
Safir tidak menduga, Divya secara terang-terangan menuduh dirinya memiliki gangguan pada organ reproduksinya. Ia tidak terima karena istrinya sendiri yang mengatai dirinya impo*ten. Hal sensitif yang sangat menjatuhkan harga diri lelaki.
Padahal selama ini, semua yang terjadi pada diri Safir selalu normal-normal saja. Bahkan setiap hari, saat sebelum menikah, setiap bangun pagi maka Safir junior juga ikutan bangun. Hal yang normal dan biasa terjadi pada diri lelaki. Bahkan, cukup lama raga kebanggaan Safir itu tetap mengacung dan seolah menantang lawan.
Hal lainnya yang biasa terjadi juga, terkadang senjata utama Safir itu bangun dengan sendirinya. Hal ini normal dan sehat-sehat saja terjadi. Sekalipun di saat seperti itu, Safir tidak berfikir hal-hal di luar kejombloannya kala itu. Semuanya normal. Safir merasa kalau dirinya sehat wal afiat tanpa penyakit tertentu. Maka sekarang Safir juga bingung, kenapa dirinya menjadi seperti ini.
Safir sadar betul, apa yang terjadi karena pikirannya yang bercabang ke mana-mana. Safir tidak fokus dengan satu hal sehingga semuanya menjadi hambar. Padahal seharusnya, Safir bisa mengabaikan semuanya. Apalagi di depannya kini ada perempuan cantik nan se*ksi yang tidak berbenang dan siap sedia untuk di nikmati. Namun, yang terjadi sekarang justru seperti ini.
"Di, bisa tidak kalau kamu bicara sama aku itu jangan menggunakan suara yang tinggi?" tatapan Safir nampak tajam. Ucapannya bahkan terdengar tegas. Tapi sebisa mungkin dirinya tidak tersulut amarah walau saat ini dirinya sedang sakit hati karena ucapan Divya. Safir memejamkan kedua matanya sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh jantungnya yang sudah ingin meledak. "Cukup bicara pelan dan kita obrolkan masalah kita baik-baik. Aku pasti bisa dengar suara kamu karena aku tidak tuli," ucap Safir pelan, memberikan Divya peringatan.
Divya nampak tertegun melihat air muka Safir saat ini. Siapa yang menduga jika baru kali ini Divya melihat tatapan penuh amarah yang tertahan dari mata Safir.
"Aku minta maaf," ucap Divya pelan dan menundukkan wajahnya. Ia tidak ingin jika masalah ini akan berlarut kemana-mana. Sehingga Safir kecewa dan meninggalkan dirinya.
"Aku juga minta maaf karena aku tidak bisa muasin kamu, Di. Sungguh, aku baik-baik saja dan aku normal. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini," ini sangat memalukan untuk di bahas. Tapi mau bagaimana lagi. Mungkin saja dari sini, masalah yang mungkin sedang terjadi akan mendapatan solusinya.
Divya tidak menanggapi ucapan Safir, Ia jalan pelan untuk meraih ponselnya. Setelah itu Divya mencari informasi dari internet. Mungkin saja dari sana Divya bisa menemukan kendala yang menyebabkan Safir seperti itu.
"Apa ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan? Yang bikin kamu jadi setres sendiri?" tanya Divya tanpa menatap Safir. Ia masih fokus pada ponselnya karena membaca informasi.
Hanya untuk beberapa detik Safir menjawab iya di dalam pikirannya. Tapi itu hanya terealisasi dalam hatinya saja. Mana mungkin dirinya mengatakan apa yang ada. Karena Safir tidak ingin melukai hati perempuan lainnya lagi. Apalagi ini istrinya sendiri.
"Tidak ada."
"Atau perkara kamu kurang tidur, Fir, Kamu kan sukanya tidur larut malam. Sampai benar-benar mengantuk baru kamu tidur kan? Pasti saat aku tertidur, kamu masih terjaga."
__ADS_1
"Di, aku kan sudah katakan ke kamu, aku tidak bisa tidur di bawah lampu yang terang benderang seperti ini. Tubuh kita akan jauh lebih rileks kalau kita tidur si dalam kamar yang gelap. Dan hal itu sudah biasa di aku. Bunda yang selalu membiasakan kami seperti itu. Maka ..."
"Fir, aku enggak suka gelap. Aku enggak akan bisa tidur kalau kamar gelap gulita. Itu menakutkan. Bagaimana kalau tiba-tiba ada hantu yang menghampiri aku? Aku enggak mau."
"Kalau begitu kita tidur dengan lampu yang temaram. Bagaimana?" sebisa mungkin Safir tetap melakukan bujuk rayu agar mereka bisa sama-sama nyaman saat istirahat. Jujur saja, Safir jadi kurang istirahat karena tidur malamnya yang tidak berkualitas.
"Aku takut, Fir."
"Apa yang kamu takutkan Di? Enggak ada hantu di sini. Aku tidur di samping kamu. Kita tidur dengan pelukan juga kan? Ada aku, jadi jangan takut. Sekali saja kita coba tidur menggunakan lampu temaram. Ya?"
Untuk sesaat, Divya berfikir. Mungkin saja ini ada baiknya juga. Lalu usaha Divya membuat seluruh tubuh Safir bugar dan mereka bisa melakukan hal seperti yang Divya inginkan.
"Baiklah. Kita coba."
"Kalau begitu, aku mandi dulu setelah itu kita tidur."
*
Di Malang. Baru saja Reina dan Hendri selesai makan malam. Setelah itu mereka duduk berdua di ruang keluarga. Duduk berdampingan dengan kedua mata yang menatap sendu ruangan tersebut.
"Queen tidak memberi kabar kamu lagi sayang?" tanya Hendri sambil menatap sofa yang biasanya menjadi tempat duduk ataupun tiduran Queen saat mereka berkumpul si ruangan tersebut.
"Tidak. Kata Mas aku tidak boleh menghubungi Queen dulu. Tapi setiap hari Queen kirim foto pemandangan wisata yang Queen kunjungi di sana Mas," ucap Reina sambil memberitahukan nomor baru Queen yang sudah mengirimkan beberapa foto. "Ya, meskipun hanya foto pemandangan saja."
"Pikiranku sungguh tidak tenang. Tapi mungkin dengan itu Queen bisa menyembuhkan hatinya sendiri. Aku sungguh merasa bersalah karena melihat hati anakku terluka. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka saling mencintai. Hal yang tidak terduga sama sekali. Takdir terkadang selucu ini," ucap Hendri sampai membuat kedua matanya terasa perih.
__ADS_1
"Makanya waktu itu aku menuntut Safir tentang hatinya yang benar seperti apa. Dia yakin mencintai Divya, Mas. Aku hanya takut dia salah mengira hatinya. Safir masih muda, Tapi ya bagaimana lagi kalau dia sudah yakin dan akan bertanggung jawab sama kehidupan anak kita. Aku melakukan itu juga aku jadi merasa bersalah pada Divya, Aku terkesan seperti tidak ingin jika Divya bersam dengan Safir."
Hendri hanya menghela nafasnya pelan. "Ya sudahlah. Takdir mereka memang seperti ini. Oh ya, aku baru ingat sesuatu. Tadi aku mendengar desas desus dari para karyawan kalau di hari pernikahan Divya, Vian datang.
Mendengar nama anak keduanya, membuat kedua mata Reina langsung berkaca-kaca. "Mas serius?"
"Iya. Entah di mana anak itu tinggal. Aku sudah mencari informasi terkait Vian, yang mungkin saja Vian akan bekerja di sana. Sesuai yang sudah pasti Vian kuasai. Tapi sampai detik ini tidak ada laporan yang mengatakan soal Vian."
"Kata-kata aku waktu itu pasti sangat menyakiti hatiinya kan Mas?" rasnanya Reina menyesali waktu yang sudah berlalu. Karena terlalu marah dengan kelakuan Vian, Reina sampai berucap yang sudah pasti meyinggung hati Vian. "Lalu bagaimana denganĀ kabar Vian di hotel itu Mas."
"Sayangnya yang menyebar kabar pertama kali itu lupa Vian menggnakan baju seperti apa. Tapi aku sudah meminta karyawan di bagian CCTV untuk melihat rekaman di hari Divya menikah. Oh iya, minggu depan kita mendapatkan undangan dari luar kota."
"Undangan apa Mas?" tanya Reina sambil mengusap matanya yang sudah basah.
"Biasa, mantu. Ayah sama Nda juga nanti datang. Kita akan bertemu di hotel."
"Zen sama By ikut juga enggak Mas?" tanya Reina yang kini sudah berubah ceria lagi. Ia sudah sangat berharap kalau ia bisa kembali bertemu dengan si kembar tiga.
"Tidak. Zen sudah mengabaikan pekerjaan selama datang ke sini. Selain itu, Alan dan Nabila berencana ke luar negeri. Jadi tidak ada yang menggantikan Zen."
"Yaaahhh ... Sayang sekali. Semoga saja, setelah pulang bulan madu, Divya dan Safir akan memberikan kabar baik. Aku sudah rindu mengurus bayi, Mas."
"Mumpung kita tinggal berduaan, apa kita membuat bayi juga?"
Kedua mata Reina melebar. Bisa-bisanya lelaki tua di sampingnya ini tidak ingat usia saat mengucapkan kata-kata tersebut. "Maaasss inget usia Maaasss ..." Pekiknya kesal.
__ADS_1