
Sekalipun sejak tadi Fahmi merasa resah sendiri karena menunggu sang istri, tapi Fahmi berusaha tenang. Kalaupun Divya berbuat sesuatu hal yang buruk, Fahmi yakin kalau Amanda akan berteriak guna meminta pertolongan. Lagi pula sepertinya Divya tidak akan macam-macam di tempat umum seperti ini. Hingga kini, Fahmi bisa bernafas lega karena Amanda keluar dalam keadaan baik-baik saja.
Ternyata sangat banyak hal manfaatnya untuk Fahmi karena dulu saat sebelum dirinya memutuskan untuk menikahi Amanda, mereka sepakat untuk saling terbuka. Menjawab segala hal yang ingin saling mereka tanyakan. Hingga kini tidak ada keraguan diantara mereka.
Sedangkan kini, Amanda nampak mengedarkan penglihatannya. Mencari tempat duduk yang belum di singgahi oleh pengunjung. Namun, Amanda jadi penasaran. Kenapa Fahmi memintanya untuk mencari kursi lain. Sedangkan kini yang tertinggal di tempat mereka tadi adalah Safir dan Queen.
'Apa ini masksudnya?'
Karena merasa penasaran, pada akhirnya Amanda memilih untuk melihat Safir dan Queen. Siapa yang menduga, kalau sekarang dua anak manusia tersebut sedang saling tersenyum. Menampilkan wajah yang begitu berseri dan juga bahagia. Yang lebih mencolok lagi adalah wajah Safir. Lelaki yang Amanda nilai sekilas adalah lelaki yang dingin. Tapi siapa yang menduga kalau Safir bisa tersenyum semanis itu.
Merasa kalau keduanya memiliki urusan pribadi yang sepertinya belum selesai, membuat Amanda segera mencari tempat duduk. Amanda tahu, posisi Safir dan Queen saat ini pasti salah. Tapi Fahmi pasti memiliki niat tersendiri kenapa meminta dirinya untuk mencari kursi kosong.
*
Begitu keluar dari toilet, Divya terkejut karena melihat keberadaan Fahmi. Tapi ia tidak ingin menanggapi lelaki yang kini terlihat menunggunya sejak tadi.
"Apa tujuanmu sebenarnya, Di?"
Pertanyaan Fahmi berhasil membuat langkah kaki Divya terhenti. Membuat Divya balik badan untuk menatap lelaki yang menjadi cinta pertama untuknya tersebut.
"Apa?"
"Kamu menemui istriku untuk membicarakan masalalu. Apa maksudnya?" tuntut Fahmi yang sangat butuh penjelasan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bicara saja," ucap Divya santai sambil mengsendekapkan tangannya.
Fahmi tersenyum sinis dan menatap Divya penuh rasa benci. Sungguh, Fahmi sangat menyayangkan hubungan mereka yang pernah terjalin sewaktu SMA dulu. Padahal mereka adalah sahabat baik. Tapi siapa yang tahu perangai manusia hingga membuat hubungan mereka menjadi seperti ini.
"Untung aku membicarakan semuanya tentang Queen pada istriku sejak sebelum menikah. Kalau tidak, dia bisa salah paham. Apa kamu tidak memikirkan resiko yang akan kami tanggung jika saja Amanda belum mengetahui semuanya? Dia sedang hamil, Di. Bagaimana kalau kami jadi bertengkar karena hal yang sebenarnya sudah menjadi kisah kenangan saja? Kamu mikir sampai sana enggak sih?" sentak Fahmi kesal.
"Toh istri kamu itu sudah tahu semua dan tidak terjadi apapun dengannya. Ya sudahlah Fahmi, untuk apa di bahas lagi?"
Fahmi langsung menarik tangan Divya, dan Fahmi sandarkan Divya pada dinding, agar Divya tidak berdiri di tengah-tengah jalan.
"Itu artinya kamu memang memiliki niat tidak baik pada istriku. Benarkan?"
"Jangan sembarangan bicara kamu Fahmi," sentak Divya yang jadi tidak terima.
Fahmi tersenyum miring dan semakin kesal melihat Divya yang tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun. "Apa sejak dulu kamu sama sekali tidak pernah berubah? Tetap pendendam seperti ini?"
"Atau jangan-jangan hubungan kamu dengan Safir hanyalah sebuah dendam pribadi yang kamu miliki pada Queen?" tebak Fahmi telak.
Mendengar nama Queen, membuat Divya ingat kalau Safir dan Queen sedang bersama. "Safir," gumam Divya yang hendak pergi. "Lepas," sentak Divya saat Fahmi menggenggam tangannya.
"Jawab aku dulu, Di. Apakah asumsiku ini salah atau benar. Kalau mungkin saja Queen mencintai Safir dan mungkin sebaliknya. Atau mereka mungkin memiliki hubungan. Lalu kamu merusak hubungan mereka karena dendammu di masalalu karena aku yang menyukai Queen? Sakit hatimu, kamu limpahkan ke Queen?"
Saat menunggu sang istri keluar, awalnya Fahmi berniat kembali lagi ke meja mereka untuk mengambilkan tas sang istri. Siapa yang tahu kalau Amanda butuh membenarkan make upnya. Niat hati Fahmi ingin membuat Amanda tidak bolak balik ke toilet. Tapi siapa yang menduga, Fahmi justru melihat Queen dan Safir saling terkekeh pelan, tapi terlihat tulus dan wajah keduanya seolah memancarkan binar perasaan. Sepertinya hal yang membuat Fahmi merasa janggal sejak awal tentang keduanya, benar adanya. Membuat Fahmi tidak jadi mengambil tas Amanda agar Safr dan Queen tidak terusik karenanya.
__ADS_1
"Jangan sok kepedean kamu, Fahmi. Safir sendiri yang datang melamarku tanpa aku melakukan apapun padanya. Tidak ada yang salah karena sejak awal yang di lamar Safir adalah aku. Dan yang dicintai Safir adalah aku. Aku hanya mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku," tutur Divya agar Fahmi faham dengan keadaan.
"Benar berarti dugaanku. Sadar, Di. Kamu tidak akan bahagia jika kamu seperti ini. Tanyakan pada hatimu, benarkah kamu mencintai Safir atau Safir mencintaimu. Karena kalau niatmu hanya untuk menyakiti Queen, maka kamu tidak akan pernah hidup bahagia."
"Tahu apa kamu soal aku?" tanya Divya dengan kedua air mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu bukan aku, jadi kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jadi aku."
"Kamu hanya perlu ikhlas. Tidak semuanya bisa berjalan seperti kehendakmu," ucap Fahmi berusaha mengingtakan Divya.
"Aku tidak perduli," ucap Divya kemudian pergi meninggalkan Fahmi.
Fahmi jelas mengikuti Divya. Belum sampai keduanya mendekati meja mereka tadi, kini Fahmi kembali menarik tangan Divya agar berhenti melangkah.
"Lihatlah, pernahkah Safir terseyum dan memandang kamu dengan cara seperti itu?"
Divya mengepalkan tangannya erat. Perasaannya sudah camput aduk karena melihat apa yang tidak pernah ingin Divya lihat.
"Aku memang baru pertama kali bertemu dengan Safir. Tapi aku merasa ada yang salah dengan hubungan kalian bertiga," ucap Fahmi pelan.
"Lepas," pinta Divya yang sudah ingin menghampiri Safir.
"Sayangi diri kamu sendiri, Di. Jangan siksa hati kamu karena perasaan dendam kamu sendiri. Selama ini, Queen tidak tahu masalah perasaanku dulu. Tapi kenapa kamu tega, melakukan seperti ini dengan adik kamu sendiri. Padahal sejak dulu Queen sayang sekali sama kamu."
"Jangan terlalu banyak berkomentar kalau kamu tidak tahu apapun, Fahmi," ucap Divya telak. kemudian ia menghempas tangan Fahmi secara kasar. "Safir."
__ADS_1
Safir yang baru saja akan mengutarakan perasaan rindunya tentang kebersamaan mereka dulu, membuat semuanya terhenti karena Divya memanggilnya. "Ya."
"Kita pulang sekarang."