
"Lah kok malah ngelamun," ucap Zantisya sambil menepuk pundak Queen. "Dicobanya pelan-pelan. Mungkin memang aneh, tapi lama-lama juga akan terbiasa," Zantisya seolah meyakinkan Queen.
Queen terdiam sejenak. Ia tersenyum karena meski aneh tapi ide Zantisya pasti ada benarnya. Siapa yang tahu kalau panggilan khusus juga bisa membuat hubungan mereka semakin erat lagi. Merasa yakin, Queen segera mengikuti Zantisya yang kini sedang menyirami bunga bersama dengan Arfan.
"Gantian," pinta Queen sambil merebut selang Arfan. Sungguh, Queen memang suka sekali mengusik Arfan.
"Kakak ini sukanya rebut-rebut saja," ucapnya tanpa merebut kembali selangnya.
Arfan memilih duduk di gazebo. Ia seolah seperti mandor yang sedang memantau semua orang yang sedang melakukan pekerjaan mereka masing-masing.
Semenjak Safir menikah dengan Queen, Arfan seolah bisa melihat perubahan dari raut wajah Zantisya. Meski yang Arfan tahu Safir dan Queen menikah disaat seperti itu. Tapi Zantisya terlihat senang. Seolah Zantiysa sudah mendapatkan anak menantu yang memang Zantisya inginkan.
Meski usia Arfan baru menuju 13 tahun, tapi sebagai anak bungsu yang begitu manja dengan Zantisya. Tentu Arfan bisa merasakan perubahan yang terjadi padap Zantisya. Tidak bisa dipungkiri juga, kalaup Arfan memang menyukai Queen. Karena Queen seperti Ruby. Jahil dan suka sekali setiap datang ke rumah ini, Queen mau di ajak Arfan main game. Meski terlalu dini, Arfan pikir sejak dulu Safir dan Queen memang memiliki hubungan yang spesial.
"Eh apa itu?" gumam Arfan saat melihat mainannya yang ia sangkutkan di paku yang ada di sana. Senyum Arfan langsung terbit saat mendapatkan ide.
"Faaannn," panggil Zantisya saat melihat anaknya jalan mengendap-endap sambil membawa mainan. Zantisya tahu kalau sekarang Arfan berniat mengusik Queen yang sejak tadi justru bermain air, sampai sebagian baju Queen basah.
"Sssttt ... Bunda diam ya," tuntutnya dan lanjut melangkah pelan. Membuat Zantisya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum saja. "Kakak itu ada ular," teriak Arfan setelah melempar mainannya.
"Mana?" tanya Queen sambil balik badan. "Aaaa ..." Teriaknya sangat kencang saat melihat hewan berbisa berwarna hitam sudah berada didekat kakinya. Queen lari cepat, seolah ingin menyelamatkan diri. "Arfan lari Faaannn ..."
"Ularnya ngejar Kakaaakkk ..." teriak Arfan dan membuat Queen memilih semakin cepat lari.
__ADS_1
"Kyaaa ..." sangking takutnya, Queen sampai tidak mau menoleh kebelakang. Ia benar-benar termakan ucapan Arfan. "Maaasss ..." teriak Queen saat melihat Safir.
Safir yang memang sudah rapih, menggunakan celana panjang dan juga kemeja panjang yang lengan tangannya di lipat oleh Safir membuat Safir mematung saat Queen lari ke arahnya sambil memanggilnya seperti itu.
'Mas?' gumam hatinya yang bingung tapi juga bergetar.
Grep!
Selain ketakutan, otak Queen yang encer karena menemukan ide, ia langsung melompat seperti anak koala yang meminta gendong induknya.
Beruntung Queen menggunakan baju terusan yang bawahannya lebar dan juga celana laging. Membuat Kaki Queen dengan mudahnya mengekang tubuh Safir disaat tangan Queen sudah mengekang erat leher Safir. Dan spontan saja tangan Safir menahan tubuh Queen agar tidak terjatuh.
"Kamu kenapa?"
"Ada ular Mas. Ayo lari," ajak Queen dengan nafas yang sudah terengah-engah. 'Ya Allah, nekat banget aku kaya gini. Semoga Safir enggak ilfeel sama aku,' gumam hati Queen yang kalut.
"Benarkah?" tanyanya sambil menoleh kebelakang. "Tadi kata Arfan ularnya ngejar aku, Mas!" ucap Queen sambil menatap Safir.
"Apa?"
"Ularnya ngejar aku."
"Kamu panggil aku barusan apa?"
__ADS_1
"Mas," ucap Queen setelah itu ia tersenyum seperti anak kecil. Seolah memamerkan deretan gigi Queen yang terjejer rapih dan bersih.
"Mas?"
Queen hanya mengangguk saja. "Kata Bunda aku enggak boleh sebut nama kamu langsung. Enggak sopan," bisiknya.
Queen benar-bener sudah menguji Safir. Bisikan Queen membuat Safir merinding saat hembusan nafas Queen menerpa telinga Safir. Sampai membuat Safir semakin kuat mencengkram tubuh Queen. Apalagi sekarang Queen justru tersenyum manis.
"Eh, baju kamu basah?" tanya Safir sambil memperhatikan pakaian Queen. "Ya Allah, Queeennn ... Aku tinggal berangkat bersama Pak Yusman loh ini."
"Sorry."
Sejak tadi Zantisya hanya tersenyum melihat keduanya. Beruntung juga dirinya membiarkan Arfan menjahili Queen kalau pada akhirnya, kejahilan membuahkan kemesraan seperti ini.
"Lanjut di kamar sana gendong-gendongannya. Kasian itu yang masih pada kerja sampai menyingkir karena sungkan lihat kalian," ucap Zantisya memperingati.
Sengaja sekali Zantisya mengobar hati keduanya terutama Safir agar lebih berani dengan Queen.
"Eh!"
Untuk sesaat, Queen dan Safir saling memandang. Setelah itu, Safir hendak menurunkan Queen dari gendongannya.
"Eh, tunggu dulu dong Mas. Ularnya sudah benar-benar enggak ada?"
__ADS_1
"Enggaka ada. Tuh tersangkanya asik mainan," tunjuk Safir ke arah Arfan menggunakan dagunya. Setelah itu Safir menurunkan Queen. "Ayo kita ke kamar."
Untuk umur arfan maaf ya kalau ada kesalahan🙏🏼 seinget aku jarak usianya 10th dengan safir n ruby. Nanti aku revisi jika sudah menemukan jarak aslinya. Mohon di maklumi karena coretan buku saat nulis kisah ruby zen ketinggalan di kampung.