Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 156 Ruang Perawatan


__ADS_3

Tok tok tok


Jam sudah meunjukkan pukul 04.00 WIB Tapi sudah sejak jam setengah 3 tadi, Queen sudah terbangun. Padahal Queen semalam kesulitan untuk tidur. Karena perasaannya yang memang tidak enak secara tiba-tiba. Sekarang, baru saja Queen keluar dari kamar mandi setelah mengsucikan dirinya ulang, Queen harus mendekati pintu karena ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar sana.


Klek!


"Oma," tidak biasanya Nissa membangunkan dirinya seperti ini. Dan sekarang Queen terkejut karena kedua mata Nissa nampak memerah. Terlihat jelas kalau Nissa baru saja usai menangis. "Oma kenapa?"


"Tidak apa-apa," Nissa berusaha tersenyum meski hatinya sedang terasa sakit dan juga panik. "Pagi ini kita pergi ke Semarang. Izin kuliah saja dulu untuk beberapa hari kedepan. Kak Di ingin sekali Queen datang kesana," ucap Nissa kemudian tersenyum kecil. Sebisa mungkin NIssa menyembunyikan ketakutan hatinya.


Seharusnya saat ini Queen senang karena pada akhirnya Divya memitanya untuk datang. Tapi kenapa, hati Queen merasakan hal lain. Seolah bukan ini yang Queen inginkan.

__ADS_1


"Ada apa Oma? Baru kemarin malam Queen dan Kak Di saling bicara. Tapi Kak Di masih ingin menenangkan diri dan bilang belum ingin bertemu dengan siapapun. Kenapa sekarang tiba-tiba?"


"Oma juga tidak tahu. Yang penting sekarang kita datang saja ke Semarang. Bersiaplah, Queen. Jam 6 pagi kita pergi ke bandara."


Setelah mengusap lengan tangan Queen, Nissa segera beranjak dari sana dan segera kembali ke kamar. Ia melihat Yusuf yang duduk di tepi ranjang sambil menunduk dalam. Mereka berdua syok berat. Tidur mereka harus terusik karena mereka menerima panggilan suara dari Reina. Mengabarkan keadaan Divya saat ini.


"Ayy," panggi Nissa sambil menyentuh pundak Yusuf. "Ayy sehatkan?" tanya Nissa karena takut kalau Yusuf jadi jatuh sakit lagi.


"Pikiranku enggak enak, sayang. Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Yusuf yang sedang menerka. Karena Reina belum memberikan kabar sepenuhnya tentang kronologi kejadan penyebabnya.


Tidak ada canda tawa seperti biasanya. Obrolan kecilpun tidak ada. Bahkan semuanya tidak ada yang sarapan sebelum mereka menuju bandara, kecuali si kembar 3. Keadaan inilah yang membuat pikiran Queen semakin tidak enak.

__ADS_1


Sepanjang penerbangan, Queen terus menunduk dan juga berdoa. Pikirannya sungguh kalut karena melihat keadaan Nissa dan Yusuf yang terlihat begitu sendu. Sampai beberapa jam kemudiam. Setelah melalui penerbangan dan harus menumpangi mobil, kini mereka sudah sampai loby rumah sakit.


"Kenapa kita kesini, Oma?" tanya Queen saat akan keluar dari mobil. Sedangkan di loby, sudah ada Vian yang sepertinya memang sudah menunggu kedatangan mereka.


Vian bahkan tadi meminta izin pada pihak rumah sakit agar mengizinkan keluarganya menjenguk secara bersama-sama.


"Kak Di memang ada disini. Ayo kita keluar sekarang," ajak Nissa. Dirinya saja sudah penasaran dengan keadaan Divya.


Bahkan belum bertemu Divya saja, kedua mata Queen sudah mulai terasa perih. Kenapa rasanya Queen menjadi tidak siap saat bertemu dengan Divya nantinya.


Klek!

__ADS_1


Semua orang langsung memasuki ruang perawatan. Karena setelah pembicaraan panjang lebar, dengan dokter. Bahkan Reina juga sampai membujuk Divya secara baik-baik. Tapi pada akhirnya Reina dan Hendri setuju dengan permintaan Divya yang ingin pindah ke ruang perawatan.


"Kakak ..."


__ADS_2