Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 93 Lebih Mahal, Lebih Bagus


__ADS_3

Sudah sejak tadi Yusman meninggalkan kantor. Padahal di kantir, Safir tidak ada keperluan penting selain bicara dengan Yusman. Tapi Safir sepertinya enggan untuk pulang ke rumah kebih awal. Karena sekarang Safir memilih masuk ke dalam ruang kamar kecil yang ada di dalam ruang kerjanya. Lelaki tersebut memilih tidur di sana. Bahkan Safir sangat lelap mengarungi mimpi indah.


Safir terbangun saat sekitar jam menunjukkan pukul 13.45 wib. Setelah usai ibadah, barulah Safir memilih untuk pulang ke rumah. Karena tidak membawa  mobil, Safir meminta tolong salah satu karyawannya untuk mengantarkannya pulang ke rumah mertuanya lebih dulu.


Keperluan Safir kesana hanya untuk mengambil mobil saja. Safir tidak perlu berlama-lama karena mertuanya juga belum pulang ke rumah.


"Sudah siap?" tanya Safir begitu sampai rumah dan langsung menuju kamar. Saat akan pulang ke rumah, Safir sudah memberi kabar pada Divya untuk segera bersiap. Rasanya Safir cukup berpengalaman jika bepergian dengan perempuan. Karena perempuan cukup lama saat akan kemana-mana. Belum memilih baju yang pas, make up dan entah apa lagi. Begitu banyak persiapan perempuan.


"Sebentar lagi. Aku masih catok rambut dulu."


"Ya sudah, aku mandi sebentar ya?"


Karena Divya mengatakan sebentar lagi, maka Safir juga harus menanfaatkan waktu dengan baik. Mempercepat diri untuk membersihkan diri.


Menunggu adalah hal yang menyebalkan dan butuh kesabaran ekstra. Jadi Safir tidak mau jika nantinya Divya marah karena menunggu dirinya terlalu lama.


Hingga beberapa menit kemudian. Safir keluar dari kamar mandi dan masih melihat Divya yang sibuk dengan rambutnya. "Masih belum selesai?" tanyanya sambil membuka lemari untuk mengambil pakaian.


"Sebentar lagi, Fir."


"Tadi katanya sebentar lagi. Sekarang juga sama," ucap Safir yang kemudian kembali memasuki kamar mandi lagi untuk ganti baju. Aneh juga rasanya. Padahal di antara mereka sudah saling buka-bukaan. Nyatanya Safir belum merasa nyaman jika berganti baju di saat ada Divya di dalam kamar.

__ADS_1


"Kalau aku cantik saat keluar sama kamu, kan kamu juga enggak malu Fir," ucap Divya saat Safir akan kembali menutup pintu. "Ganti baju saja pake acara masuk kamar mandi. Apa susahnya di sini saja. Toh bukannya aku mau menerkam dia kan?" gumam Divya kesal.


HIngga kini, Safir sudah rapih dan wangi dengan pakaian yang ia gunakan. Lelaki tersebut duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan Divya yang sedang mempercantik mata.


Perempuan yang memiliki postur tubuh tinggi dan juga ramoing. Benar-benar ideal dan juga se*ksi. Lekuk tubuh impian peremluan di luar sana.


Safir jadi sadar, mungkinkah selama itu ia sangat tertarik dengan fisik Divya yang terlihat begitu sempurna.


"Ayo berangkat," ajak Divya setelah meraih tas jinjingnya.


"Ayo."


Sebelum meninggalkan rumah, Safir dan Divya berpamitan dengan Zantisya kalau mereka akan keluar dan tidak akan ikut makan malam di rumah. Dengan menggunakan mobil barunya, Safir membawa Divya pergi menuju ke sebuah pusat perbelanjaan.


"Mau belanja langsung atau ingin beli sesuatu dulu?"


"Beli satu minuman dulu, setelah itu kita belanja ya," Divya tersenyum manis pada Safir. Bahkan tangannya membalas genggaman tangan Safir lebih erat lagi. Seolah Divya takut kehilangan lelaki tersebut.


"Ok."


Benar saja, setelah mereka membeli satu cup minuman segar, kini Safir mengantarkan Divya membeli pakaian yang di butuhkan. Safir hanya mengikuti saja saat Divya sedang membeli pakaian dalam. Safir bahkan di minta Divya untk memilih warna yang mungkin saja di sukai oleh Safir.

__ADS_1


Tidak cukup setelan pakaian dalam yang terlihat se*ksi, Divya juga membeli beberapa baju dinas malam. Sengaja hal itu Divya lakukan agar Safir mau memilih sendiri, model mana yang Safir sukai.


Setelah Safir membayar semua belanjaan Divya yang pertama, kini mereka menuju ke bagian busana wanita. Sambil menjijing paper bag, Safir terus mengikuti langkah kaki Divya.


"Menurut kamu mana yang bagus Fir?" tanya Divya sambil menunjukkan dua baju atasan lengan panjang.


Untuk sesaat, Safir memperhatikan dua baju atasan tersebut. Karena tidak terlihat menarik di mata Safir, maka lelaki tersebut mencoba untuk mencari baju atasan yang lain. "Bukankah lebih bagus yang ini?"


Divya memperhatikan baju yang Safir tunjukkan. Air muka Divya terlihat sekali kalau tidak menyukai pilihan Safir.


"Aku cari yang lain saja baju ganti untuk tinggal di rumah Bunda. Sepertinya aku lebih cocok sama baju buatan Mama."


Safir melihat harga baju yang ia pegang. Kemudian Safir juga melihat harga dua baju yang baru saja Divya letakkan. "Padahal pilihanku ini lebih mahal. Lebih mahal bukannya lebih bagus ya?" gumamnya merasa heran.


Tidaki ingin kehilangan jejak Divya, Safir segera menyusul Divya yang kini sedang memilih baju yang lainnya lagi. Untuk tidak menimbulkan pertengkaran, kini Safir akan pasrah dan memilih saja apa yang di tanyakan oleh Divya.


Sampai akhirnya, Divya sudah mendapatkan beberapa setel baju. Dan Safir pun segera membayar semuanya.


"Makan sekarang?" tanya Safir sambil mengambi alih bag paper yang Divya bawa.


"Heem. Laper banget aku."

__ADS_1


"Divya kan?"


Safir dan Divya langsung balik badan saat ada suara seorang lelaki yang memanggil Divya.


__ADS_2