Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 56 Salah Kamar


__ADS_3

Tanpa pikir-pikir lagi, begitu mendengar keterangan dari Art-nya, Divya langsung beranjak dari ruangan tersebut. Ia lari begitu keluar dari ruangan makan. Sudah sejak tadi dirinya menunggu Safir, ternyata yang di tunggu dan membuat hati Divya resah sendiri ada di dalam rumah ini. Divya jadi tidak habis pikir dengan Safir, bagaimana mungkin Safir jadi salah kamar padahal sudah di beri tahu di mana keberadaan kamarnya.


Klek!


Tanpa perlu membuka kamar Vian ataupun kamar di depan kamar Vian. Divya langsung membuka kamar Queen. Benar saja, begitu Divya menghidupkan lampu utama, terdapat Safir yang tidur begitu nyenyak sambil memeluk bantal guling. Sedangkan kaki Safir hanya di tutup sebagian menggunakan selimut. Melihat hal ini, hati Divya seketika terasa kesal. Bagiamana mungkin suaminya nampak nyenyak di dalam kamar adiknya.


"Fir ... Safiiirrr ..." Divya menepuk kaki Safir sedikit kuat agar Safir segera terjaga.


"Eh, Di," Safir yang terkejut karena tidur nyenyaknya terusik, ia langsung bangun dan secara cepat mengumpulkan seluruh nyawanya. "Kamu baru pulang?" tanyanya tanpa memperhatikan baju apa yang kini di gunakan Divya. Baru saja Safir mengulurkan tangannya. Niat hati ingin memeluk Divya yang baru saja pulang. Untuk membiasakan hal-hal baik agar hubungan mereka terasa manis dan hangat. Safir pikir, Divya adalah istrinya. Jadi sudah seharusnya Safir memperlakukan Divya dengan baik. Namun, siapa yang menduga jika kini Divya menyempar tangannya dan menatapnya dengan air muka yang nampak kesal.

__ADS_1


"Aku sudah pulang sejak tadi dan nungguin kamu. Kamu ini gimana sih, Fir. Bukanya sebelum naik ke lantai atas kamu sudah tanya sama Mbak dimana letak kamar aku? Kenapa sampai salah kamar seperti ini?" tanyanya menuntut dan suara Divya terdengar sedikit lebih tinggi.


"Apa?" Safir jelas terkejut. Bagaimana mungkin dirinya salah kamar. Kedua matanya mengedar untuk sesaat. Memastikan sekali lagi, apakah yang di katan Divya benar adanya. Melihat hiasan dinding yang ada di depan meja belajar, yang pernah Queen beri tahukan padanya melalui foto yang di kirimkan, membuat Safir langsung turun dengan cepat. Pantas saja Safir mencium aroma wangi yang menepel pada  bantal dan juga guling yang cukup familiar. Ternyata itu aroma yang terkadang di gunakan oleh Queen. Wanginya tidak mencengat karen aroma tersebut hanya bisa tercium saaat mereka berdekatan saja. "Bukannya ini kamar nomor dua bagian ..." Safir menjeda ucapannya karena kembali bingung dengan jawaban yang di berikan Art padanya tadi. "Kiri apa kanan ya?"


"Kamar aku nomor dua sebelah kiri, Safir. Kamar Queen ini nomor dua sebelah kanan."


"Mana aku tahu kalau ini kamar Queen, Di."


Untuk sesaat, Safir mengingat semuanya sebelum dirinya naik ke lantai atas ini. "Aku tadi memang tanya sama Mbak, Di. Tapi dia justru menyebutkan semua kamar yang ada di sini. Kepala aku pusing. Aku capek. Aku juga masih kurang istirahat. Maaf kalau aku jadi nyasar seperti ini," jelas Safir dan berharap kalau Divya tidak masrah lagi padanya.

__ADS_1


Ini sungguh di luar dugaan. Bisa-bisanya mereka justru terkesan bertengkar di hari kedua pernikahan mereka.


"Jangan bohong ya, Fir."


"Astaghfirullah Diii ..." Safir yang merasa kalau dirinya selalu mengatakan apa adanya jika di tanya siapapun, tentu dirinya kesal kalau di katai bohong seperti ini. "Aku enggak bohong sama kamu. Kalau kamu enggak percaya, kamu coba tanya ulang sama Mbak tadi, bagaimana dia menjawab pertanyaanku. Kalau dia hanya memberi tahu aku kamar kamu saja, mana mungkin aku salah kamar seperti ini," jelas Safir untuk membela diri.


Rasanya Safir juga jadi ikutan kesal pada istrinya tersebut. Karena ingat saat Divya pergi tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu. Tapi Safir memilih diam karena tidak ingin membuat Divya semakin marah. Safir menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan hatinya yang mulai kacau lagi. Ia melirik ke arah jam dinding.


"Aku belum maghriban. Aku minta maaf soal ini," Safir langsung meraih tas jinjingnya dan segera keluar dari sana.

__ADS_1


Divya menghela nafasnya pelan. Setelah itu ia menyusul Safir yang kini sudah memasuki kamarnya. "Jangan lama-lama. Aku tunggu kamu di ruang makan," ucap Divya saat melihat Safir akan memasuki kamar mandi.


"Di, kita ..." Ucapan Safir terhenti karena Divya sudah berlalu. Padahal dirinya mau meminta Divya untuk menunggu dirinya, agar mereka turun bersama. Safir jelas tidak enak hati kalau dirinya sampai membuat mertuanya menunggu dirinya saja.


__ADS_2