
Tadi saat akan menuju restoran, Queen sudah mengatakan pada Fahmi kalau dirinya akan makan. Tanpa rasa malu, Queen berkata jujur saja karena memang Queen sudah sangat lapar. Tapi apa yang bisa di buat oleh Queen sekarang. Karena setelah perlakuan dari Safir barusan, membuat pikiran Queen penuh tanda tanya. Queen ingin abaikan. Tapi nyatanya tidak bisa.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu lapar ya? Kenapa kamu makannya seperti ogah-ogahan begitu?" tanya Fahmi yang jadi heran sendiri.
"Eh, itu Kak. Sepertinya aku enggak selera makan lagi," ucap Queen dan memberikan senyuman kecil pada Fahmi.
Melihat interaksi keduanya, membuat Divya jadi panas sendiri. Entah kenapa. Sebenci apapun dengan masa lalu yang berkaitan dengan Fahmi, Divya tetap saja menaruh sedikit hati pada lelaki tersebut. Membuat Divya kini di sulut api yang mulai berkobar. Mungkinkah cinta pertama membuat orang jadi seperti itu.
Bukan hanya Divya saja yang kepanasan sendiri. Tapi Safir juga merasakan dongkol pada hatinya karena Queen tersenyum pada lelaki lain. Sadar diri kalau dirinya tidak boleh seperti ini. Tapi Safir tidak bisa mengelak hati yang sudah mulai gosong dan mungkin akan berubah menjadi abu.
Sepertinya sepasang suami istri itu sangat kompak. Merasakan api cemburu yang sepatutnya tidak mereka rasakan. Membuat keduanya bingung untuk mengekspresikan diri yang seperti apa.
"Fir, kamu mau coba minumanku? Segar banget loh," tawar Divya agar Fahmi tidak menunjukkan perhatian lebih pada Queen.
"Minuman kita kan sama, Di," ucap Safir. Ia jadi bingung sendiri, padahal tadi Divya sendiri yang memesankan minuman untuk dirinya.
"Owh, benarkah?" wajah Divya menahan malu sekaligus panik. Niat hati ingin bermesaraan secara bebas dengan Safir, tapi justru berakhir seperti ini.
Fahmi menahan senyumnya. Bukan Fahmi sok kepedean. Tapi tidak bisa Fahmi pungkiri kalau kini Fahmi melihat sorot mata cemburu dari Divya.
'Apa dia masih menahan rasa bencinya padaku sampai sekarang ini?' gumam hati Fahmi.
"Habiskan makanmu, Queen. Jangan siksa perutmu jika memang kamu lapar."
"Iya Kak."
__ADS_1
"Oh iya. Kalian memang menetap di Jakarta atau hanya main saja disini?"
"Kami datang untuk mengurus pekerjaan dan homeymoon."
"Kenapa mencampur adukkan pekerjaan dengan waktu pribadi kalian. Maaf, bukannya mau ikut campur. Tapi ... Sorry ..." Ucapan Fahmi harus terhenti karena ponsel Fahmi berdering. Fahmi harus menerima panggilan suara tersebut karena ternyata itu adalah dari istrinya. "Sayang," panggil Fahmi setelah menerima panggilan suara sambil melambaikan tangan ke arah pintu masuk. Hal itu membuat semua orang menatap ke arah pandang Fahmi. Kecuali Safir tentunya.
"Sayang? Itu pacar kamu, Fahmi?" tanya Divya yang jadi keheranan sendiri. Dan juga semakin penasaran.
"Dia istriku," jawab Fahmi sambil tersenyum bangga karena akan memperkenalkan istrinya pada semua orang yang sedang bersamanya sejak tadi.
"Maaf sayang, aku baru datang. Sejak tadi bertemu jalanan macet terus," keluh perempuan yang baru saja mendekati Fahmi.
"Tidak masalah, sudah hal biasa jika di Jakarta macet. Teman kamu tidak ikut masuk?" tanya Fahmi karena sang istri hanya datang seorang diri.
'Apa dia hamil?' gumam hati Divya. Tangannya mencengkram erat, melihat hal ini semakin membuat Divya kalah telak. Istri Fahmi sudah hamil, tapi dirinya belum. Bagaimana mau hamil kalau penyatuan raganya dengan Safir saja belum terulang kembali.
Fahmi hanya mengangguk pelan. "Oh iya, kenalkan, ini teman lama yang tadi tidak sengaja aku temui," ucap Fahmi.
"Amanda."
Perempuan tersebut saling berjabat tangan dengan Divya. Berkenalan juga dengan Safir dan berjabat tangan dengan Queen.
"Queen?" tanya Amanda setelah Queen menyebutkan nama.
"Iya, benar," Queen jadi bingung karena Amanda tersenyum dan menatapnya penuh arti.
__ADS_1
Amanda menatap Fahmi. Keduanya nampak saling memberikan kode. Membuat Queen bingung. Sedangkan Divya jadi semakin jengah dengan keadaan ini. Dapat di pastikan, kalau Fahmi membicarakan tentang Queen sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
"Kamu sangat cantik Queen. Aku harap, kalau anakku ini perempuan, akan secantik dan semanis kamu," ucap Amanda sambil mengusap perutnya.
"Kakak terlalu berlebihan memuji aku. Tapi aku akan selalu doakan Kakak dan si bayi akan selalu sehat dan selamat sampai lahiran nanti."
"Aamiin."
Fahmi segera beranjak agar Amanda duduk di samping Queen. Setelah itu Fahmi mengambil kursi lain dan segera duduk.
"Senang ya bisa bertemu dengan kalian."
"Kami juga senang bisa bertemu dengan kalian. Btw, selamat ya atas kehamilan kamu Amanda. Semoga kamu dan bayi selalu sehat dan segera nular ke aku," ucap Divya sambil menggengam tangan kanan Safir yang ada di atas meja.
"Aamiin. Semoga kamu segera mendapatkan anak yang kalian tunggu ya Di, Safir."
Queen yang sejak tadi menyedot minumannya sedikit demi sedikit, langsung menghentikan kerja mulutnya. Untuk sesaat, Queen tersenyum samar di saat hatinya kembali terasa nyeri. Queen jadi membayangkan bagaimana reaksinya nanti jika sampai Divya melahirkan anaknya Safir. Dan anak tersebut adalah keponakannya sendiri.
Lima orang di sana saling berbincang. Tidak lama kemudian, Amanda memilih undur diri sebentar. Karena sedang hamil, Amanda jadi sering ingin buang air kecil. Tidak lama kemudian, Divya juga ikut undur diri untuk menuju toilet. Sedangkan Fahmi juga segar beranjak.
Mengetahui watak Divya yang diam-diam arogan, membuat Fahmi berpikir negatif. Dirinya takut kalau Divya mengajak sang istri bicara yang tidak-tidak.
Hingga kini, tinggallah Safir dan Queen yang ada di sana. Untuk sesaat keduanya jadi canggung sendiri karena untuk sesaat mereka justru saling bertatapan. Setelah itu Queen yang lebih dulu memutus pandangan mereka.
'Apa aku harus ke toilet juga?' gumam hati Queen
__ADS_1