Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 131 Kita Akhiri Saja


__ADS_3

Entah seperti apa dalamnya luka hati Divya yang berkaitan dengan Queen. Entah apa yang membuat Divya iri terhadap Queen sampai seperti ini. Safir masih tidak habis pikir tentang hal itu. Tapi yang pasti, sekarang ini Safir ingin tahu lebih lanjut apa yang ada di dalam pikiran Divya selama ini.


"Sejak dulu, Mama dan Papa selalu membanggakan Queen dan juga Vian. Perhatian mereka hanya terpusat pada Queen saja. Mereka seolah tidak melihat usahaku dan juga semua prestasiku. Bukan hanya mereka berdua, tapi Oma, Opa, dan Om juga selalu sayang dengan Queen. Kenapa mereka membedakan aku?" ucap Divya yang kembali mengungkap isi pikirannya selama ini. "Bahkan tidak sampai disitu, saat kamu datang melamarpun, Mama bisa-bisanya menanyai perasaan kalian berdua di depan semua orang. Mama seolah tidak memikirkan perasaan aku, dan yang diutamakan hanyalah perasaan Queen lagi dan Queen terus."


"Untuk masalah itu, sudah menjadi resiko kita berdua. Wajar Mama terkejut tentang kita yang akan menikah; karena selama ini aku dekatnya sama Queen. Bunda juga sama. Aku kan sudah bilang sama kamu sejak awal agar kita membicarakan hubungan kita dengan keluarga. Tapi apa, kamu justru memintaku untuk membuat kejutan pada orang tua kita. Mama itu terkejut dengan keputusan kita, Di. Kalau kita terus terang sejak awal, aku yakin kalau Mama tidak akan bertanya seperti itu di depan semua orang. Dan kamu tidak punya pemikiran seperti ini sekarang."


"Tetap saja itu tidak di benarkan, Fir. Aku maunya ..."


"Cukup Di," sentak Safir agar Divya tidak terus menyalahkan orang tua. "Dalam hal itu, kita yang salah. Jangan menyalahkan orang tua kita lagi."


"Bagaimana aku tidak menyalahkan atau berpikir kalau orang tuaku pilih kasih, kalau setelah acara pertunangan saja Mama masih memanggil kamu untuk datang ke kantor. Aku yakin kalau Mama meminta kamu untuk membatalkan rencana pernikahan kita kan?" tuntut Divya menyentak.


"Di, kalau kamu tidak tahu kebenarannya sebaiknya jangan berasumsi sendiri seperti ini. Pikiran kamu justru membuat kamu berpikir negatif terus menerus sama orang tua kamu sendiri. Waktu itu Mama memang memanggil aku, buka untuk membatalkan rencana pernikahan kita. Beliau hanya memastikan apa aku sudah yakin dengan keputusan aku, karena beliau tidak ingin kalau nantinya aku menyakiti kamu. Kasih sayang orang tua itu tidak selalu di tunjukkan secara langsung pada anaknya. Sepertinya kamu juga perlu tahu, kalau Queen selalu bercerita sama aku kalau Mama selalu memuji kamu. Beliau bangga atas apapun yang kmu lakukan. Apalagi sekarang saat kamu bergabung membantu Mama di perusahaan. Tapi aku tidak pernah mendapati Queen yang iri sama kamu."

__ADS_1


"Jangan bandingkan aku sama Queen, Fir. Mentang-mentang kamu cintanya sama Queen lalu kamu hanya akan membela Queen di depan aku."


"Aku tidak membela siapapun. Aku hanya bercerita tentang fakta yang aku tahu dan perlu kamu ketahui. Kita ini hanya seorang anak. Kelak kita juga akan merasakan saat kita menjadi orang tua."


Divya terkekeh mendengar ucapan Safir. Bahkan tatapannya seolah mengejek Safir dan seolah merendahkan. "Menjadi orang tua? Bagaimana mungkin, Fir. Kalau kamu saja sangat lemah. Bahkan sampai saat ini kamu masih seperti itu kan? Hahaha ... bagaimana mungkin kamu mau jadi orang tua, kalau kamu sendiri seperti itu."


Safir hanya mengepalkan kedua tangannya. Sekalipun apa yang di ucapkan Divya benar adanya, tapi Safir merasa di rendahkan karena air muka Divya yang meremehkannya.


"Usahaku kurang apa Fir? Aku bahkan sudah menggunakan pakaian sese*ksi mungkin. Memperlihatkan diri seperti perempuan liar agar kamu bergairah dan menyentuh aku. Tapi apa hasilnya, terakhir saat kita mencoba juga kamu masih saja sama. Tidak ada perubahan sama sekali."


"Aku ingin punya anak, agar Queen berhenti berharap sama kamu. Aku juga ingin punya anak, agar Fahmi tahu kalau aku sudah bisa move on dari dia. Agar dia tahu kalau yang bisa bahagia dengan orang yang tidak mereka cintai itu bukan hanya dia saja. Tapi aku juga."


Safir tidak begitu terkejut dengan ucapan Divya yang tertakhir. Karena sejak Divya membahas soal Fahmi, Safir sudah bisa memperkirakan keadaan.

__ADS_1


"Di, memiliki anak itu bukan untuk di manfaatkan atau di tunjukkan pada orang lain, kalau kita sudah punya anak dan itu artinya kita bahagia. Tidak seperi itu. Tanggung jawabnya besar memiliki anak, Di. Kalau pola pikirmu seperti itu, akan lebih baik kita akhiri saja semua ini."


"Maksud kamu apa, Fir?" sentak Divya yang tidak terima dengan ucapan Safir barusan.


"Aku pikir, selama ini kamu mencintai aku, Di. Maka sekarang aku berniat membalas cinta itu dengan caraku sendiri."


"Bulshit," ucap Divya yang tidak percaya dengan Safir.


"Dengarkan aku dulu, Di," sentak Safir yang sudah tidak bisa paham dengan arah pikiran Divya. "Aku sudah berusaha mengabaikan apapun untuk kamu. Terbuka sama kamu karena aku ingin bisa berkomunikasi dengan baik dan nyaman sama kamu. Tapi kalau tujuan pernikahan ini untuk balas dendam karena alasan yang menurut aku tidak masuk akal, maka aku tidak bisa melanjutkan semuanya."


"Tidak masuk akal?" sentak Divya yang tidak terima. "Kamu meremehkan perasaanku, Fir? Tahu apa kamu soal aku. Kamu enggak ngerti rasanya jadi aku, Fir. Jadi kamu tidak berhak bicara seperti itu. Owh, aku tahu sekarang. Apa kamu berniat menceraikan aku karena kamu ingin kembali dengan Queen?"


"Itu bukan tujuanku, Di. Aku tidak mau kalau pernikahan yang seharusnya bahagia tapi terasa hambar seperti ini. Hubungan kita berdua itu benar-benar tidak sehat, Di. Aku dengan tujuanku dan kamu dengan keinginanmu sendiri."

__ADS_1


"Enggak usah munafik jadi orang, Fir. Apa kamu pikir dengan kamu menceraikan aku, lalu Queen mau kembali dengan kamu?" tanya Divya serius. "Tidak akan. Karena aku pasti akan memberitahunya tentang kelemahan kamu," ucap Divya kemudian tersenyum jahat. "Cinta saja tidak cukup dalam berumah tangga. Karena bukan hanya soal materi yang di penuhi. Tapi hubungan ranjang yang harusnya berkualitas. Tapi kamu apa? Main sebentar saja sudah lemas. Begitu kok di bilang impoten enggak terima, dan berdalih kalau kamu itu sehat selama ini. Tapi buktinya apa? Zonk!!! Perempuan manapun sudah pasti akan meninggalkan kamu, Fir kalau tahu seperti ini. Termasuk Queen. Lebih baik kita tetap bersama dan aku akan diam menutupi kelemahan kamu itu, bersama dengan orang tua kita. Bagaimana?" ucap Divya membuat negosiasi. Bahkan kini tersenyum dan menilai kalau Safir tidak memiliki pilihan lain selain bersama dengannya.


__ADS_2