Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 176 Lanjut Ron2


__ADS_3

"Eh!"


Queen jelas terkejut karena secara tiba-tiba, ada dua tangan yang menyusuri tubuh Queen. Meski belum terbiasa seperti ini, nyatanya Queen sadar kalau yang menyentuhnya sekarang adalah Safir.


Sekilas sempat Queen mengkhayal kalau mungkin saja Safir akan menyusulnya menuju ruangan shower. Namun, siapa yang tahu kalau pikiran sekilas itu sudah terwujud.


"Mas," panggil Queen karena tangan Safir berhasil membuat Queen merintih dan seluruh raga yang kembali tergugah.


"Hangat," bisik Safir.


Dibawah air shower hangat yang jatuh cukup deras, kini Queen hanya bisa memejamkan kedua matanya. Menikmati air dan juga sesapan Safir pada lehernya. Yang terasa hangat bukan hanya kulit saja, tapi desiran darah yang mulai mendidih.


Setelah puas, Safir membalik tubuh Queen dan kembali menyatukan bibir mereka. Sedangkan tangan Safir berusaha mengurangi terjunan air shower yang terus membasahi tubuh mereka.

__ADS_1


Dini hari seperti ini, dua insan yang sedang dimabuk cinta itu kembali membuat keributan didalam ruangan shower. Bukan hanya Safir saja yang menginginkan semuanya lagi. Melainkan Queen juga yang menerima dengan senang hati perbuatan Safir padanya. Rasa sakit yang masih mendera Queen sudah diabaikan demi kenikmatan raga.


Suara keduanya terus beradu. Mereka memburu begitu cepat seolah ingin segera sampai tujuan. Suara yang semakin kuat menjadi bukti bagaimana semangat keduanya yang sudah berkobar. Sampai pada akhirnya, semuanya lebur menjadi satu.


Safir menyandarkan tubuhnya pada dinding. Membawa Queen agar tetap aman dalam pelukannya.


Peluh yang mereka hasilkan jelas tidak terlihat. Karena rintikan air shower yang menambah sensasi keduanya.


Yang menjadi bukti perbuatan mereka adalah raga yang masih tetap bersatu. Menikmati sisa kerja keras meraka yang sudah usai. Nafas yang masih memburu dan degup jantung yang yang sedang berangsur untuk kembali normal.


Panggilan Safir sungguh membuat jantung Queen merasa tidak aman. "Hem," gumam Queen yang masih tetap menyandarkan kepalanya di pundak Safir. Sedangkan tangannya masih menyentuh dada Safir secara perlahan.


"Membahas ini sangat memalukan. Tapi jujur, aku benar-benar lega dengan apa yang baru kita lakukan lagi. Maaf, jika aku tadi sulit menahan diri."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Aku bingung mau mengatakan apa. Tapi yang pasti aku juga senang."


Safir menarik nafasnya dalam-dalam. Pikirannya masih ada ketakutan kalau saja Queen merasa kurang saat berhubungan dengannya.


"Jika ada sesuatu hal yang tidak berkenan dihati kamu terkait hubungan kita, katakan saja terus terang. Jangan memendam semuanya agar aku bisa memperbaiki diri. Agar bukan hanya aku saja yang senang, tapi kamu juga," tutur Safir, karena hatinya tiba-tiba terbesit rasa tidak percaya diri.


Queen tahu, pasti saat ini Safir masih memusingkan masalah pribadinya sendiri. "Tentu! Aku akan mengatakan apapun yang tidak berkenan sama aku. Bukankah sejak dulu juga aku selalu komplain jika kamu enggak turutin maunya aku, Mas?"


"Dulu sama sekarang itu beda, Yang."


"Tapi aku tetap Queen yang sama. Mas tahu aku bagaimanakan? Lihat wajah aku baik-baik, apa aku seperti seseorang yang kekurang sesuatu?" tanya Queen sambil menatap Safir. Bahkan tangan Queen juga menangkap pipi Safir agar mereka fokus saling memandang.


Tidak ada hal aneh yang bisa Safir dapatkan dari air muka Queen. Secara perahan, hati Safir semakin percaya. Mungkin semuanya bisa berjalan begitu saja karena Safir tidak memiliki beban pikiran karena hati yang merasa janggal.

__ADS_1


"Agh," pekik Queen karena Safir menarik pinggangnya. "Sudah dulu Mas, ingat kita belum solat isya'," ucap Queen memperingati.


"Aku tahu. Ayo kita mandi sekarang."


__ADS_2