
Langkah kaki Queen dan Fahmi secara bersamaan berhenti ketika mereka berpapasan dengan Divya dan Safir. Orang yang sebanarnya tidak ingin lagi Fahmi temui, justru mereka bertemu di restoran ini.
"Divya," gumam Fahmi.
'Kenapa cara bertemunya tidak tepat seperti ini sih,' protes hati Queen yang jadi kesal sendiri karena harus bertemu dengan Safir.
"Ha-hai," sapa Divya sampai tergagap. Setelah 8 tahun lamanya tidak saling bertemu, tapi kini mereka di pertemukan lagi. Rasanya Divya ingin pergi sekarang juga. Tapi mana mungkin. Apa kata Safir dan juga Queen jika dirinya melakukan hal konyol seperti itu.
"Hai, Di. Akhirnya kita bisa kembali bertemu lagi. Bagaimana kabar kamu?" pada akhirnya Fahmi lah yang memulai memutus ketegangan pertemuan tidak sengaja di antara mereka berempat. Fahmi mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah pada Divya.
"Aku baik. Kamu bagaimana?" tanya balik Divya setelah membalas sebentar jabatan tangan Fahmi.
"Aku baik juga. Fahmi," ucapnya sambil mengajak lelaki di samping Divya untuk berkenalan.
"Safir."
"Dia suami aku," ucap Divya sambil meraih lengan tangan Safir.
"Owh, jadi kamu sudah menikah. Selamat ya Di, Safir," ucap tulus Fahmi.
"Terima kasih."
"Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan Queen saat di kampus, jadi kami berniat mengobrol sebenar di sini. Kalian mau gabung sekalian? Apa kalian sudah terburu-buru untuk pulang?" tanya Fahmi untuk memastikan.
"Karena sudah tidak sengaja bertemu disini, tidak ada salahnya jika kita saling mengobrol kan? Kemana saja selama ini kamu, Fahmi?"
Flashback
__ADS_1
Dulu, saat duduk di bangku SMA, hubungan pertemanan Divya dan Fahmi memang cukup dekat. Diantara beberapa teman dekat Divya, Fahmi hanyalah satu-satunya teman lelaki Divya. Dulu, setiap kali mereka kerja kelompok, Divya mengajak teman-temannya untuk mengerjakan bersama di rumahnya termasuk dengan Fahmi. Sejak itulah Fahmi dan beberapa teman dekat Divya jadi sering datang ke rumah. Karena setiap ada tugas mandiri ataupun kelompok, mereka akan memilih mengerjakan bersama-sama di rumah Divya.
Hal itu terjadi bukan karena mereka memanfaatkan Divya yang memang anak orang berada. Tapi karena di rumah Divya ada pendopo minimalis yang begitu sangat nyaman dan bisa digunakan mereka untuk belajar bersama.
Karena sering datang ke rumah Divya, membuat semua teman Divya juga jadi mengenal kedua adik Divya. Sejak itulah perasaan seseorang di mulai dan tumbuh begitu saja.
Orang itu adalah Fahmi. Lelaki muda yang kala itu menyukai Queen saat masih kecil. Kala itu, Fahmi tidak bisa mengutarakan perasaannya pada Queen, karena saat dirinya kelas 1 SMA, sedangkan Queen masih kelas 6 SD. Akan di pandang aneh jika Fahmi nekat mengutarakan rasa sukanya. Terlebih lagi saat itu dirinya masih muda. Bisa saja cinta pada pandangan pertama itu hanyalah cinta monyet belaka.
Karena usia Queen yang tidak memadai untuk di dekati. Setiap kali Fahmi dan yang lainnya datang ke rumah, Fahmi selalu membelikan makanan yang mungkin akan di sukai Queen. Agar tidak terlau mencolok, Fahmi juga membelikan yang lainnya termasuk untuk Vian.
Sedangkan Divya, tentu merasa kagum dengan kebaikan hati Fahmi. Divya pikir, Fahmi melakukan itu karena sedang menyukai dirinya. Untuk mendapatkan perhatian lebih darinya, Fahmi selalu membelikan sedikit jajanan untuk Queen dan juga Vian. Hingga membuat Divya menahan perasaannya untuk Fahmi, selama mereka sekolah di bangku SMA.
Hingga sampailah saatnya mereka akan ujian akhir. Karena rasa penasaran dan juga merasa aneh karena tidak sekalipun Fahmi mengutarakan perasaannya, membuat Divya memberanikan diri untuk mengajak Fahmi bicara empat mata.
"Aku titip ini," ucap Fahmi sambil memberikan sebuah kotak yang terbungkus kado.
"Untuk Queen. Bukankah kemarin dia juara lari cepat? Aku ingin mengapresiasi dengan hal kecil untuk yang sudah dia capai," ucap Fahmi dengan binar senyum yang membuat wajah Fahmi terlihat semakin bercahaya.
"Kamu perhatian sekali dengan adik aku. Terima kasih ya?" ucap Divya tulus. "Ehm, aku hanya ingin tahu saja. Bukannya apa-apa. Hanya saja kamu terlalu baik dengan kami semua termasuk dengan adik-adik aku. Bukannya aku mengira kamu pamrih melakukan semuanya. Tapi pasti kamu memiliki tujuan tertentu kan, kenapa melakukan ini semua?" tanya Divya dan berharap Fahmi mengutarakan perasaan padanya.
"Apa aku boleh mengatakan hal yang jujur. Tapi ini sangat pribadi," ucap Fahmi yang nampak ragu-ragu.
"Kenapa tidak? Tujuanku sekarang memang ingin mengajakmu bicara empat mata," suara Divya bahkan terdengar semangat dan penuh harapan. Wajahnya bahkan nampak berbinar karena sudah tidak sabaran lagi mendengar untaian cinta Fahmi.
"Sebenarnya sudah sejak lama memiliki perasaan ini. Aku hanya bisa memendam semua karena menurut aku ini belum saat yang tepat untuk aku utarakan," ucapan Fahmi berhasil membuat wajah Divya jadi bersemu. "Tapi sepertinya sekarang aku tidak akan masalah mengakui semuanya sama kamu, Di."
"Ada apa?" tanya Divya yang semakin tidak sabaran.
__ADS_1
"Aku menyukai Queen sejak pertama kali aku dan teman-teman kita kamu ajak berkunjung ke rumah kamu."
Jedeeerrr ...
Seluruh tubuh Divya bagaikan di sambar petir. Bagaimana mungkin lelaki yang selama ini ia sukai ternyata menyukai adiknya sendiri. Divya jelas sakit hati karena selama ini perasaannya bertepuk sebelah tangan. Selama ini dirinya hanya jatuh cinta seorang diri saja. Jelas, Divya tidak bisa terima hal ini.
"Jadi selama ini, kamu melakukan ini dan itu. Baik sama aku karena kamu ingin mendekati Queen?" tanya Divya untuk memastikan sekali lagi.
"Kamu marah sama aku, Di?" Fahmi jelas bingung melihat reaksi wajah Divya saat ini. Kenapa Divya bisa terlihat kecewa padanya. "Aku salah apa?"
"Kamu salah karena kamu menyukai Queen," sentak Divya dengan kedua mata yang mulai berderai buliran bening.
"Apa salahnya aku menyukai Queen? Apa karena aku tidak sebanding dengan keluarga kamu, Di?"
"Bukan. Keluarga aku tidak pernah memandang status sosial seseorang. Tapi masalahnya, aku pikir selama ini kamu mentukai aku seperti aku yang menyukai kamu, Fahmi. Aku pikir selama ini kamu baik dengan kedua adikku karena kamu sedang mencari perhatianku. Tapi ternyata aku salah."
"Di, kita ini sahabat. Mana mungkin kita saling jatuh cinta. Itu hanya akan merusak hubungan persahabatan kita."
"Mungkin saja. Karena nyatanya aku yang jatuh cinta sama kamu, Fahmi."
Bregh!
"Diii ..." Pekik Fahmi karena Divya membanting kadonya untuk Queen. Fahmi segera memungut kado tersebut karena itu memang sangat khusus untuk Queen.
"Mulai sekarang, kita tidak bisa berteman lagi, Fahmi. Jangan pernah dekati Queen. Karena kalau kamu nekat, aku pastikan akan menghancurkan usaha keluargamu dan karir Papamu, saat aku sudah memiliki kuasa sendiri. Seperti kamu yang menghancurkan perasaan aku dan persahabatan kita selama ini," ancam Divya dan langsung pergi begitu saja. "Bisa-bisanya semuanya kembali ke Queen. Apapun itu pasti untuk Queen," omel Divya yang jadi kesal sendiri.
Mulai saat itu, Fahmi sudah tidak bisa berhubungan baik dengan Divya dan yang lainnya. Pertemuan mereka terakhir kali adalah saat kelulusan sekolah. Fahmi tidak bisa mengabaikan ancaman Divya begitu saja. Karena Papanya adalah salah satu pegawai di perusahaan cabang DS Group yang ada di Malang. Sedangkan saat itu, Mamanya baru memiliki beberapa usaha ketring yang saat itu sedang ramai-ramainya pemesanan.
__ADS_1
Dan hari ini, adalah kali pertemanya bagi Divya dan Fahmi saling bertemu lagi. Duduk satu meja untuk saling berbincang setelah sekian lama.