cukup, Safir membawa Queen kepermainan inti. Berusaha menerobos Queen dan Safir hanya memusatkan pikirannya pada Queen saja.


"Sakit Mas," keluh Queen dengan linangan air mata.


"Kita berhenti saja," ucap Safir yang tidak tega.


"Lanjut, Mas. Aku akan tahan sebentar."


"Yakin?"


"Heem."


Karena Queen meyakinkan Safir untuk melanjutkan permainan, akhirnya Safir kembali beraksi.


Sangat sulit, itulah yang dipikir Safir selama terus menerobos pertahanan Queen. Sampai pada akhirnya, Safir melenguh karena sudah berhasil bersatu dengan Queen.


Safir mulai bergerak, perlahan namun pasti. memberikan kenyamanan untuk mereka berdua.


Kamar yang biasanya sunyi senyap, kini telah ramai dengan suara khas pasangan yang tengah memadu kasih.


Queen hanya bisa pasrah dengan hati yang lega karena bisa merasakan ini semua. Menerima perbuatan Safir yang terus bergerak bebas.


Safir seolah kalap dengan rasa yang begitu menyenangkan raga. Pikiranya hanya fokus pada Queen sampai puncak telah berhasil mereka raih.


"Agh," Queen terkejut karena Safir menimpa tubuhnya. Setelah itu Queen memeluk Safir. Mengusap punggung Safir yang sudah di penuhi oleh keringat.

__ADS_1


'Apa begini sudah di vonis memiliki permasalahan ranjang?' gumam Queen yang cukup kewalahan.


__ADS_2