
"Mamaaa ..." Divya segera melangkah cepat saat kini dirinya melihat keberadaan Reina dan Hendri. Ia memeluk Reina dan kembali menangis tertahan. Meluapkan rasa hati yang begitu ketakutan sejak beberapa hari ini.
"Kenapa Divya ke sini? Seharusnya beri tahu saja di mana ruang rawat Safir."
"Safir sudah di pindahkan ke ruang perawatan biasa, Ma. Sekarang Safir sedang bersama Bunda dan Ayah."
"Alhamdulillah," ucap syukur Reina dan Hendri. Itu artinya kesehatan Safir sudah semakin membaik.
"Jadi Pak Arjuno dan Bu Tisya sudah datang lebih dulu? Kalau begitu kita ke sana sekarang," ajak Hendri.
"Tunggu dulu Ma, Pa. Di, ingin mengatakan sesuatu," sebisa mungkin Divya menahan rasa takutnya dan ingin menjelaskan semuanya terlebih dahulu. Setelah mendapatkan wejangan dari Zantisya, kini Divya juga takut kalau sampai mendapatkan omelan dari kedua orang tuanya. Tapi mau bagaimana lagi, semua di luar rencana dan perkiraannya. Kalau tahu akan seperti ini, mana mungkin Divya melakukan semuanya secara sepihak.
"Kita bicara nanti saja, Di. Sekarang Mama harus bertemu dengan besan dulu dan yang lebih penting melihat keadaan Safir bagaimana," tolak Reina yang enggan di ajak bicara dengan Divya lebih dulu.
"Tapi Ma ini berkaitan dengan Safir, Ma," ucap Divya yang langsung membuat langkah Hendri dan Reina terhenti.
__ADS_1
"Kalau memang berkaitan dengan Safir, ayo kita bicarakan bersama di sana saja Di. Kami sudah ingin melihat keadaan suami kamu bagaimana. Ayo."
Tidak ada pilihan lain. Mendebat Reina tidak akan membuat Divya mendapatkan waktu yang ia inginkan. Ia hanya pasrah dan jalan begitu terasa lemas karena kali ini mungkin saja Zantisya dan Arjuno sendiri yang akan memberitahu kedua orang tua Divya. Divya hanya bisa bernafas pasrah dan rasanya sangat frustasi.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikum salam," jawab semua orang yang ada di dalam ruang rawat.
Melihat kedatangan besannya, membuat Zantisya langsung beranjak dari tepi bangsal Safir. Mereka saling sapa dan begitu terasa hangat. Setelah itu Reina dan Hendri segera mendekati menantunya tersebut.
"Sudah lebih baik, Pa. Sebenarnya Safir sudah ingin keluar dari rumah sakit. Bosan sekali rasanya. Tapi belum boleh dengan dokter."
"Ya jelas tidak boleh. Baru juga di pindahkan ruang perawatannya," ucap Reina. Perempuan tersebut jauh lebih lega melihat keadaan Safir saat ini. "Sekarang kami ingin tahu, bagaimana bisa Safir sampai seperti ini? Kami kira terjadi kecelakaan atau apa, tapi syukurnya Safir tidak luka fisik."
"Eh, itu karenaaa ..." ucapan Safir sampai mengambang. Bingung mau mengatakan semuanya bagaimana. Yang bisa Safir lakukan adalah melihat Divya. Karena semua ini terjadi juga karena ulah istrinya tersebut. Namun, mau berkata jujur juga Safir sangat malu. Apalagi sampai di ketahui kedua mertuanya.
__ADS_1
"Bu Reina dan Pak Hendri. Untuk alasan kenapa Safir sakit, sebaikan di tanyakan langsung dengan dokter yang bertanggung jawab dengan Safir saja," ucap Zantisya memberikan saran.
"Kenapa begitu? Apa tidak bisa langsung Bu Tisya saja yang memberi tahu kami?" Reina jadi bingung menatap besannya tersebut. Memangnya apa susahnya jika memang orang yang di dalam ruangan ini yang memberitahu mereka berdua.
"Ayo kita bicara di luar Ma, Pa. Biar Divya jelaskan semuanya," ucap alih Divya mengambil kesempatan.
"Tidak," ucap Zantisya tegas karena melarang ajakan Divya. Membuat perempuan muda itu kembali diam tak mampu berkata-kata lagi. "Saya hanya ingin Bu Reina dan Pah Hendri mendapatkan keterangan yang jelas dari dokter agar tidak terjadi kesalah pahaman. Silahkan."
Melihat ucapa Zantisya yang terdengar tegas dan tidak bisa di tawar-tawar lagi, membuat Reina dan Hendri segera keluar dari ruangan perawatan.
"Bunda, kenapa tidak membuat alibi saja pada Mama dan Papa? Safir juga sudah merasa lebih baik."
Zantisya tidak menyangka dengan ucapan Safir. Ia langsung mendekati anaknya tersebut. "Safir masih mau belain tindakan konyol istri Safir?"
"Bukan seperti itu, Bunda. Tapi Safir malu, karena ..."
__ADS_1
"Tidak perlu malu. Bunda juga jadi ingin tahu, bagaimana reaksi mertuanya Safir. Bunda juga tidak ingin terjadi kesalah pahaman di antara dua keluarga. Dan Bunda harap, beliau bisa menasehati istri Safir agar hal seperti ini tidak akan terulang lagi."